KILAS BANTEN – Malaysia semakin agresif memperluas pasar wisata di Indonesia. Kali ini, Provinsi Banten menjadi target utama promosi yang dilakukan Kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya Malaysia untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan pada 2026.
Melalui kegiatan Malaysia Tourism Showcase B2B Roadshow 2026 yang digelar di Aston Hotel Serang, Senin (8/6/2026), Malaysia memperkenalkan berbagai destinasi unggulan yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar untuk memperluas jangkauan wisatawan Indonesia ke berbagai wilayah di Malaysia.
Tidak hanya mengandalkan destinasi populer seperti Kuala Lumpur, Penang, dan Melaka, Malaysia kini mulai mempromosikan sejumlah kawasan alternatif yang menawarkan pengalaman berbeda. Beberapa di antaranya adalah Ipoh di Perak, Sabah, serta kawasan Borneo yang dikenal memiliki kekayaan alam, hutan hujan tropis, dan wisata petualangan kelas dunia.
Direktur Tourism Malaysia Jakarta, Hari Mohd Yakzan, mengatakan Banten memiliki potensi besar sebagai salah satu sumber wisatawan Indonesia ke Malaysia. Karena itu, pihaknya kembali menggelar promosi di wilayah tersebut setelah cukup lama tidak melakukan kegiatan serupa.
“Sudah lama kami tidak ke Banten. Kami melihat potensi yang besar di Banten ini. Saya merasa kita ada potensi besar untuk mendapat pelancong besar ke Malaysia,” ujar Hari Mohd Yakzan saat menghadiri acara tersebut.
Data Tourism Malaysia menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu pasar wisata terbesar bagi Malaysia. Sepanjang tahun 2025, sekitar 4,2 juta wisatawan Indonesia tercatat berkunjung ke negara tersebut. Jumlah itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang wisatawan mancanegara terbesar bagi industri pariwisata Malaysia.
Selama ini, mayoritas wisatawan Indonesia masih memilih Kuala Lumpur, Penang, dan Melaka sebagai tujuan utama. Namun, Malaysia kini berupaya mengubah pola tersebut dengan memperkenalkan lebih banyak destinasi baru agar persebaran wisatawan menjadi lebih merata.
Untuk mendukung target tersebut, Tourism Malaysia menggandeng berbagai agen perjalanan dan pelaku industri pariwisata lokal. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat promosi sekaligus mempermudah masyarakat mendapatkan paket perjalanan menuju berbagai destinasi di Malaysia.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan, Malaysia tetap optimistis sektor pariwisatanya akan terus bertumbuh. Meski demikian, sejumlah faktor eksternal masih menjadi perhatian, mulai dari ketidakpastian geopolitik dunia, konflik internasional, tingginya harga tiket pesawat, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurut Hari, kebutuhan masyarakat terhadap hiburan, rekreasi, dan perjalanan wisata tetap tinggi. Karena itu, Malaysia terus memperluas pilihan produk wisata untuk menjangkau berbagai segmen wisatawan.
Selain wisata alam dan wisata kota, Malaysia juga memperkuat promosi wisata kuliner yang dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia. Kesamaan budaya serta cita rasa makanan menjadi nilai tambah yang diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Medical tourism, kita menawarkan perawatan yang terjangkau dengan fasilitas bertaraf dunia. Kemudian culinary, dari segi Malaysia dan Indonesia ini dekat. Kita sama-sama makan nasi. Kita kenalkan juga durian, nasi kandar,” kata Hari.
Wisata medis menjadi salah satu sektor yang kini diandalkan Malaysia. Program tersebut menawarkan layanan kesehatan modern dengan biaya yang kompetitif dibandingkan sejumlah negara lain. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dan berhasil menarik pasien internasional, termasuk dari Indonesia.
Selain mempromosikan destinasi wisata, Malaysia Tourism Showcase 2026 juga membuka peluang kerja sama bisnis antara pelaku industri pariwisata Malaysia dan Indonesia. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sinergi yang memberikan manfaat ekonomi bagi kedua pihak.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kerja sama yang terjalin tidak hanya menguntungkan Malaysia, tetapi juga dapat membuka peluang pengembangan sektor pariwisata di Banten.
“Semoga ini bukan hanya jadi ajang Malaysia, tapi juga Banten,” ujar Eli.
Dengan strategi promosi yang semakin masif, didukung destinasi wisata yang beragam, kekuatan wisata kuliner yang akrab bagi masyarakat Indonesia, serta layanan kesehatan berstandar internasional, Malaysia optimistis mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu tujuan wisata luar negeri favorit bagi wisatawan Indonesia pada tahun mendatang.***

