KILAS BANTEN – Banjir besar masih melanda Kampung Kajaroan, Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Hingga Jumat, 19 Desember 2025, ratusan rumah warga masih terendam air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga mencapai dua meter di titik terdalam. Banjir ini telah berlangsung sejak Senin malam, 16 Desember 2025, dan belum menunjukkan tanda-tanda surut signifikan.
Warga setempat menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Selain merendam rumah, banjir juga memutus aktivitas warga dan memaksa sebagian besar keluarga bertahan di lokasi yang minim fasilitas.
Salah seorang warga Kampung Kajaroan, Ismail, mengatakan banjir tahun ini jauh lebih besar dibanding kejadian sebelumnya. Ia menyebut luapan air kali ini menjangkau wilayah yang biasanya aman dari genangan.
“Ini banjir paling besar selama beberapa tahun terakhir. Biasanya tidak sampai setinggi ini,” kata Ismail, Minggu, 21 Desember 2025.
Menurut Ismail, banjir diduga dipicu oleh aliran sungai yang tersumbat tumpukan sampah dan pepohonan tumbang. Kondisi itu diperparah dengan ketidakmampuan Bendungan Curug Betung menampung debit air kiriman dari wilayah Padarincang, Ciomas, dan Pabuaran yang diguyur hujan deras.
“Kapasitas bendungan tidak kuat menahan kiriman air. Sungai juga tersumbat sampah dan pohon tumbang, akhirnya air meluap ke permukiman,” ujarnya.
Ia menyebut, sedikitnya 170 rumah di tiga RT terdampak langsung banjir. Jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai ratusan jiwa, mulai dari balita hingga lanjut usia.
“Di RT 1 saja ada sekitar 580 jiwa yang terdampak. Itu belum termasuk RT 2 dan RT 3,” katanya.
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan posko pengungsian bagi warga terdampak. Namun, posko tersebut berada di Kampung Pabuaran yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kampung Kajaroan. Jarak yang cukup jauh serta kondisi jalan yang rusak parah membuat warga enggan mengungsi ke lokasi tersebut.
“Posko memang ada, tapi jaraknya sekitar satu kilometer di kampung tetangga. Jalannya rusak dan sulit dilalui. Tidak ada warga yang mau ke sana,” tutur Ismail.
Akibatnya, sebagian besar warga memilih bertahan di sekitar kampung atau mengungsi secara mandiri ke dataran yang lebih tinggi. Mereka tidur seadanya dengan beralaskan tikar, tanpa fasilitas memadai.
“Warga lebih memilih bertahan di tanah yang agak tinggi meski kondisinya serba terbatas,” ujarnya.
Kondisi ini membuat warga mendesak pemerintah segera memperbaiki infrastruktur dasar. Ismail menyebut akses jalan sepanjang sekitar 600 meter yang rusak harus segera diperbaiki agar memudahkan evakuasi dan distribusi bantuan. Selain itu, penerangan jalan juga menjadi kebutuhan mendesak karena wilayah tersebut minim lampu jalan.
Selain persoalan posko dan akses, warga juga mengeluhkan minimnya bantuan logistik. Samsul, warga lainnya, mengatakan bantuan yang datang belum mencukupi kebutuhan para pengungsi, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia.
“Kami sangat membutuhkan bantuan untuk balita dan lansia. Susu, popok, dan kebutuhan bayi sangat dibutuhkan,” kata Samsul.
Ia menambahkan, anak-anak terpaksa tidur dengan kondisi seadanya di tengah situasi darurat yang belum jelas kapan akan berakhir.
“Kasihan anak-anak. Mereka tidur apa adanya, tanpa perlengkapan yang layak,” ujarnya.

