Cilegon

HUT RI ke-81 di Pulau Merak Besar Jadi Sorotan, Sejarawan: Ancaman Terbesar Bukan Bencana, tetapi Lunturnya Ideologi Bangsa

Suasana Pulau Merak Besar di Kota Cilegon yang menjadi lokasi utama peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, sekaligus kawasan bersejarah di Selat Sunda dengan potensi wisata, sejarah, dan mitigasi bencana, Sabtu, 15 Agustus 2026
Suasana Pulau Merak Besar di Kota Cilegon yang menjadi lokasi utama peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, sekaligus kawasan bersejarah di Selat Sunda dengan potensi wisata, sejarah, dan mitigasi bencana, Sabtu, 15 Agustus 2026

KILAS BANTEN – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dipusatkan di Pulau Merak Besar, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, pada 17 Agustus 2026 dinilai membawa makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar pelaksanaan upacara tahunan.

Pemilihan kawasan pesisir tersebut dipandang sebagai simbol penting untuk mengingat sejarah bangsa, memperkuat rasa cinta tanah air, mengembangkan potensi ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap ancaman bencana di wilayah pantai.

Pandangan itu disampaikan pegiat sejarah, peneliti, sekaligus perawat naskah kuno asal Banten, Yadi Ahyadi atau yang akrab disapa Abah Yadi.

Menurutnya, momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia harus dimanfaatkan sebagai ruang edukasi publik. Masyarakat tidak cukup hanya mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga perlu memahami berbagai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

Lunturnya Ideologi Bangsa Dinilai Lebih Berbahaya

Merah Putih Raksasa Berkibar di Selat Sunda, Wali Kota Robinsar: Pulau Merak Besar Digadang Jadi Ikon Wisata Bahari Nasional

Abah Yadi menilai kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi atau pesatnya pembangunan infrastruktur.

Menurut dia, kekuatan bangsa justru bertumpu pada masyarakat yang memahami sejarah, mencintai tanah air, dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Ia mengakui Kota Cilegon mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Kawasan industri terus berkembang. Infrastruktur semakin lengkap. Aktivitas ekonomi juga meningkat.

Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, ia melihat adanya ancaman yang jauh lebih serius.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah semakin memudarnya ideologi kebangsaan, terutama di kalangan generasi muda.

Merah Putih Raksasa Berkibar di Selat Sunda, Lanal Banten Sulap Pulau Merak Besar Jadi Magnet Wisata Bahari dan Simbol Nasionalisme

“Ideologi kebangsaan harus terus dijaga. Benteng yang runtuh masih bisa dibangun kembali dalam beberapa tahun. Tetapi jika ideologi bangsa yang runtuh, proses untuk memulihkannya bisa membutuhkan waktu sangat lama,” ujar Abah Yadi, Minggu (16/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa kerusakan akibat perang maupun bencana alam masih dapat diperbaiki melalui pembangunan fisik. Sebaliknya, hilangnya identitas bangsa akan membutuhkan proses yang jauh lebih panjang untuk dipulihkan.

Karena itu, pendidikan sejarah, budaya, dan nasionalisme harus diperkuat sejak usia dini agar generasi muda memiliki karakter kuat dalam menghadapi perubahan zaman.

Pendidikan Sejarah Harus Menjadi Prioritas

Abah Yadi menegaskan sejarah bukan sekadar cerita masa lalu.

Pulau Merak Besar Bakal Jadi Pusat HUT RI ke-81, Terungkap Sejarah Perang hingga Ancaman Besar yang Mengintai

Menurutnya, sejarah merupakan identitas bangsa yang menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan di masa depan.

Ia berharap pemerintah, sekolah, hingga masyarakat terus memperkuat pendidikan sejarah agar generasi muda memahami perjuangan para pendahulu sekaligus memiliki rasa bangga terhadap daerah dan negaranya.

Ia menilai karakter bangsa yang kuat akan menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan, baik persoalan sosial maupun ancaman bencana alam.

Pulau Merak Besar Dinilai Punya Potensi Besar

Selain menyoroti pentingnya nasionalisme, Abah Yadi juga mengapresiasi dipilihnya Pulau Merak Besar sebagai lokasi utama peringatan HUT RI ke-81.

Menurutnya, kawasan pesisir sejak dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah karena banyak wilayah pantai mengalami perubahan fungsi sehingga ruang masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya laut semakin terbatas.

“Dulu ketika masyarakat mengalami kesulitan, mereka masih bisa melaut untuk mencari ikan dengan peralatan sederhana. Itu menjadi sumber penghidupan masyarakat,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa menyempitnya akses terhadap sumber ekonomi dapat memicu berbagai persoalan sosial apabila tidak segera diantisipasi.

Karena itu, ia mendorong pemerintah bersama masyarakat menyusun program pembangunan berbasis potensi lokal agar mampu membuka lapangan pekerjaan baru dan memperkuat ketahanan ekonomi warga pesisir.

Wisata Sejarah Bisa Menjadi Penggerak Ekonomi

Abah Yadi melihat Pulau Merak Besar memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

Menurutnya, kawasan tersebut menyimpan nilai historis yang dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ia meyakini pengembangan sektor pariwisata akan menciptakan efek berantai.

Tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif, usaha mikro, jasa wisata, hingga kegiatan budaya yang melibatkan warga setempat.

Lebih jauh, ia menilai meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dapat mempersempit ruang bagi berbagai aktivitas negatif.

Abah Yadi mengingatkan kawasan tersebut pernah menghadapi persoalan penyalahgunaan narkoba pada masa lalu.

Karena itu, hadirnya kegiatan wisata, budaya, dan ekonomi kreatif diyakini dapat menjadi alternatif positif bagi masyarakat.

Sejarah Lokal Harus Lebih Dikenalkan

Dalam kesempatan tersebut, Abah Yadi juga berharap Pemerintah Kota Cilegon semakin aktif mengenalkan sejarah daerah kepada masyarakat.

Menurutnya, sejarah lokal tidak boleh hanya tersimpan dalam buku atau penelitian akademik.

Sejarah harus menjadi bagian dari pendidikan publik agar masyarakat memahami identitas daerahnya sendiri.

Ia kemudian mengutip sebuah filosofi mengenai pentingnya membangun masa depan di atas fondasi sejarah yang kuat.

Menurutnya, batu bata melambangkan kreativitas, inovasi, dan kemajuan peradaban.

Sementara karang melambangkan budaya serta sejarah yang diwariskan oleh para leluhur.

“Bila ingin membangun masa depan yang lebih baik, fondasinya harus kuat. Fondasi itu adalah budaya dan sejarah lokal,” ujarnya.

Ia menegaskan pembangunan modern tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati diri.

Justru sejarah dan budaya harus menjadi pijakan utama dalam menciptakan berbagai inovasi yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Warisan Kesultanan Banten Harus Terus Dikenalkan

Abah Yadi mengingatkan bahwa Banten memiliki warisan sejarah yang sangat penting dalam perjalanan Nusantara.

Pada abad ke-16 hingga ke-17, Kesultanan Banten dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan internasional yang memiliki posisi strategis di jalur pelayaran dunia.

Warisan tersebut, menurutnya, perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tumbuh rasa bangga terhadap daerahnya sendiri.

Dengan cara itu, pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat karakter masyarakat.

Ia menegaskan bahwa sejarah merupakan identitas bangsa yang harus dijaga agar Indonesia mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan akar budayanya.

Momentum Memperkuat Nasionalisme dan Mitigasi Bencana

Abah Yadi berharap penyelenggaraan HUT RI ke 81 di Pulau Merak Besar menjadi simbol bahwa kemerdekaan tidak hanya diperingati melalui upacara dan kegiatan seremonial.

Momentum tersebut harus menjadi pengingat akan jasa para pahlawan, pentingnya menjaga persatuan, melestarikan budaya lokal, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, serta meningkatkan kesadaran terhadap mitigasi bencana di kawasan pantai.

Menurutnya, perpaduan antara sejarah, nasionalisme, pengembangan wisata budaya, pemberdayaan ekonomi lokal, dan edukasi kebencanaan akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan utama dari peringatan HUT RI ke-81 ini, kata dia, adalah bahwa kemajuan Indonesia harus berjalan seiring dengan pelestarian sejarah, budaya, dan identitas nasional. Dengan fondasi tersebut, Indonesia diyakini mampu melahirkan generasi yang tangguh, berkarakter, serta siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan tanpa kehilangan jati diri bangsa.***

× Advertisement
× Advertisement