KILAS BANTEN – Musyawarah Santri Keenam Belas (MUSANTRI XVI) yang digelar Organisasi Pengurus Santri Al-Fathaniyah (ORSAFAH) menetapkan Mahfudz Sahari sebagai Lurah ‘Aam Pondok Pesantren Al-Fathaniyah masa khidmat 2022-2024. Penetapan tersebut menjadi hasil akhir dari rangkaian musyawarah yang berlangsung selama tiga hari pada 2022.
Mahfudz Sahari meraih dukungan terbanyak dalam proses pemungutan suara yang digelar di Aula Utama Pondok Pesantren Al Fathaniyah Tengkele, Kota Serang, Banten, Jumat (28/1/2022).
Dari total 70 suara yang telah diverifikasi panitia, Mahfudz memperoleh 45 suara. Sementara Akhmad Yusuf mengantongi 20 suara, Musthofa Ridho memperoleh tiga suara, dan terdapat dua suara yang dinyatakan golput.
Ketua Panitia MUSANTRI XVI, Taufik Hidayat at-Tanari, menjelaskan penetapan Mahfudz Sahari dilakukan melalui Sidang Pleno IV yang dipimpin langsung oleh Ketua dan Sekretaris Panitia, yakni Taufik Hidayat at-Tanari bersama Aan Azhari.
“asil tersebut mencerminkan kepercayaan mayoritas delegasi Pengurus Komplek Wilayah (PKW) kepada Mahfudz Sahari untuk memimpin organisasi santri selama dua tahun ke depan,” tuturnya.
Usai dinyatakan terpilih, Mahfudz Sahari menyampaikan rasa syukur sekaligus komitmennya untuk menjalankan amanah tersebut. Pria yang akrab disapa Mahbopu itu lahir di Kampung Bolang Pulo, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, pada 27 Juli 1993.
Dalam sambutannya, Mahfudz menegaskan bahwa kepemimpinan di lingkungan pesantren harus mampu menjadi simbol penguatan tradisi salafiyah sekaligus menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, seorang lurah pondok tidak hanya bertugas mengelola aktivitas santri, tetapi juga mengarahkan organisasi agar mampu melahirkan peradaban baru yang progresif.
“Terpilihnya saya sebagai lurah pondok adalah keniscayaan terbesar yang telah dipercayakan seluruh santri untuk melanjutkan estafet kepemimpinan sebelumnya yang sudah berjalan dengan sangat baik dan visioner,” ujar Mahfudz.
Ia berharap seluruh unsur pesantren dapat memberikan dukungan selama masa kepemimpinannya. Dukungan tersebut diharapkan datang dari Majelis Pembina, Majelis Permusyawaratan Santri (MPS), hingga Forum Alumni Santri Al Fathaniyah (FALSAFAH).
Menurut Mahfudz, sinergi seluruh elemen pesantren menjadi modal penting untuk merealisasikan berbagai program strategis yang akan disusun kepengurusan baru. Ia ingin menghadirkan organisasi santri yang lebih visioner tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pesantren.
Sementara itu, Presidium Majelis Permusyawaratan Santri (MPS), Rabudin Salim, juga memberikan pesan kepada pemimpin baru. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu mengayomi seluruh santri dengan menjadikan nilai “saling asah, saling asih, dan saling asuh” sebagai pedoman utama dalam menjalankan kepemimpinan.
Menurut Rabudin, prinsip tersebut harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren maupun saat para santri kembali ke tengah masyarakat.
“Sebagai santri harus memegang teguh motto saling asah, saling asih dan saling asuh. Nilai itu harus diwujudkan dalam kehidupan sosial di lingkungan pesantren maupun masyarakat,” katanya.
Rabudin menambahkan, kehidupan di pesantren merupakan tempat terbaik untuk membentuk karakter. Para santri dilatih menjadi pribadi yang mandiri, matang, dan siap menghadapi berbagai tantangan sosial setelah menyelesaikan pendidikan.
Kendati demikian, Majelis Pembina Pusat Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Syaepudin, mengingatkan bahwa kepemimpinan memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Seorang pemimpin, kata dia, harus bersikap bijaksana, mampu mendengar aspirasi, bersikap luwes, dan memiliki kewibawaan dalam mengambil keputusan.
Ia berharap Mahfudz Sahari mampu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki pesantren, baik dari sisi internal maupun eksternal. Dengan demikian, manfaat keberadaan pesantren dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Syaepudin juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri Pondok Pesantren Al-Fathaniyah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Nilai tersebut, menurutnya, harus terus diperkuat sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar Pondok Pesantren Al-Fathaniyah.
Acara penetapan Lurah Pondok berlangsung khidmat. Sejumlah tokoh pesantren hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Majelis Pembina Pusat, Presidium Majelis Permusyawaratan Santri, Forum Alumni Santri Al-Fathaniyah dari Serang Utara, Pandeglang, Bandung Raya, Lampung Raya, Kota Cilegon, Tangerang Raya, Jakarta, Jawa Barat, serta seluruh santri Pondok Pesantren Al-Fathaniyah.
MUSANTRI XVI menjadi momentum regenerasi kepemimpinan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan program-program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi yang memperkuat kualitas pendidikan, organisasi santri, dan pengabdian kepada masyarakat.***

