Serang

Ribuan Jamaah Larut dalam Doa Akbar, Maulid Nabi di Al Fathaniyah Jadi Harapan Terakhir bagi 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

×

Ribuan Jamaah Larut dalam Doa Akbar, Maulid Nabi di Al Fathaniyah Jadi Harapan Terakhir bagi 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Sebarkan artikel ini
Ribuan jamaah memanjatkan doa bersama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al Fathaniyah, Kota Serang, sebagai bentuk solidaritas bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih hilang di Perairan Selat Sunda, Jumat, 11 September 2026
Ribuan jamaah memanjatkan doa bersama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al Fathaniyah, Kota Serang, sebagai bentuk solidaritas bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih hilang di Perairan Selat Sunda, Jumat, 11 September 2026

KILAS BANTEN – Suasana khidmat menyelimuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Al Fathaniyah, Tengkele, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang. Ribuan jamaah yang memenuhi lokasi tidak hanya mengikuti rangkaian peringatan kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga larut dalam doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini masih dinyatakan hilang di Perairan Selat Sunda.

Momentum keagamaan tersebut berkembang menjadi wujud kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Seluruh jamaah mengangkat tangan memohon kepada Allah SWT agar proses pencarian segera membuahkan hasil serta seluruh korban dapat ditemukan dalam keadaan terbaik.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Fathaniyah, KH Matin Syarkowi, mengatakan musibah yang menimpa para jurnalis dan kru kapal merupakan duka bersama yang membutuhkan perhatian seluruh masyarakat.

Menurutnya, bulan Maulid menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak doa sekaligus memperkuat rasa empati terhadap sesama.

“Semoga dengan doa kita bersama, saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan tugas peliputan dapat segera ditemukan. Mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan dan perlindungan kepada mereka,” ujar KH Matin Syarkowi, Sabtu, 12 September 2026.

KH Matin mengungkapkan informasi yang diterimanya menyebutkan lima jurnalis bersama tiga kru kapal masih belum ditemukan setelah dilaporkan hilang kontak di wilayah Perairan Selat Sunda.

Doa yang dipanjatkan ribuan jamaah juga ditujukan bagi keluarga korban agar diberikan kesabaran dan ketabahan. Selain itu, mereka turut mendoakan seluruh personel tim pencarian yang masih bekerja di lapangan agar diberi keselamatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas.

Dalam tausiah yang disampaikan di hadapan jamaah, KH Matin mengajak umat Islam memaknai Maulid Nabi tidak sebatas sebagai peringatan tahunan. Menurutnya, peringatan kelahiran Rasulullah SAW harus menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat.

Ia menceritakan tradisi penyambutan kelahiran Rasulullah yang sarat dengan nilai syukur, sedekah, kebersamaan, dan semangat berbagi kepada sesama. KH Matin juga mengutip karya al-Maghfullah Syekh KH Fakhri Aslam dari Astana Lempuyang, Tanara, yang menulis nadzam mengenai kemuliaan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, pesan yang terkandung dalam tradisi tersebut tetap relevan diterapkan pada masa kini. Maulid Nabi harus menjadi pengingat pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah, memperbanyak amal kebaikan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

KH Matin menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, umat Islam dituntut mengedepankan kasih sayang, persaudaraan, serta sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga  Bikers Pesantren Al-Fathaniyah Serbu Jalanan Kota Serang Saat Sahur, Pemudik hingga Tukang Becak Kebanjiran Bantuan

Ia menjelaskan Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam keberagaman suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit agar saling mengenal, bekerja sama, serta membangun persatuan. Mengutip makna Surah Al-Hujurat, KH Matin mengatakan perbedaan merupakan karunia yang harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Dengan saling mengenal, manusia dapat saling membantu, bekerja sama, dan hidup berdampingan. Tidak ada alasan untuk membenci hanya karena perbedaan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, KH Matin juga mengingatkan pentingnya memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai konteksnya. Ia menilai ayat yang berbicara mengenai peperangan tidak boleh dipahami secara terpisah hingga dijadikan alasan menyebarkan kebencian maupun permusuhan di tengah situasi damai.

Menurutnya, tujuan utama syariat Islam adalah menghadirkan kemaslahatan, keamanan, dan kedamaian bagi seluruh umat manusia. Karena itu, agama tidak boleh dijadikan alat provokasi yang berpotensi merusak persatuan bangsa.

“Kalau dalam situasi damai justru mengajak kepada permusuhan dan pertumpahan darah, saya yakin itu bukan ajaran agama. Semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian,” tegasnya.

Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Al Fathaniyah turut dihadiri ulama, tokoh masyarakat, serta pemuka lintas agama. Kehadiran romo dan pendeta mendapat apresiasi dari KH Matin sebagai simbol kuatnya toleransi dan kerukunan yang terus dijaga di Kota Serang.

Ia menjelaskan kehadiran tokoh lintas agama dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk silaturahmi dan penghormatan antarsesama warga negara, bukan bagian dari pelaksanaan ibadah agama lain.

Menjelang penutupan acara, KH Matin kembali mengajak seluruh jamaah memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa, keberkahan bulan Maulid, serta kekuatan bagi para pemimpin Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan.

Doa khusus kembali dipersembahkan bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang masih hilang di Perairan Selat Sunda. Ribuan jamaah berharap proses pencarian segera membuahkan hasil sehingga keluarga korban memperoleh kepastian dan ketenangan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Al Fathaniyah akhirnya ditutup dengan doa bersama serta ungkapan terima kasih kepada seluruh ulama, guru, tokoh masyarakat, dan pemuka lintas agama yang hadir memperkuat semangat persaudaraan, kemanusiaan, dan persatuan bangsa.***