Federal Lawas Satukan Ratusan Pecinta Sepeda di Tangerang, Fedtang Jadi Simbol Persaudaraan yang Kian Solid

Kilas Banten
19 Mei 2026 12:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Deretan sepeda Federal klasik memenuhi kawasan Taman Elektrik di Puspem Kota Tangerang pada akhir pekan lalu. Suasana berbeda langsung terasa ketika puluhan sepeda lawas dengan warna khas era 1990-an berjajar rapi di lokasi tersebut.

 

Sebagian sepeda masih mempertahankan bentuk aslinya. Rangka lawas, stiker klasik, hingga komponen bawaan pabrik tetap dipertahankan oleh pemiliknya. Pemandangan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.

 

Di tengah keramaian, anggota Komunitas Federal Tangerang atau Fedtang tampak saling bercengkerama. Mereka berkumpul sambil melepas lima anggota yang berangkat mengikuti ajang IFKA di kawasan Candi Prambanan, Klaten.

 

Namun bagi para anggota Fedtang, sepeda bukan hanya alat transportasi atau sekadar koleksi. Komunitas ini justru tumbuh karena kuatnya rasa persaudaraan yang terjalin antaranggota sejak pertama kali berdiri pada 2014.

 

Ketua Umum Fedtang, Keris, mengatakan komunitas tersebut kini berkembang pesat dengan jumlah anggota aktif mencapai sekitar 400 orang. Para anggota rutin mengikuti kegiatan bersama setiap pekan.

 

“Fedtang berdiri sejak 2014. Sampai sekarang anggotanya diperkirakan sudah sekitar 400 orang dan aktif bersilaturahmi lewat berbagai kegiatan mingguan,” ujar Keris, Selasa, 19 Mei 2026.

 

Komunitas ini menjadi rumah bagi para pecinta sepeda vintage, khususnya merek Federal yang sempat populer di Indonesia pada dekade 1990-an. Meski begitu, Fedtang tidak membatasi diri hanya untuk pengguna sepeda Federal.

 

Menurut Keris, daya tarik sepeda Federal terletak pada sejarah dan keunikannya. Apalagi, produksi sepeda tersebut telah berhenti sejak 1996 sehingga kini menjadi barang langka yang banyak diburu kolektor.

 

“Federal punya banyak varian dan sekarang sudah langka. Itu yang membuat banyak teman-teman akhirnya tertarik merawat dan mengoleksinya,” katanya.

 

Popularitas sepeda Federal juga terus meningkat seiring tren sepeda vintage yang kembali diminati masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak kolektor rela berburu komponen asli demi mempertahankan nilai klasik sepeda tersebut.

 

Meski identik dengan sepeda lawas, Fedtang tidak hanya fokus pada aktivitas gowes. Komunitas ini juga aktif menjaga solidaritas antaranggota melalui berbagai kegiatan sosial dan kebersamaan.

 

Fedtang memiliki slogan “Satu Sepeda Sejuta Sahabat”. Slogan itu menjadi simbol kuatnya rasa kekeluargaan yang terus dijaga di dalam komunitas.

 

“Di mana pun kita bersepeda, kita tidak merasa sendiri. Karena selalu ada saudara sesama Federal,” ujar Keris.

 

Semangat itu terlihat dalam kegiatan rutin mereka saat Car Free Day maupun program sosial bertajuk Jumat Berkah Fedtang atau JBF. Melalui kegiatan tersebut, anggota Fedtang secara bergilir turun langsung membantu masyarakat di berbagai wilayah.

 

Tidak hanya bergerak di bidang sosial, Fedtang juga mulai mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM milik anggota komunitas.

 

Ketua Harian Fedtang, Gupuh, mengatakan komunitas harus memberi manfaat nyata bagi anggotanya. Karena itu, Fedtang mulai membuka ruang kolaborasi untuk mendukung usaha dan kreativitas para anggota.

 

“Kami ingin komunitas ini membantu teman-teman berkembang, termasuk di bidang UMKM dan kreativitas,” kata Gupuh.

 

Saat ini, Fedtang juga aktif membangun hubungan dengan komunitas sepeda lain di Tangerang serta jaringan Federal Indonesia di berbagai daerah. Mereka bahkan bersiap mengikuti Jambore Nasional Federal Indonesia ke-7 yang akan digelar di Purwokerto pada 26 hingga 27 Juni mendatang.

 

Gupuh menegaskan Fedtang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan membangun relasi pertemanan baru melalui dunia sepeda.

 

“Kalau ada masyarakat yang melihat kami berkumpul dan ingin bergabung, silakan datang. Kami sangat terbuka,” ujarnya.

 

Bagi anggota Fedtang, sepeda Federal memang menjadi awal pertemuan. Namun seiring waktu, solidaritas dan rasa kekeluargaan justru menjadi alasan utama komunitas tersebut tetap bertahan dan terus berkembang hingga sekarang.***