Serang

Refleksi 500 Tahun Kabupaten Serang Memanas, Bentrokan Aktivis dan Aparat, Jurnalis Ikut Terluka

×

Refleksi 500 Tahun Kabupaten Serang Memanas, Bentrokan Aktivis dan Aparat, Jurnalis Ikut Terluka

Sebarkan artikel ini
Bentrokan mewarnai aksi refleksi 500 tahun Kabupaten Serang di depan Pendopo Bupati Serang, Kamis malam (8/10/2026). Sejumlah aktivis dan seorang jurnalis dilaporkan mengalami luka-luka.
Bentrokan mewarnai aksi refleksi 500 tahun Kabupaten Serang di depan Pendopo Bupati Serang, Kamis malam (8/10/2026). Sejumlah aktivis dan seorang jurnalis dilaporkan mengalami luka-luka.

KILAS BANTEN – Peringatan 500 tahun Kabupaten Serang diwarnai ketegangan setelah aksi refleksi yang digelar Himpunan Mahasiswa Serang (HAMAS) berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan aparat.

Insiden tersebut terjadi di depan Pendopo Bupati Serang, Kamis (8/10/2026) malam. Sejumlah aktivis dan seorang jurnalis media daring dilaporkan mengalami luka-luka.

Berdasarkan pantauan di lokasi, massa aksi masih bertahan di depan pendopo hingga pukul 18.15 WIB. Para peserta menyalakan lilin sebagai simbol keprihatinan terhadap berbagai persoalan masyarakat yang mereka nilai belum terselesaikan, meskipun Kabupaten Serang telah memasuki usia lima abad.

Situasi kemudian memanas ketika sejumlah demonstran membakar atribut aksi dan mencorat-coret lantai pendopo. Aparat berusaha memadamkan api. Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari sebagian massa hingga memicu bentrokan fisik.

Aparat selanjutnya berusaha mengeluarkan demonstran dari halaman pendopo. Sejumlah aktivis yang menolak mundur dilaporkan mengalami kekerasan. Beberapa petugas sempat mencoba melerai dan meredakan ketegangan, tetapi bentrokan telanjur terjadi.

Situasi di sekitar Pendopo Bupati Serang baru berangsur kondusif sekitar pukul 21.31 WIB.

Di tengah insiden tersebut, HAMAS menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan peringatan hari jadi Kabupaten Serang. Organisasi mahasiswa itu menilai momentum lima abad seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi pembangunan dan menjawab persoalan masyarakat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat HAMAS, Irhamullah, mengatakan organisasinya memilih tidak menghadiri saresehan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Serang.

Menurutnya, forum yang disebut sebagai ruang penyerapan aspirasi tersebut belum tentu mampu menyelesaikan persoalan mendasar warga.

“Dalam kondisi yang sangat sulit ini, ketika mengagendakan saresehan, lebih baik alokasi tersebut digunakan untuk kegiatan lainnya yang jelas manfaatnya terhadap masyarakat Kabupaten Serang,” kata Irhamullah.

Ia juga menilai Kabupaten Serang masih menghadapi tantangan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan.

“Di usia yang ke-500 tahun ini, atau lima abad, Kabupaten Serang masih sangat tertinggal jauh dari kabupaten/kota yang lainnya,” ujarnya.

Baca Juga  ASN Pemkab Serang Tumpah Ruah, Lomba HUT ke-81 RI Berlangsung Meriah, Perkuat Kekompakan dan Sinergi Antar-OPD

Irhamullah meminta pemerintah daerah turun langsung melihat kondisi masyarakat, terutama warga yang tinggal di wilayah terpencil. Ia menekankan bahwa mahasiswa perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan kritik dan aspirasi secara terbuka serta substantif.

HAMAS juga mempertanyakan prioritas anggaran untuk kegiatan saresehan. Irhamullah mengaku belum mengetahui secara pasti jumlah dana yang dialokasikan. Meski demikian, ia meminta pemerintah memastikan setiap belanja daerah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia secara khusus menyoroti kondisi warga di Pulau Tunda, Pulau Panjang, dan Pulau Sangiang.

Menurutnya, pemerintah perlu memperhatikan pemenuhan hak dasar masyarakat, termasuk kebutuhan terkait administrasi kependudukan.

“Lebih baik anggaran itu dialokasikan untuk masyarakat di wilayah terpencil, seperti Pulau Tunda, Pulau Panjang ataupun Pulau Sangiang. Hari ini masyarakat juga harus dipenuhi haknya oleh Pemerintah Kabupaten Serang,” katanya.

HAMAS berharap peringatan 500 tahun Kabupaten Serang tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Organisasi tersebut meminta pemerintah menjadikan momentum ini sebagai kesempatan mengevaluasi hasil pembangunan dan memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat hingga wilayah terpencil.

“Jangan sampai di usia lima abad ini masyarakat hanya melihat kegiatan-kegiatan seremonial, sementara persoalan masyarakat masih belum terselesaikan,” pungkas Irhamullah.

Bentrokan di depan pendopo dan kritik yang disampaikan HAMAS menyoroti pentingnya ruang penyampaian aspirasi yang aman dan terbuka. Pemerintah daerah juga menghadapi tuntutan agar peringatan hari jadi Kabupaten Serang diikuti langkah nyata untuk menjawab kebutuhan warga.

Hingga informasi dalam laporan ini disusun, belum terdapat keterangan lebih lanjut mengenai identitas seluruh korban, tingkat luka yang dialami, maupun tanggapan resmi pemerintah daerah dan aparat terkait insiden tersebut.

Catatan editorial: Informasi mengenai korban, kronologi bentrokan, dan keterangan pihak terkait perlu dikonfirmasi kembali sebelum publikasi. Pernyataan bahwa Kabupaten Serang tertinggal merupakan penilaian Irhamullah, sehingga tetap diatribusikan kepadanya.***