Nasional

Jejak Pelarian Etnis Cina Benteng Terungkap, Ini Sejarah Mengejutkan di Balik Nama Kedaung Wetan Tangerang

Suasana kawasan Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, yang menyimpan jejak sejarah pelarian etnis Cina Benteng pada abad ke-18.
Suasana kawasan Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, yang menyimpan jejak sejarah pelarian etnis Cina Benteng pada abad ke-18.

KILAS BANTEN – Di balik nama setiap kampung di Kota Tangerang tersimpan kisah sejarah yang membentuk identitas wilayah hingga saat ini. Salah satu cerita yang menarik datang dari Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari. Kawasan tersebut ternyata memiliki hubungan erat dengan sejarah panjang etnis Cina Benteng yang melarikan diri dari Batavia pada abad ke-18.

 

Kisah tersebut diungkap dalam buku berjudul Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang karya Burhanudin. Buku itu mengulas berbagai sejarah penamaan kampung di Kota Tangerang, termasuk asal-usul Kedaung Wetan yang lahir dari peristiwa bersejarah pada 1740.

 

Dalam catatannya, Burhanudin menjelaskan bahwa tragedi yang terjadi di Batavia pada tahun 1740 menjadi titik awal terbentuknya sejumlah permukiman etnis Cina Benteng di wilayah Tangerang. Saat itu, masyarakat etnis Tionghoa melakukan perlawanan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai upaya menghindari penangkapan massal.

Yandri Susanto Ajak 750 Wisudawan UIN Banten Jadi Pencipta Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Pemburu Kerja

 

Akibat situasi yang semakin tidak aman, banyak warga memilih meninggalkan Batavia demi menyelamatkan diri. Mereka menempuh perjalanan menyusuri aliran Sungai Cisadane untuk mencari tempat perlindungan yang lebih aman.

 

“Para pengungsi etnis Cina terpaksa melarikan diri menyusuri aliran Kali Cisadane untuk menyelamatkan diri dari pembantaian dan ancaman kerja paksa di Sri Lanka oleh VOC,” tulis Burhanudin dalam bukunya, Sabtu, 13 Juni 2026.

 

Rektor UIN Banten Beri Instruksi Tegas, Mahasiswa Kukerta Internasional di Filipina Wajib Catat Semua Pengalaman

Perjalanan tersebut membawa para pengungsi menuju sejumlah wilayah pedalaman yang saat itu masih jarang dihuni. Kawasan seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, Kampung Melayu, Teluk Naga, hingga Kedaung menjadi lokasi persembunyian sekaligus tempat membangun kehidupan baru.

 

Seiring berjalannya waktu, permukiman tersebut berkembang menjadi komunitas yang kini dikenal sebagai masyarakat Cina Benteng. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari sejarah dan perkembangan sosial budaya di Tangerang.

 

Selain menyimpan kisah pelarian, nama Kedaung Wetan juga memiliki makna yang berasal dari kondisi alam di masa lalu. Burhanudin menjelaskan bahwa nama “Kedaung” diambil dari banyaknya pohon kedaung yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Pohon ini termasuk jenis tanaman polong-polongan yang banyak ditemukan di wilayah itu.

Di Balik Derasnya Arung Jeram Bali, BI Banten Menitipkan Misi Besar Bernama Optimisme

 

Sementara itu, kata “Wetan” ditambahkan untuk menunjukkan letak geografis kampung yang berada di bagian timur. Penamaan tersebut menjadi pembeda dengan wilayah lain yang juga menggunakan nama Kedaung.

 

Secara administratif, Kelurahan Kedaung Wetan awalnya merupakan bagian dari Kecamatan Batuceper. Namun, setelah Pemerintah Kota Tangerang melakukan pemekaran wilayah pada 2001, kawasan tersebut resmi masuk ke dalam Kecamatan Neglasari.

 

Tak hanya memiliki nilai historis, pohon kedaung juga menyimpan filosofi yang masih relevan hingga sekarang. Menurut Burhanudin, pohon tersebut dikenal mampu melindungi tanaman lain yang tumbuh di sekitarnya. Karakter itu kemudian dimaknai sebagai simbol kebersamaan, saling menjaga, dan hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.

 

Nilai tersebut dinilai mencerminkan kehidupan masyarakat Tangerang yang dihuni berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama. Akulturasi yang berlangsung selama ratusan tahun menjadi fondasi kuat terciptanya kehidupan sosial yang harmonis.

 

Burhanudin menilai penelusuran sejarah asal-usul Kedaung Wetan bukan sekadar mengenang masa lalu. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ruang yang ditempati masyarakat saat ini lahir dari perjalanan sejarah yang panjang, penuh perjuangan, serta proses percampuran budaya yang patut dihargai.

 

“Penelusuran asal-usul Kedaung Wetan ini menjadi pengingat berharga bahwa ruang tempat kita tinggal hari ini dibangun di atas fondasi perjuangan, akulturasi budaya yang kuat, serta keharmonisan bersama alam yang wajib dirawat,” tulisnya.

 

Melalui kisah tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal sejarah daerahnya sendiri sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah Kedaung Wetan menjadi bukti bahwa Kota Tangerang tumbuh dari keberagaman yang telah mengakar sejak ratusan tahun silam.***

× Advertisement
× Advertisement