Di beberapa titik, seperti area sekitar rumah pemotongan hewan dan fasilitas pengisian elpiji, air masih terlihat mengalir. Namun, sumbernya bukan dari aliran alami. Air tersebut berasal dari limbah domestik dan drainase jalan. Bau tidak sedap tercium. Aliran air mengalir sempit dan terbatas sebelum akhirnya mengikuti jalur sempit di antara rel kereta dan jalan tol.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Indra (53), warga yang tinggal di sekitar Pintu Air Nuri, menjadi salah satu saksi perubahan tersebut. Ia menyebut aliran Kali Ciputat kecil mulai mati setelah proyek rehabilitasi pintu air dan pembangunan tanggul pada 2024.
“Dulu airnya jernih. Bisa dipakai mandi, nyuci, bahkan cari ikan. Sekarang sudah beda jauh,” kata Indra, Senin, 4 Mei 2026.
Ia mengenang masa ketika sungai itu menjadi bagian penting kehidupan warga. Pada era 1980 hingga 1990-an, sungai tersebut menjadi tempat aktivitas sehari-hari. Warga memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga hingga mengairi sawah.
“Alirannya dari sini sampai ke Pondok Jaya. Dulu dipakai buat sawah. Airnya bagus dan mengalir terus,” ujarnya.
Indra berharap kondisi sungai dapat dipulihkan. Ia ingin aliran air kembali normal seperti dulu. “Yang penting hidup lagi. Dirapikan,” katanya.
Perubahan aliran Kali Ciputat diduga memberi dampak langsung ke wilayah hilir. Salah satu kawasan terdampak adalah Komplek Taman Mangu Indah. Di lokasi ini, sungai membelah wilayah permukiman di Kelurahan Jurang Mangu Barat dan Pondok Aren.
Kondisi sosial di kawasan tersebut mulai berubah. Di RW 12, puluhan rumah terlihat dipasangi tanda dijual. Tercatat sekitar 38 rumah ditawarkan ke pasar. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran warga terhadap kondisi lingkungan.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















