Kepala Disnakertrans Kabupaten Serang, Diana Ardhianty Utami (Redaksi Kilas Banten)KILAS BANTEN – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dirasakan sejumlah perusahaan di Kabupaten Serang. Kondisi tersebut terutama terjadi pada industri padat karya yang menghadapi tekanan akibat situasi ekonomi global yang belum stabil.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Serang mengungkapkan bahwa sektor industri kimia dan alas kaki menjadi dua bidang usaha yang paling terdampak. Kenaikan biaya produksi membuat sebagian perusahaan mengambil langkah efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Serang, Diana Ardhianty Utami, mengatakan Provinsi Banten kini menempati posisi kedua secara nasional dalam jumlah kasus PHK setelah Jawa Barat.
“Sudah disampaikan oleh Kepala Disnakertrans Provinsi, angka PHK-nya tertinggi kedua, Banten setelah Jawa Barat,” kata Diana, Minggu, 5 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi ketenagakerjaan di Banten membutuhkan perhatian serius. Kabupaten Serang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di provinsi ini juga mulai merasakan dampaknya.
Tekanan Ekonomi Global Jadi Pemicu
Menurut Diana, meningkatnya angka PHK tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah faktor eksternal memberikan tekanan besar terhadap aktivitas industri, terutama perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ia menjelaskan konflik yang masih berlangsung di Ukraina telah mengganggu rantai pasok dunia. Dampak tersebut ikut dirasakan berbagai industri di Indonesia, termasuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Serang.
Selain itu, menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat membuat biaya impor bahan baku melonjak. Akibatnya, beban produksi perusahaan ikut meningkat sehingga ruang untuk menjaga efisiensi menjadi semakin sempit.
“Perang di Ukraina, impor yang tinggi karena dolar menguat, itu menjadi dampak,” ujar Diana.
Industri Kimia dan Alas Kaki Paling Tertekan
Disnakertrans mencatat perusahaan padat karya menjadi kelompok industri yang paling rentan menghadapi situasi tersebut. Industri alas kaki dan kimia termasuk yang paling merasakan dampaknya karena ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri masih cukup tinggi.
Pada sektor kimia, kenaikan nilai tukar dolar membuat harga bahan baku impor meningkat. Kondisi itu diperparah oleh naiknya harga biji plastik yang merupakan salah satu komponen utama dalam proses produksi.
Kenaikan berbagai biaya tersebut membuat perusahaan harus melakukan penyesuaian agar tetap mampu bertahan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat. Salah satu langkah yang ditempuh ialah melakukan efisiensi operasional, termasuk mengurangi jumlah pekerja.
“Sektor yang terdampak perusahaan padat karya, alas kaki, dan kimia. Karena yang terkendala dampak impor ini kan sektor kimia. Lalu harga biji plastik kan tinggi, ini yang terdampak,” jelas Diana.
Kawasan Industri Kabupaten Serang Hadapi Tantangan
Kabupaten Serang dikenal sebagai salah satu pusat industri manufaktur di Provinsi Banten. Ratusan perusahaan beroperasi di wilayah tersebut dan menyerap ribuan tenaga kerja dari berbagai daerah.
Karena itu, setiap kebijakan efisiensi yang dilakukan perusahaan memiliki dampak langsung terhadap kondisi ketenagakerjaan dan perekonomian masyarakat. Berkurangnya jumlah pekerja juga berpotensi memengaruhi daya beli serta aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap dunia usaha maupun tenaga kerja.
Disnakertrans berharap kondisi ekonomi global segera membaik sehingga rantai pasok internasional kembali normal dan harga bahan baku dapat lebih stabil. Dengan begitu, perusahaan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus kembali mengambil langkah pengurangan tenaga kerja.
Perbaikan kondisi ekonomi internasional juga diharapkan mampu memperkuat daya saing industri di Kabupaten Serang sehingga iklim investasi tetap terjaga dan penyerapan tenaga kerja dapat kembali meningkat dalam beberapa waktu mendatang.***