KILAS BANTEN – Dunia kekuasaan itu berisik,
riuh oleh tepuk tangan,
lebih riuh lagi oleh bisik-bisik yang tak pernah selesai.
Semua mata memandang
dengan pengharapan yang menggantung di langit.
Harapan adalah keniscayaan,
sebab setiap pemimpin lahir dari mimpi banyak orang.
Namun di antara tatapan itu,
ada mata yang menyala oleh kebencian,
menghakimi sebelum memahami,
menolak sebelum mendengar.
Telinga yang semestinya menjadi pintu kebijaksanaan
sering hanya dipasang untuk menguping gosip,
bukan menyimak kritik yang membangun,
bukan menerima masukan yang menumbuhkan,
bukan mendengar kebenaran yang mungkin pahit.
Jari-jari pun berlomba menari,
bukan menulis gagasan,
melainkan menebar fitnah,
mengukir kebohongan,
dan menanam kebencian di ladang media.
Kata-kata kehilangan nurani,
fakta dikalahkan prasangka,
dan suara yang paling nyaring
sering dianggap sebagai kebenaran.
Lalu aku bertanya,
apa yang salah dengan demokrasi kita?
Ataukah yang keliru
bukan demokrasinya,
melainkan cara kita merawatnya?
Sebab demokrasi bukan sekadar hak untuk berbicara,
tetapi juga kewajiban untuk mendengar.
Bukan sekadar kebebasan berpendapat,
tetapi keberanian menghormati perbedaan.
Bukan sekadar memilih pemimpin,
tetapi juga memilih kejujuran
di atas kebencian,
akal sehat di atas hasutan,
dan persatuan di atas kemenangan sesaat.
Barangkali,
ketika telinga kembali mendengar dengan bijak,
mata kembali memandang dengan adil,
dan jari-jari kembali menulis dengan hati,
dunia kekuasaan tak lagi sekadar berisik—
melainkan menjadi ruang pengabdian,
tempat harapan bertumbuh,
dan demokrasi menemukan kembali martabatnya.
*) Puisi ini ditulis oleh Ahmad Muhibbin merupakan Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.

