KILAS BANTEN – Banjir kembali melanda Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang. Air merendam permukiman warga di sejumlah desa, termasuk Kampung Kuranji, Desa Cakung. Kondisi ini mendorong DPRD Kabupaten Serang turun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi penyebab banjir yang terjadi berulang kali.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang, Ahmad Muhibbin, meninjau lokasi banjir pada Selasa, 20 Januari 2026.
Ia datang bersama Kepala Desa Cakung dan jajaran pemerintah desa. Turut hadir aparat kepolisian serta unsur terkait lainnya. Kunjungan itu bertujuan melihat kondisi faktual sekaligus mendengar langsung keluhan warga terdampak.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Di lokasi pengungsian, Ahmad Muhibbin menyampaikan hasil temuan awal. Ia menyebut pintu air di aliran Sungai Cidurian tidak berfungsi secara optimal. Kondisi tersebut membuat air sungai mudah meluap ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Hari ini kami melihat langsung kondisi di Kampung Kuranji. Dari keterangan warga dan hasil pengecekan, salah satu pemicu utama banjir adalah pintu air yang tidak bekerja maksimal,” kata Ahmad Muhibbin.
Ia menjelaskan, kedatangannya ke Binuang merupakan mandat langsung dari Ketua DPD Partai Gerindra Banten Andra Soni serta anggota DPR RI Annisa Maharani Azzahra Mahesa. Tugas yang diberikan adalah melakukan identifikasi menyeluruh terhadap penyebab banjir di wilayah terdampak, khususnya di Kecamatan Binuang.
Menurut Ahmad Muhibbin, kerusakan pintu air Sungai Cidurian membuat pengendalian debit air tidak berjalan baik. Saat hujan deras, air sungai meluap dan masuk ke kawasan permukiman. Kondisi ini diperparah dengan tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
Namun, ia menegaskan bahwa banjir di Kampung Kuranji tidak hanya disebabkan oleh luapan sungai. Faktor geografis permukiman warga juga berperan besar. Permukiman berada di posisi lebih rendah dibandingkan area persawahan di sekitarnya.
“Hasil pengecekan menunjukkan rumah warga berada di bawah area sawah. Ketika hujan deras, air dari saluran irigasi persawahan langsung mengalir ke permukiman,” ujarnya.
Limpasan air dari irigasi sawah bercampur dengan luapan Sungai Cidurian. Akibatnya, genangan cepat meluas dan sulit dikendalikan. Kondisi ini membuat warga kerap menjadi korban banjir, terutama saat musim hujan.
Ahmad Muhibbin menilai, sistem irigasi tersier di area persawahan juga perlu mendapat perhatian serius. Saluran yang ada dinilai tidak mampu menampung debit air saat curah hujan meningkat. Air pun meluap dan mencari jalur terendah, yakni kawasan permukiman warga.
“Penanganan banjir tidak bisa parsial. Tidak cukup hanya melihat sungai atau hujan. Semua faktor harus dikaji secara menyeluruh,” katanya.
Ia menyebut, setiap desa memiliki karakteristik permasalahan yang berbeda. Karena itu, solusi penanganan banjir harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Di Desa Cakung, persoalan pintu air, irigasi sawah, dan tata ruang permukiman menjadi satu kesatuan masalah.
Temuan tersebut diperoleh dari investigasi lapangan yang melibatkan berbagai pihak. Ahmad Muhibbin menggali informasi dari pemerintah desa, RT, RW, hingga warga setempat. Data tersebut kemudian dicocokkan dengan kondisi fisik di lapangan.
Ia berkomitmen membawa hasil identifikasi ini ke tingkat provinsi. Ahmad Muhibbin berjanji akan menyampaikan langsung kepada Gubernur Banten agar perbaikan pintu air Sungai Cidurian menjadi prioritas setelah banjir surut.
Selain perbaikan pintu air, ia juga mendorong normalisasi saluran air dan penataan ulang sistem irigasi. Langkah ini dinilai penting sebagai solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.
“Warga tidak boleh terus menjadi korban banjir tahunan. Harus ada langkah nyata yang menyentuh akar masalah,” pungkasnya.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten

















