UIN Banten Serukan Revolusi Peran Masjid, Rektor Prof Ishom: Harus Jadi Pusat Diplomasi Dunia dan Perdamaian Global

Kilas Banten
5 Jul 2026 11:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menyerukan pentingnya mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban, ruang dialog, sekaligus pusat diplomasi perdamaian dunia.

 

Gagasan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026” yang digelar di Masjid Baitul Mukhtar BSD.

 

Kehadiran Prof Muhammad Ishom mendapat sambutan hangat dari peserta seminar. Ratusan mahasiswa UIN Banten yang datang dari Kota Serang turut memadati lokasi kegiatan. Tepuk tangan panjang menggema ketika nama rektor dipanggil menuju panggung untuk menyampaikan paparannya.

 

Prof Ishom membalas sambutan itu dengan menyapa para mahasiswa. Ia mengajak mereka terus menjaga semangat belajar serta meningkatkan kualitas diri sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

 

“Alhamdulillah, semoga bersahabat. Terima kasih semuanya dan mahasiswa UIN. Semoga tetap semangat!” ujar Prof Muhammad Ishom, Minggu (5/7/2026).

 

Dalam pemaparannya yang berjudul “Reposisi Masjid dalam Arsitektur Diplomasi Religi: Perspektif Intelektual Islam bagi Perdamaian Dunia”, Prof Ishom menegaskan bahwa fungsi masjid tidak boleh dibatasi hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah.

 

Menurutnya, sejarah Islam menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, masjid menjadi pusat berbagai aktivitas strategis.

 

Masjid berfungsi sebagai tempat musyawarah, pendidikan, penyusunan kebijakan, hingga penyelesaian persoalan sosial masyarakat. Karena itu, peran tersebut perlu dihidupkan kembali agar mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

 

“Masjid tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat ritual ibadah salat semata, melainkan harus dikembalikan fungsinya sebagai pusat peradaban, ruang dialog kebangsaan, serta pusat diplomasi perdamaian yang inklusif sebagaimana dicontohkan pada zaman Rasulullah SAW,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa diplomasi religi dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam membangun komunikasi antarbangsa.

 

Masjid dinilai memiliki potensi besar menjadi ruang lahirnya gagasan perdamaian, memperkuat nilai kemanusiaan, sekaligus mendorong penyelesaian konflik melalui dialog.

 

Prof Ishom menilai umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk ikut berkontribusi menciptakan perdamaian dunia. Pendekatan intelektual Islam, menurutnya, mampu menghadirkan solusi yang mengedepankan keadilan, toleransi, dan dialog dalam menyikapi berbagai persoalan kemanusiaan internasional.

 

Ia mencontohkan sejumlah konflik global yang masih membutuhkan perhatian dunia, mulai dari konflik di Palestina, perang Rusia-Ukraina, hingga perlindungan terhadap komunitas Muslim di Myanmar. Berbagai persoalan tersebut, kata dia, memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk akademisi, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat.

 

“Kita dorong agar gagasan diplomasi religi ini dapat dikonstruksikan secara konkret melalui perspektif intelektual Islam demi mewujudkan ketertiban dunia,” katanya.

 

Selain membahas isu internasional, Prof Ishom juga memberikan perhatian besar terhadap peran generasi muda, khususnya mahasiswa dan Generasi Z.

 

Menurutnya, kelompok ini akan menjadi ujung tombak dalam menyebarkan nilai moderasi beragama di masa depan.

 

Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki prestasi akademik. Mereka juga harus mampu menjadi agen perdamaian yang mengedepankan sikap terbuka, menghargai keberagaman, dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

 

Prof Ishom menjelaskan bahwa moderasi beragama harus diwujudkan melalui empat indikator utama. Pertama, memiliki komitmen kuat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

 

Kedua, menjunjung tinggi toleransi terhadap setiap perbedaan. Ketiga, menolak seluruh bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. Keempat, menerima serta menghargai tradisi lokal sebagai bagian dari media dakwah yang sejalan dengan nilai-nilai Islam yang damai.

 

Melalui Seminar Nasional menuju IGIC 2026 tersebut, Prof Muhammad Ishom berharap gagasan reposisi masjid tidak berhenti sebagai wacana akademik.

 

Ia menginginkan konsep tersebut berkembang menjadi gerakan nyata yang melibatkan perguruan tinggi, tokoh agama, pemerintah, serta masyarakat untuk memperkuat diplomasi religi dan membangun perdamaian dunia secara berkelanjutan.***