KILAS BANTEN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Pondok Pesantren Daarul Ma’arij, Kota Serang, Banten. Salah satu santrinya, Achmad Syarif, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Harmony Speech Festival Berbasis Dalil Kitab Suci Lintas Agama tingkat nasional yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga besar pesantren yang berada di Link Kubang Asem, Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang. Kompetisi berlangsung pada 19–20 Agustus 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia serta Hari Jadi ke 19 Kota Serang.
Ajang bergengsi itu mempertemukan 59 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh peserta ditantang menyampaikan pidato mengenai pentingnya kerukunan antarumat beragama dengan mengacu pada kitab suci sesuai agama yang dianut masing-masing.
Di atas panggung, Achmad Syarif tidak tampil seorang diri. Penampilannya diperkuat dua guru pengabdian Pondok Pesantren Daarul Ma’arij, yakni Jamilah yang membacakan ayat suci Al-Qur’an melalui tilawah serta M. Rizky Fadhillah yang menyampaikan sari tilawah.
Kolaborasi tersebut menghadirkan suasana religius sekaligus memperkuat pesan kebangsaan yang ingin disampaikan kepada seluruh peserta dan tamu undangan.
Mengangkat tema “Memperkuat Nasionalisme dan Patriotisme, Membangun Kota Serang yang Harmonis Menuju Indonesia Emas 2045”, Achmad Syarif mengajak masyarakat Indonesia menjadikan keberagaman sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa.
Ia membuka pidatonya dengan salam berbahasa Arab yang kemudian dilanjutkan dengan salam lintas agama. Cara tersebut menjadi simbol penghormatan kepada seluruh pemeluk agama di Indonesia sekaligus mencerminkan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman.
Dalam pidatonya, Achmad Syarif menggambarkan Indonesia sebagai negara yang kaya akan suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi. Ia menyebut berbagai kekayaan budaya Nusantara, mulai dari karapan di Madura, tari kecak di Bali, budaya Jawa, hingga kesenian debus khas Banten.
Menurutnya, seluruh keberagaman tersebut bukan alasan untuk terpecah. Sebaliknya, perbedaan justru menjadi modal besar yang harus terus dijaga agar Indonesia tetap kuat menghadapi tantangan zaman.
Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diraih oleh satu golongan saja. Berbagai elemen bangsa ikut berjuang dengan tujuan yang sama, yakni mewujudkan negara yang damai, merdeka, aman, dan sejahtera.
Untuk memperkuat pesannya, Achmad Syarif mengutip kandungan QS. Al-Baqarah ayat 126 yang berisi doa Nabi Ibrahim agar sebuah negeri diberikan keamanan serta kesejahteraan.
Menurutnya, pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik. Bangsa juga membutuhkan persatuan, keamanan, kesejahteraan masyarakat, dan akhlak yang baik agar pembangunan memiliki arah yang benar.
Ia menilai negara yang memiliki sumber daya melimpah akan mudah terpecah apabila kehilangan persatuan. Sebaliknya, kemajuan tanpa akhlak berpotensi menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.
Karena itu, menjaga keamanan, memperkuat persatuan, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Seluruh lapisan masyarakat memiliki peran yang sama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pesan lain yang mendapat perhatian dewan juri ialah pembahasan mengenai toleransi antarumat beragama. Dalam kesempatan tersebut, Achmad Syarif mengutip QS. Al-Kafirun ayat 6, “Lakum diinukum wa liya diin.”
Ia menjelaskan bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Setiap pemeluk agama tetap harus teguh menjalankan ajaran agamanya masing-masing, namun tetap menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.
Menurutnya, seseorang dapat memiliki pendirian yang kuat terhadap agamanya tanpa harus memusuhi pemeluk agama lain. Perbedaan dalam beribadah tidak boleh menjadi alasan munculnya kebencian maupun konflik di tengah masyarakat.
Achmad Syarif juga mengutip QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.
Ia menafsirkan ayat tersebut sebagai ajakan untuk menjadikan keberagaman sebagai sarana mempererat persaudaraan, memperluas silaturahmi, dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan upaya membangun Kota Serang yang damai sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Menjelang penutupan pidato, Achmad Syarif memperkenalkan konsep sederhana yang diberinya nama 3J, yaitu Jaga Lisan, Jaga Perasaan, dan Jaga Persaudaraan.
Menurutnya, keharmonisan masyarakat tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kebiasaan menjaga ucapan, menghormati perasaan orang lain, dan merawat persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pondasi kuat bagi terciptanya lingkungan yang damai.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang dalam membangun kebersamaan.
“Bangsa Indonesia tidak harus memiliki latar belakang yang sama untuk tetap bersatu,” demikian pesan yang disampaikan dalam pidatonya sebelum mengakhiri penampilan dengan seruan “Merdeka! Merdeka!” yang disambut antusias para peserta dan tamu undangan.
Keberhasilan Achmad Syarif bersama Jamilah dan M. Rizky Fadhillah meraih Juara 1 dari 59 peserta tingkat nasional menjadi bukti bahwa lingkungan pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi publik, wawasan kebangsaan, literasi keagamaan, serta komitmen kuat dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Keluarga besar Pondok Pesantren Daarul Ma’arij berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk terus mengembangkan potensi, meningkatkan prestasi, serta menyebarkan nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat.
Lebih dari sekadar kemenangan dalam perlombaan, prestasi ini menunjukkan bahwa nilai keagamaan, semangat nasionalisme, patriotisme, dan toleransi dapat berjalan berdampingan. Semangat itulah yang diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda Indonesia dalam mewujudkan bangsa yang damai, harmonis, bermartabat, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.***

