Syair Abuya Muhtadi Menggema, Kepemimpinan PBNU Masuk Fase Penentuan

Kamis, 18 Desember 2025 - 13:04

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abuya Muhtadi bin Dimyati saat menerima silaturahim pimpinan PBNU di Cidahu, Pandeglang, Banten.

i

Abuya Muhtadi bin Dimyati saat menerima silaturahim pimpinan PBNU di Cidahu, Pandeglang, Banten.

KILAS BANTEN – Dinamika kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memasuki fase krusial. Perbedaan pandangan antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah berkembang menjadi perdebatan terbuka soal arah organisasi dan tata kelola jam’iyyah. Situasi ini tidak lagi terbatas di lingkaran elite PBNU, tetapi meluas ke basis warga nahdliyin di berbagai daerah.

Di tengah ketegangan tersebut, pesan simbolik dari ulama Banten, Abuya Muhtadi bin Dimyati, menguat dan menjadi sorotan. Pesan itu disampaikan melalui syair singkat yang diarahkan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Banyak pihak menilai syair tersebut sarat makna dan relevan dengan kondisi internal PBNU saat ini.

Informasi itu disampaikan Zaenal Abidin, tokoh Banser senior NU Banten, yang mengikuti langsung rangkaian pertemuan antara pimpinan PBNU dan Abuya Muhtadi di Cidahu, Kabupaten Pandeglang. Menurut Zaenal, pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa, 14 Oktober 2025, dengan suasana sederhana dan tanpa agenda seremonial.

“Pertemuannya singkat. Abuya tidak memberi sambutan panjang. Beliau langsung menyampaikan syair,” kata Zaenal Abidin kepada wartawan, Kamis, 15 Desember 2025.

Syair Wathwath yang dibacakan Abuya Muhtadi berbunyi, Nahnu Banu Dimyath, lana sa‘run tsabat. Nahnu ahlur ribath, fina baitul wathwath. Zaenal menjelaskan, dalam tradisi pesantren, syair bukan sekadar rangkaian kata indah. Syair sering digunakan sebagai sarana nasihat, peringatan, sekaligus isyarat moral.

Ia menegaskan, syair tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk pujian atau pengagungan diri. Istilah wathwath, yang berarti kelelawar, kerap dimaknai sebagai simbol ruang gelap atau wilayah abu-abu yang berada di antara terang dan gelap.

Penulis : Dayat

Editor : Rizki

Follow WhatsApp Channel www.kilasbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menuju 2029, PPP Banten Melalui Rapimwil di Tangerang, Neng Siti Julaiha Targetkan Rebut Kepercayaan Publik
Press Retreat 2026 Kopi Nalar Bongkar Rahasia Jurnalisme Investigasi dan Uji Integritas Wartawan
May Day 2026 di Banten, PMII Bongkar Krisis Pendidikan dan Nasib Buruh yang Terabaikan
May Day dan Hardiknas 2026 di Banten, Mahasiswa PMII Kota Serang Datangi DPRD Soroti Krisis Pendidikan dan Derita Buruh
Pemprov Banten Buka Akses Mudah Bayar Pajak Kendaraan, Syarat dan Ketentuan Tanpa KTP Pemilik Lama
Kwarda Pramuka Banten Tancap Gas, Pelantikan Dikebut Sebelum 10 Mei, Langsung Koordinasi ke Pusat
Pesantren Ini Tak Hanya Ngaji, Nahdlatul Ibad Banten di Waringinkurung Cetak Santri Siap Bersaing di Panggung Dunia
Dipimpin Budi Rustandi, IDSD 2025 Kota Serang Lampaui Rata-Rata Nasional dan Provinsisi”
Syair Abuya Muhtadi bin Dimyati dinilai menjadi isyarat keras bagi kepemimpinan PBNU. Ketegangan Syuriyah dan Tanfidziyah memuncak jelang satu abad NU, memicu ujian serius bagi marwah organisasi.

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:00

Menuju 2029, PPP Banten Melalui Rapimwil di Tangerang, Neng Siti Julaiha Targetkan Rebut Kepercayaan Publik

Minggu, 3 Mei 2026 - 06:00

Press Retreat 2026 Kopi Nalar Bongkar Rahasia Jurnalisme Investigasi dan Uji Integritas Wartawan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 16:00

May Day dan Hardiknas 2026 di Banten, Mahasiswa PMII Kota Serang Datangi DPRD Soroti Krisis Pendidikan dan Derita Buruh

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:00

Pemprov Banten Buka Akses Mudah Bayar Pajak Kendaraan, Syarat dan Ketentuan Tanpa KTP Pemilik Lama

Kamis, 30 April 2026 - 07:00

Kwarda Pramuka Banten Tancap Gas, Pelantikan Dikebut Sebelum 10 Mei, Langsung Koordinasi ke Pusat

Berita Terbaru