“Beliau memiliki kemampuan mempersatukan. Tidak membeda-bedakan latar belakang daerah, organisasi, maupun pilihan politik warga NU,” kata KH Robi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Selain sikap inklusif, JKSN Banten juga menyoroti kemandirian KH Asep, baik secara pribadi maupun kelembagaan. Kemandirian ini dinilai menjadi modal utama agar Rais Aam PBNU dapat menjaga marwah keulamaan dan tetap fokus pada khidmah, tanpa terjebak dalam kepentingan pragmatis atau tekanan politik praktis.
Rekam jejak KH Asep sebagai pengasuh pesantren besar turut menjadi pertimbangan penting. Selama bertahun-tahun, ia telah membina dan melahirkan ribuan santri yang kini berkiprah di berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga sosial kemasyarakatan. Kontribusi tersebut dipandang sebagai bukti nyata pengabdian jangka panjang terhadap umat dan bangsa.
JKSN Banten menilai pengalaman panjang di dunia pesantren membuat KH Asep memahami persoalan umat secara langsung. Pengalaman tersebut dianggap relevan untuk menjawab tantangan NU ke depan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara tradisi keulamaan dan tuntutan zaman yang terus berubah.
Aspek lain yang disorot adalah peran KH Asep sebagai dermawan. Ia dikenal konsisten menginfakkan harta, tenaga, dan pikirannya untuk kepentingan pesantren, umat, dan jam’iyyah NU. JKSN Banten menegaskan bahwa kontribusi tersebut dilakukan tanpa orientasi kepentingan pribadi.
“Apa yang beliau lakukan bisa dibuktikan secara nyata. Bukan sekadar wacana, tetapi kerja konkret yang dirasakan langsung oleh pesantren dan masyarakat,” ujar KH Robi.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















