Harlah NU ke-103 di Banten, Prof Muhammad Ishom Tegaskan Kekompakan NU Kunci Indonesia Emas 2045

Kilas Banten
8 Jan 2026 19:33
Banten 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten menggelar istighotsah dan doa bersama dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-103 Nahdlatul Ulama. Agenda ini menjadi momentum refleksi perjalanan panjang NU sekaligus ikhtiar spiritual untuk keselamatan bangsa dan penguatan peran NU dalam mendukung Indonesia maju.

 

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor PWNU Banten, Kamis, 8 Januari 2026. Suasana khidmat menyelimuti acara yang dihadiri pengurus NU, para kiai, akademisi, dan jamaah. Doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk munajat kolektif untuk bangsa di tengah berbagai tantangan. Tema yang diusung adalah Meneguhkan Khidmah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama melalui Istighotsah untuk Banten dan Indonesia Maju.

 

Peringatan Harlah NU ke-103 ini juga menjadi ruang penyampaian gagasan strategis. Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menegaskan pentingnya menjaga kekompakan warga NU sebagai fondasi utama kekuatan organisasi.

 

Prof Ishom menilai, dinamika dan perbedaan pandangan yang muncul di internal NU tidak boleh melemahkan semangat kebersamaan. Ia mengingatkan agar warga NU tidak mudah pesimis meskipun ada pihak yang memandang sebelah mata NU akibat konflik dan isu yang berkembang.

 

“Warga NU harus tetap kompak. Jangan pesimis meskipun ada yang meremehkan NU. Organisasi ini sudah teruji oleh sejarah dan punya pengalaman panjang dalam menyelesaikan konflik,” ujar Prof Ishom.

 

Menurutnya, kekuatan utama NU berada di tingkat akar rumput. Selama jamaah tetap bersatu dan menjadikan kiai sebagai rujukan, NU akan terus berdiri kokoh menghadapi perubahan zaman.

 

“Yang penting basis NU di bawah tetap solid. Ikut kiai. Insyaallah selamat dunia dan akhirat,” katanya.

 

Prof Ishom juga menyoroti peran strategis NU dalam agenda besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Ia menyebut NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar memiliki kontribusi signifikan dalam menyukseskan visi tersebut.

 

“Ketika pemerintah mencanangkan Indonesia Emas 2045, mayoritas yang diproyeksikan di dalamnya adalah warga NU,” ujarnya.

 

Ia menilai, karena sasaran utama program pemerintah juga menyentuh basis NU, maka hubungan baik antara NU dan pemerintah harus terus dijaga. Sinergi yang konstruktif dinilai penting agar kebijakan pembangunan berjalan efektif dan menyentuh kebutuhan masyarakat.

 

“Hubungan NU dan pemerintah harus dirawat. Program pemerintah juga menyasar warga NU, termasuk peningkatan kualitas gizi dan kesejahteraan,” kata Prof Ishom.

 

Selain soal kekompakan dan sinergi, Prof Ishom menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan NU. Ia mendorong warga NU untuk mempercayakan pendidikan anak-anaknya pada lembaga pendidikan yang dimiliki NU.

 

“Pendidikan harus terus ditingkatkan. Akan lebih baik jika warga NU membesarkan lembaga pendidikan NU sendiri. Ma’arif memiliki jaringan pendidikan yang sangat luas dan tersebar di seluruh pelosok negeri,” ujarnya.

 

Ia juga menyoroti perkembangan perguruan tinggi NU yang terus tumbuh dan berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia unggul. Menurutnya, perguruan tinggi NU memiliki posisi strategis dalam menghadapi tantangan global.

 

“Perguruan tinggi NU sudah sangat banyak. Termasuk UIN SMH Banten. Saat ini, banyak pimpinan UIN SMH Banten juga berasal dari NU,” tambahnya.

 

Peringatan Harlah ke-103 NU di Banten ini tidak hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga ruang konsolidasi pemikiran dan arah gerak organisasi. NU ditegaskan harus tetap solid, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi bangsa.

 

Melalui istighotsah dan refleksi kebangsaan ini, PWNU Banten meneguhkan komitmen menjaga tradisi, memperkuat pendidikan, serta mengokohkan peran NU sebagai pilar umat dan mitra strategis negara dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.