KILAS BANTEN – Doa Menteri Agama pada peringatan HUT ke 81 Kemerdekaan Republik Indonesia menuai beragam tanggapan di media sosial. Sebagian netizen menganggap doa yang disampaikan seperti “laporan statistik”. Ada pula yang menilai doa yang mengutamakan terkabulnya doa penguasa sebagai bentuk menjilat pimpinan.
Kritik tentu bagian dari ruang publik. Namun, jika yang dipersoalkan adalah substansi keagamaan, doa semestinya dibaca dengan pengetahuan tentang tradisi dan khazanah Islam, bukan semata-mata dengan kacamata politik.
Wasilah dalam Doa
Salah satu hal penting dalam tradisi Islam adalah berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah dilakukan dengan ikhlas. Hal ini antara lain tergambar dalam hadis tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua.
Rasulullah SAW mengisahkan, sebuah batu besar jatuh dan menutup pintu gua. Mereka pun sepakat berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah mereka kerjakan.
Orang pertama menyebut baktinya kepada kedua orang tuanya. Ia selalu mendahulukan mereka dalam memberikan susu. Bahkan, suatu malam ia menunggu keduanya terbangun sambil memegang wadah susu karena tidak ingin memberikan susu itu kepada keluarga atau hartanya sebelum orang tuanya minum.
Ia kemudian berdoa, “Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan ini.” Batu itu pun bergeser.
Orang kedua juga menyebut amal salehnya. Ia pernah memiliki kesempatan melakukan maksiat dengan perempuan yang sangat dicintainya. Ketika kesempatan itu terbuka, ia memilih meninggalkannya karena takut kepada Allah. Setelah ia berdoa dengan menyebut amal tersebut, batu kembali bergeser.
Orang ketiga juga menyebut amal saleh yang dia pernah lakukan. Ia pernah mempekerjakan orang dan sudah menyiapkan upah, namun orang itu tidak datang lagi untuk meminta upah dan bekerja kembali. Uang upah itu lalu dibelikan hewan ternak hingga beranak pinak. Tiba-tiba orang yang berhak mendapatkan upah itu datang dan menagih bayaran.
Tanpa keberatan diserahkanlah semua hewan ternak yang telah beranak pinak dari hasil upah yang belum dibayarkan. Sesudah orang ketiga bertawasul dengan amal salehnya tersebut maka terbukalah pintu goa yang semula tertutup batu.
Kisah ini memberi pelajaran penting: amal saleh dapat dijadikan wasilah dalam berdoa. Tentu, yang mengabulkan doa tetap Allah. Amal saleh tidak mempunyai kekuatan untuk mengabulkan doa. Ia menjadi sebab yang disebutkan seorang hamba sebagai bentuk pengharapan kepada rahmat Allah.
Karena itu, ketika sebuah doa menyebut kebaikan, pengabdian, atau capaian yang telah dilakukan, tidak tepat jika buru-buru menyebutnya sebagai “laporan statistik”. Bisa saja hal tersebut merupakan ungkapan syukur sekaligus wasilah untuk memohon pertolongan Allah.
Pertanyaan yang lebih penting justru: adakah amal baik yang pernah kita lakukan dengan ikhlas dan dapat kita jadikan wasilah ketika berdoa?
Mengapa Mendoakan Pemimpin?
Bagian lain yang menjadi sorotan adalah doa untuk pemimpin. Sebagian orang menganggap mengutamakan doa penguasa sebagai bentuk menjilat pimpinan.
Padahal, mendoakan kebaikan bagi pemimpin bukan hal yang asing dalam tradisi ulama. Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, “Seandainya aku memiliki satu doa yang mustajab, aku tidak akan menggunakannya kecuali untuk pemimpin.”
Ketika ditanya alasannya, ia menjelaskan bahwa jika doa itu digunakan untuk dirinya sendiri, manfaatnya hanya kembali kepada dirinya. Namun, jika doa itu ditujukan kepada pemimpin, kebaikan pemimpin akan membawa kebaikan bagi rakyat dan negeri.
Logikanya sederhana. Pemimpin memiliki kewenangan yang berdampak luas. Keputusan yang diambilnya dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Karena itu, mendoakan agar pemimpin diberi petunjuk, keadilan, kebijaksanaan, dan kekuatan menjalankan amanah pada dasarnya juga merupakan doa untuk rakyat.
Mendoakan pemimpin pun tidak berarti menganggap pemimpin selalu benar. Kritik terhadap kebijakan tetap dimungkinkan. Perbedaan pendapat juga tidak gugur hanya karena seseorang mendoakan pemimpinnya.
Aminkan Doa!
Ungkapan yang memohon agar doa penguasa mendapat keutamaan atau dikabulkan terlebih dahulu tidak serta-merta berarti pengkultusan. Dalam keyakinan Islam, Allah tetap satu-satunya Zat yang mengabulkan doa. Kedudukan seorang pemimpin tidak memberinya kuasa untuk menentukan terkabulnya doa.
Jika doa untuk pemimpin dimaksudkan agar kebaikan bagi bangsa memperoleh pertolongan Allah, maka orientasinya justru kemaslahatan bersama. Pemimpin yang baik diharapkan melahirkan kebijakan yang baik dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, doa pada peringatan kemerdekaan sebaiknya tidak dipotong menjadi beberapa kalimat lalu diberi label “menjilat” atau “laporan statistik”. Doa adalah ibadah dan ungkapan harapan kepada Allah agar bangsa ini diberi keselamatan, persatuan, keadilan, kesejahteraan, serta pemimpin yang mampu menjalankan amanah.
Pada akhirnya, hadis tentang tiga orang di dalam gua mengajarkan bahwa amal saleh dapat menjadi wasilah dalam doa. Perkataan Fudhail bin ‘Iyadh menunjukkan bahwa mendoakan pemimpin dapat diniatkan untuk kemaslahatan yang lebih luas.
Oleh karenanya, kita cukup membalas doa dengan bacaan Amin! dengan harapan doa terkabul. Kita handaknya paham bahwa yang dituju dalam doa bukan manusia, melainkan Allah. Manusia berikhtiar, amal saleh menjadi wasilah, sedangkan Allah-lah satu-satunya Zat yang mengabulkan doa.
*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, Guru Besar dan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.

