Dari sisi historis, KH Asep juga memiliki nasab keulamaan yang kuat. Ia merupakan putra KH Abdul Halim Majalengka, ulama besar yang dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Pahlawan Nasional. Latar belakang tersebut dinilai memberi legitimasi moral dan historis dalam menjaga marwah Rais Aam sebagai simbol tertinggi keulamaan NU.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
JKSN Banten meyakini perpaduan antara kapasitas keilmuan, integritas moral, kemandirian, serta kesinambungan sejarah menjadikan KH Asep figur strategis untuk memimpin ulama NU di tingkat nasional.
“Beliau kami pandang mampu memperkuat khidmah jam’iyyah dan meneguhkan peran strategis NU dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan,” kata KH Robi.
Pernyataan dukungan ini, lanjutnya, merupakan bentuk ikhtiar kolektif para kyai dan santri dalam menjaga arah masa depan Nahdlatul Ulama. JKSN Banten menegaskan tidak membawa agenda lain selain memastikan NU tetap berkhidmat secara bermartabat dan memberi kemaslahatan bagi umat.
Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35, JKSN Banten berharap forum tertinggi tersebut mampu melahirkan kepemimpinan ulama yang berintegritas, visioner, dan responsif terhadap tantangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi keulamaan.
“Ini ikhtiar kami agar NU terus hadir dan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa,” pungkas KH Robi.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten

















