Sejarah Kampung Pakojan di Kota Tangerang, Berawal dari Misi Dakwah Haji Emen hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam

Kilas Banten
4 Jul 2026 18:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Kampung Pakojan di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, menyimpan sejarah panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat. Di balik nama yang masih bertahan hingga kini, terdapat kisah perjuangan seorang ulama bernama KH Usman atau yang lebih dikenal sebagai Haji Emen. Sosok ini dipercaya sebagai tokoh yang membuka permukiman sekaligus menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.

 

Kini Kampung Pakojan berada di kawasan strategis yang diapit dua kota mandiri, Modernland Tangerang dan Alam Sutera. Namun, sebelum berkembang menjadi kawasan perkotaan yang padat, daerah ini merupakan bagian dari wilayah Cipete di Kecamatan Pinang. Bahkan, sebagian warga masih mengenalnya dengan sebutan Cipete Pakojan.

 

Dalam buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang karya Burhanudin dijelaskan bahwa nama Kampung Pakojan berasal dari gagasan Haji Emen. Ia merupakan penduduk pertama yang menetap sekaligus menjadi tokoh penting dalam membangun kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.

 

Penamaan Pakojan bukan dilakukan tanpa alasan. Haji Emen mengambil inspirasi dari kawasan Pakojan di Jakarta Barat. Sebelum kembali ke Tangerang, ia pernah menimba ilmu agama di daerah tersebut. Pengalaman itu kemudian mendorongnya untuk membangun kampung dengan semangat yang sama, yakni menjadi pusat pembelajaran Islam.

 

Burhanudin menuliskan, “Yang menamakan Kampung Pakojan adalah Haji Emen. Sebelum berdakwah di kampung ini dulu memang belajarnya di Pakojan Jakarta. Dulunya diharapkan biar jadi pusat pembinaan agama. Tidak hanya pemberi nama, Haji Emen juga pendiri masjid pertama yang masih ada sampai sekarang termasuk makamnya di depan mimbar masjid yang terkenal dengan Kramat Pakojan.”

 

Keinginan Haji Emen tidak berhenti pada pemberian nama kampung. Ia juga membangun masjid pertama di kawasan tersebut sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama. Hingga sekarang, masjid itu masih berdiri dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah di Kota Tangerang.

 

Di area depan mimbar masjid juga terdapat makam Haji Emen. Masyarakat mengenalnya sebagai Kramat Pakojan. Lokasi tersebut masih sering dikunjungi sebagai bagian dari jejak sejarah perkembangan Islam di wilayah Pinang.

 

Menurut Burhanudin, istilah “Pakojan” memiliki akar sejarah yang lebih panjang. Nama itu berasal dari bahasa India, yakni kojal choja, yang berarti orang Muslim. Istilah tersebut kemudian melekat pada kawasan Pakojan di Jakarta Barat yang pada masa kolonial dikenal sebagai permukiman masyarakat Arab.

 

Selain menjadi kawasan perdagangan, Pakojan Jakarta juga berkembang sebagai pusat kegiatan keagamaan hingga akhir abad ke-19. Kondisi itu membuat banyak warga dari Tangerang datang ke sana untuk berdagang sekaligus memperdalam ilmu agama.

 

Hubungan antara masyarakat Kampung Pakojan Tangerang dengan kawasan Pakojan Jakarta pun terjalin cukup erat. Banyak warga mengikuti jejak Haji Emen dengan belajar agama di kawasan tersebut sebelum kembali mengajarkannya kepada masyarakat di kampung halaman.

 

Burhanudin juga mencatat harapan besar Haji Emen terhadap kampung yang dibangunnya.

 

“Orang kampung sini pada dagang ke Pakojan Jakarta dan belajar agama di sana. Makanya, Haji Emen ingin dan berharap daerahnya berkembang seperti Pakojan di Jakarta. Di samping itu memang orang sini dulu semuanya belajarnya ke Haji Emen,” tulisnya, Sabtu, 4 Juli 2026.

 

Seiring pesatnya pembangunan Kota Tangerang, Kampung Pakojan kini telah menjadi salah satu kelurahan di Kecamatan Pinang. Wilayah ini berbatasan dengan Kelurahan Kunciran di sebelah timur, Kelurahan Cikokol di sebelah barat, Kelurahan Panunggangan di sisi selatan, dan Kelurahan Poris Plawad di bagian utara.

 

Meski wajah kawasan terus berubah mengikuti perkembangan kota, sejarah Kampung Pakojan tetap menjadi bagian penting dari identitas Kota Tangerang. Perjuangan Haji Emen membuktikan bahwa sebuah nama kampung tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga menjadi simbol perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan warisan sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat hingga sekarang.***