BNN Banten menggagalkan peredaran sabu menjelang Natal dan Tahun Baru 2026. Dua kurir ditangkap saat membawa empat kilogram sabu untuk diedarkan di wilayah Banten dan Tangerang. Para tersangka dijanjikan bayaran hingga puluhan juta rupiah. BNN memperketat pengawasan melalui tes urin bagi sopir, pilot, ABK, dan pramugari.KILAS BANTEN – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten kembali menggagalkan upaya peredaran sabu dalam jumlah besar menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2026. Dua pria berinisial DH alias DR dan MR ditangkap saat menjalankan tugas sebagai kurir dan pemantau pengiriman barang haram tersebut. Penindakan ini menjadi peringatan keras bahwa jaringan narkoba terus memanfaatkan momen liburan untuk memperluas operasi mereka.
Kepala BNN Banten, Brigjen Pol Rohmad Nursahid, memaparkan peran dari masing-masing tersangka. Ia menjelaskan bahwa DH berperan sebagai kurir utama yang bertugas mengantarkan sabu sesuai perintah pembeli.
Sementara MR bertugas mengawasi pergerakan kurir dan memastikan pengiriman berjalan aman. Keduanya direkrut oleh pihak berbeda dan tidak saling mengenal sebelum operasi berlangsung.
“DH adalah kurir yang diperintah oleh pembeli, sedangkan MR menjalankan tugas dari pihak penjual. Mereka awalnya tidak kenal, hanya ditempatkan berdekatan saat menjalankan tugas,” ujar Rohmad, Kamis, 11 Desember 2025.
Penyidik menduga sabu tersebut disiapkan untuk diedarkan di wilayah Banten, terutama Tangerang. Kawasan ini dinilai strategis karena berbatasan langsung dengan Jakarta dan mengalami lonjakan mobilitas masyarakat menjelang Nataru. Kondisi itu sering dimanfaatkan jaringan narkoba untuk mendorong pasokan ke wilayah padat aktivitas.
“Kemungkinan besar peredarannya untuk menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru,” tutur Rohmad.
BNN juga mengungkapkan imbalan besar yang dijanjikan kepada para kurir. DH menerima bayaran paling tinggi, yakni sekitar Rp15 juta per kilogram. Dengan membawa empat kilogram sabu, DH dijanjikan lebih dari Rp60 juta jika bisa menyelesaikan pengiriman. Sementara MR mendapat bayaran Rp3 juta per kilogram, atau sekitar Rp12 juta secara keseluruhan.
“Semua bayaran ini bersifat kalau berhasil. Mereka sudah dijanjikan nominal per kilogram sebelum menjalankan tugas,” kata Rohmad.
Ia menambahkan, operasi narkoba biasanya meningkat pada masa libur panjang, sehingga aparat dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Untuk itu, BNN Banten telah menyiapkan sejumlah langkah pencegahan guna memastikan keamanan publik tetap terjaga sepanjang periode Nataru.
Dalam beberapa minggu ke depan, BNN akan melakukan tes urin terhadap pengemudi bus, anak buah kapal (ABK), pilot, hingga pramugari. Pemeriksaan dilakukan di lokasi transportasi utama seperti terminal, pelabuhan, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kebijakan ini bertujuan memastikan seluruh petugas transportasi bebas dari narkoba demi keselamatan masyarakat.
“Kami ingin memastikan pengemudi dan petugas transportasi tidak terindikasi narkoba. Ini penting demi keamanan dan kenyamanan masyarakat,” jelas Rohmad.
Selain tes urin, BNN juga akan menggelar operasi gabungan untuk memperketat jalur masuk narkoba dari berbagai daerah. Pemeriksaan acak akan ditingkatkan di sejumlah titik yang selama ini rawan penyelundupan. Pengawasan diperkuat untuk mencegah upaya jaringan narkoba memanfaatkan jalur darat, laut, dan udara menjelang puncak liburan.
Rohmad juga mengimbau masyarakat agar menjalani perayaan akhir tahun tanpa narkoba. Ia menekankan bahwa penggunaan narkotika hanya menimbulkan risiko kesehatan, hukum, hingga keselamatan publik. Ia meminta masyarakat menikmati libur akhir tahun dengan bijak tanpa menyentuh barang terlarang.
“Silakan menikmati perayaan Tahun Baru, tetapi jangan menggunakan narkoba. Demi kenyamanan bersama, hindari segala bentuk penyalahgunaan zat terlarang,” ujarnya.***
