KILAS BANTEN – Nama besar KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kini resmi diabadikan sebagai ikon sebuah masjid di kawasan bersejarah Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Peresmian Masjid Gus Dur bukan sekadar menandai hadirnya rumah ibadah baru, tetapi juga menjadi simbol pelestarian nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan pemikiran Islam yang inklusif yang selama ini diwariskan Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.
Masjid yang berada di kawasan wisata religi Situ Panjalu itu diharapkan berkembang menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga ruang lahirnya generasi Muslim yang mampu menjawab tantangan zaman melalui pemikiran Islam yang progresif.
Peresmian penggunaan nama Masjid Gus Dur berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026 kemarin, bertepatan dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan itu dihadiri tokoh agama, unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, serta perwakilan Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian yang diwakili Koordinator GUSDURian Bandung, Jamiludin.
Pemilihan nama tersebut memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan kawasan Situ Panjalu. Sejak 1999, Gus Dur beberapa kali mengunjungi lokasi yang dikenal sebagai salah satu pusat wisata religi di Jawa Barat itu. Dalam kunjungan tersebut, ia menyampaikan gagasan agar dibangun sebuah masjid untuk melengkapi kebutuhan masyarakat dan para peziarah.
Komitmen itu kemudian diwujudkan saat Gus Dur menjabat Presiden RI. Pada 5 Juli 2000, ia kembali mengunjungi Nusa Gede di Situ Lengkong Panjalu dan menandatangani prasasti pembangunan masjid sebagai tanda dukungan terhadap rencana tersebut.
Pembangunan masjid juga memiliki nilai historis yang kuat. Panjalu dikenal sebagai salah satu pusat awal penyebaran Islam di wilayah Priangan Timur. Tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah Prabu Sanghyang Borosngora atau Syekh Abdul Iman, yang lebih dikenal sebagai Syekh Panjalu.
Hingga sekarang, makam Syekh Panjalu di Pulau Nusa Gede menjadi salah satu tujuan utama ribuan peziarah dari berbagai daerah. Karena itu, keberadaan masjid dinilai sangat penting untuk memberikan fasilitas ibadah sekaligus tempat beristirahat bagi para pengunjung.
Perjalanan pembangunan masjid berlangsung cukup panjang. Panitia sempat menghadapi berbagai kendala, terutama terkait pembiayaan. Namun, semangat gotong royong masyarakat serta dukungan berbagai pihak membuat pembangunan akhirnya dapat diselesaikan.
Menjelang peresmian pada 2026, Yayasan Masjid Raya Situ Panjalu (YMRSP) bersama panitia bersilaturahmi kepada Sinta Nuriyah Wahid untuk meminta pandangan mengenai nama masjid. Sinta memberikan dua pilihan, yakni Masjid Abdurrahman Wahid dan Masjid Gus Dur.
Setelah melalui musyawarah, yayasan akhirnya menetapkan nama Masjid Gus Dur karena dinilai lebih dekat dengan masyarakat dan telah melekat sebagai identitas sosok KH Abdurrahman Wahid.
Peresmian ditandai dengan pemukulan rebana oleh sesepuh yayasan Dr. H. Uce K. Sugand bersama Ketua MUI, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, Camat, Danramil, Kapolsek, Kepala Desa, serta Jamiludin mewakili Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pembacaan Kitab Al-Barzanji, sambutan tokoh, tausiah, dan doa bersama.
Dalam sambutannya, Dr. H. Uce K. Sugand menjelaskan bahwa nama resmi secara administratif tetap menggunakan Masjid Raya Situ Panjalu. Adapun penyebutan Masjid Gus Dur menjadi nama ikonik yang akan dikenal masyarakat luas.
Menurutnya, penamaan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan Gus Dur yang selama hidupnya konsisten memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan, persaudaraan, penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian budaya, hingga kesejahteraan masyarakat.
Ia juga memaparkan enam arah pengembangan masjid. Program tersebut mencakup penguatan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan dan keilmuan, pemberdayaan sosial, pengembangan ekonomi umat, pelestarian lingkungan hijau, serta pusat sejarah, budaya, dan ekowisata religi.
Sementara itu, mubalig KH Hilmi Muhammad mengingatkan pentingnya dakwah bil hal, yaitu menyampaikan ajaran Islam melalui keteladanan. Ketua MUI Kota Tasikmalaya itu menilai masyarakat akan lebih mudah menerima nilai-nilai agama apabila melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap penggunaan nama Masjid Gus Dur dapat mendorong masyarakat meneladani sikap, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur sebagai ulama, intelektual, sekaligus tokoh kemanusiaan.
Harapan serupa disampaikan Koordinator Gusdurian Bandung yang mewakili Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian, Jamiludin.
“Kami berharap Masjid Gus Dur bukan hanya menjadi tempat ritual ibadah dan dakwah semata, tetapi juga menjadi pusat edukasi yang inklusif, pusat pemberdayaan ekonomi umat, tempat memperkuat ukhuwah, menanamkan nilai kemanusiaan, serta melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu menghadirkan pemikiran Islam yang progresif untuk menjawab tantangan zaman,” ujar Jamiludin, Senin (14/9/2026).
Dengan semangat tersebut, Masjid Gus Dur di Situ Panjalu diharapkan berkembang menjadi pusat lahirnya gagasan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta gerakan sosial yang memperkuat Islam moderat, inklusif, dan relevan dengan perkembangan masyarakat Indonesia di masa depan.***






