Opini

Memimpin dengan Hati Tapi Tetap Dibenci

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang Ahmad Muhibbin saat memberikan keterangan terkait wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang Ahmad Muhibbin saat memberikan keterangan terkait wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

KILAS BANTEN – Dunia kekuasaan itu berisik,

riuh oleh tepuk tangan,

lebih riuh lagi oleh bisik-bisik yang tak pernah selesai.

Semua mata memandang

dengan pengharapan yang menggantung di langit.

Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Harapan adalah keniscayaan,

sebab setiap pemimpin lahir dari mimpi banyak orang.

Namun di antara tatapan itu,

ada mata yang menyala oleh kebencian,

menghakimi sebelum memahami,

Apresiasi Kinerja Budi-Agis: Lompatan Progresif Kota Serang di Mata Mahasiswa

menolak sebelum mendengar.

Telinga yang semestinya menjadi pintu kebijaksanaan

sering hanya dipasang untuk menguping gosip,

bukan menyimak kritik yang membangun,

bukan menerima masukan yang menumbuhkan,

Tujuh Sahabat Berpengaruh dalam Hijrah Rasulullah SAW

bukan mendengar kebenaran yang mungkin pahit.

Jari-jari pun berlomba menari,

bukan menulis gagasan,

melainkan menebar fitnah,

mengukir kebohongan,

dan menanam kebencian di ladang media.

Kata-kata kehilangan nurani,

fakta dikalahkan prasangka,

dan suara yang paling nyaring

sering dianggap sebagai kebenaran.

Lalu aku bertanya,

apa yang salah dengan demokrasi kita?

Ataukah yang keliru

bukan demokrasinya,

melainkan cara kita merawatnya?

Sebab demokrasi bukan sekadar hak untuk berbicara,

tetapi juga kewajiban untuk mendengar.

Bukan sekadar kebebasan berpendapat,

tetapi keberanian menghormati perbedaan.

Bukan sekadar memilih pemimpin,

tetapi juga memilih kejujuran

di atas kebencian,

akal sehat di atas hasutan,

dan persatuan di atas kemenangan sesaat.

Barangkali,

ketika telinga kembali mendengar dengan bijak,

mata kembali memandang dengan adil,

dan jari-jari kembali menulis dengan hati,

dunia kekuasaan tak lagi sekadar berisik—

melainkan menjadi ruang pengabdian,

tempat harapan bertumbuh,

dan demokrasi menemukan kembali martabatnya.

*) Puisi ini ditulis oleh Ahmad Muhibbin merupakan Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang.

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.

× Advertisement
× Advertisement