Ketua JKSN Banten KH Muhamad Robi Ulfi Zaini Thohir saat menyampaikan pernyataan dukungan terhadap KH Asep Saefudin Chalim jelang Muktamar NU ke-35, Rabu, 7 Januari 2026KILAS BANTEN – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 semakin menguat. Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Banten secara resmi menyatakan dukungan politik keulamaan dengan mengusung Prof. Dr. KH Asep Saefudin Chalim, M.Ag. sebagai kandidat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pernyataan sikap tersebut menandai keterlibatan aktif JKSN Banten dalam proses kaderisasi dan suksesi kepemimpinan ulama di tubuh NU. Organisasi ini menilai KH Asep sebagai figur paling tepat untuk memimpin barisan ulama NU di tingkat nasional pada periode mendatang.
Ketua JKSN Banten, KH Muhamad Robi Ulfi Zaini Thohir, menyampaikan dukungan tersebut melalui keterangan resmi pada Rabu, 7 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa sikap organisasi diambil atas dasar pertimbangan keulamaan dan tanggung jawab jam’iyyah.
“Dengan memohon ridha Allah SWT serta dilandasi tanggung jawab moral keulamaan dan kejam’iyyahan, kami menyatakan Prof. Dr. KH Asep Saefudin Chalim sebagai sosok yang paling layak dan berhak diamanahi menjadi Rais Aam PBNU pada Muktamar NU ke-35,” ujar KH Robi.
Menurut JKSN Banten, dukungan ini tidak lahir secara tiba-tiba. Prosesnya melalui pertimbangan yang matang dan mendalam. Organisasi menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak didorong oleh emosi sesaat maupun kepentingan politik jangka pendek, melainkan berdasar pada penilaian yang objektif dan rasional.
KH Robi menjelaskan, KH Asep dikenal luas sebagai ulama dengan sikap egaliter. Ia dinilai terbuka dalam berkomunikasi dan mampu merangkul seluruh elemen jam’iyyah NU. Karakter tersebut dianggap penting untuk menjaga soliditas organisasi di tengah dinamika internal yang terus berkembang.
“Beliau memiliki kemampuan mempersatukan. Tidak membeda-bedakan latar belakang daerah, organisasi, maupun pilihan politik warga NU,” kata KH Robi.
Selain sikap inklusif, JKSN Banten juga menyoroti kemandirian KH Asep, baik secara pribadi maupun kelembagaan. Kemandirian ini dinilai menjadi modal utama agar Rais Aam PBNU dapat menjaga marwah keulamaan dan tetap fokus pada khidmah, tanpa terjebak dalam kepentingan pragmatis atau tekanan politik praktis.
Rekam jejak KH Asep sebagai pengasuh pesantren besar turut menjadi pertimbangan penting. Selama bertahun-tahun, ia telah membina dan melahirkan ribuan santri yang kini berkiprah di berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga sosial kemasyarakatan. Kontribusi tersebut dipandang sebagai bukti nyata pengabdian jangka panjang terhadap umat dan bangsa.
JKSN Banten menilai pengalaman panjang di dunia pesantren membuat KH Asep memahami persoalan umat secara langsung. Pengalaman tersebut dianggap relevan untuk menjawab tantangan NU ke depan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara tradisi keulamaan dan tuntutan zaman yang terus berubah.
Aspek lain yang disorot adalah peran KH Asep sebagai dermawan. Ia dikenal konsisten menginfakkan harta, tenaga, dan pikirannya untuk kepentingan pesantren, umat, dan jam’iyyah NU. JKSN Banten menegaskan bahwa kontribusi tersebut dilakukan tanpa orientasi kepentingan pribadi.
“Apa yang beliau lakukan bisa dibuktikan secara nyata. Bukan sekadar wacana, tetapi kerja konkret yang dirasakan langsung oleh pesantren dan masyarakat,” ujar KH Robi.
Dari sisi historis, KH Asep juga memiliki nasab keulamaan yang kuat. Ia merupakan putra KH Abdul Halim Majalengka, ulama besar yang dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Pahlawan Nasional. Latar belakang tersebut dinilai memberi legitimasi moral dan historis dalam menjaga marwah Rais Aam sebagai simbol tertinggi keulamaan NU.
JKSN Banten meyakini perpaduan antara kapasitas keilmuan, integritas moral, kemandirian, serta kesinambungan sejarah menjadikan KH Asep figur strategis untuk memimpin ulama NU di tingkat nasional.
“Beliau kami pandang mampu memperkuat khidmah jam’iyyah dan meneguhkan peran strategis NU dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan,” kata KH Robi.
Pernyataan dukungan ini, lanjutnya, merupakan bentuk ikhtiar kolektif para kyai dan santri dalam menjaga arah masa depan Nahdlatul Ulama. JKSN Banten menegaskan tidak membawa agenda lain selain memastikan NU tetap berkhidmat secara bermartabat dan memberi kemaslahatan bagi umat.
Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35, JKSN Banten berharap forum tertinggi tersebut mampu melahirkan kepemimpinan ulama yang berintegritas, visioner, dan responsif terhadap tantangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi keulamaan.
“Ini ikhtiar kami agar NU terus hadir dan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa,” pungkas KH Robi.