KH Matin Syarkowi: Islah Jalan Terbaik Akhiri Polemik Kepengurusan PBNU

Kilas Banten
16 Des 2025 13:46
2 menit membaca

KILAS BANTEN – A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Matin Syarkowi, angkat bicara mengenai polemik dualisme kepengurusan yang tengah memanas di tubuh organisasi.

Ia menegaskan bahwa islah atau rekonsiliasi merupakan satu-satunya jalan keluar terbaik dan bermartabat untuk mengakhiri ketegangan.

Pernyataan ini muncul menyusul situasi internal PBNU yang kian runcing. Dua kubu saling klaim kebenaran berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Kondisi ini dinilai membingungkan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.

KH Matin menilai, jika kedua belah pihak merasa paling benar secara prosedur, maka jalan tengah harus diambil.

Ego sektoral tidak boleh mengalahkan kepentingan organisasi yang lebih besar.

“Kalau sudah sama-sama mengklaim benar dan sesuai prosedur AD/ART serta peraturan yang berlaku di NU, maka islah adalah jalan terbaik,” ujar KH Matin Syarkowi saat ditemui di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Kota Serang, Banten, Selasa 16 Desember 2025.

Menurutnya, tawaran islah sebenarnya sudah lama didorong oleh para sesepuh atau masyayikh NU.

Islah adalah ajaran fundamental Islam dalam menyelesaikan sengketa tanpa kekerasan.

Menolak islah sama artinya dengan memelihara konflik yang tidak berkesudahan.

“Tawarannya adalah islah. Bandingkan dengan konflik atau pertengkaran. Kalau menolak islah, maka yang muncul adalah polemik berkepanjangan,” tegasnya.

Tokoh NU Banten ini juga menyoroti saling tuding pelanggaran berat antara pihak Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah.

Ia menyarankan agar segala tuduhan dibuktikan melalui mekanisme uji materi yang objektif dan transparan.

Dugaan sepihak tidak boleh menjadi landasan keputusan strategis.

“Dugaan itu belum tentu jelas. Kalau masih dugaan, seharusnya yang didahulukan adalah ajakan islah. Karena menduga itu belum tentu benar,” kata Kiai Matin.

Lebih jauh, ia memberikan pandangan tegas terkait masa depan kepemimpinan jika islah gagal tercapai.

Menurutnya, persoalan PBNU saat ini bukan lagi sekadar aturan organisasi, melainkan ujian kesadaran moral para pemimpinnya.

Kiai Matin meminta para elit PBNU untuk berjiwa besar. Jika Rais Aam maupun Ketua Umum tidak mampu menekan ego demi perdamaian, opsi mundur dinilai lebih maslahat daripada membiarkan organisasi terpecah belah.

“Saya berharap Rais Aam PBNU sadar, Ketua Umum PBNU sadar. Kalau tidak sadar semua, ya mundur saja. Serahkan kepada orang-orang yang benar-benar khidmah dan tidak membawa kepentingan,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa dampak konflik elit di Jakarta sangat dirasakan oleh pengurus dan jamaah di daerah.

Kegaduhan ini berpotensi merusak marwah organisasi yang selama ini menjadi pilar perdamaian bangsa.

“Apakah para pimpinan tidak berpikir tentang yang di bawah? Gara-gara beberapa orang yang pusing, semua ikut terdampak,” pungkas KH Matin.***