KILAS BANTEN – Organisasi Pengurus Santri Al-Fathaniyah (ORSAFAH) kembali menggelar Musyawarah Santri (MUSANTRI) XVII sebagai forum tertinggi organisasi yang menentukan arah kebijakan sekaligus memilih pemimpin baru Lurah ‘Aam. Kegiatan yang berlangsung di Gedung An-Nahdloh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah pada 7–8 Agustus 2026 itu mengangkat tema “Revitalisasi Peran Santri: Bergerak Bersama demi Mewujudkan Organisasi yang Tangguh dan Maslahat.”
Forum tersebut menjadi momentum penting bagi organisasi santri untuk melakukan evaluasi, menyusun kebijakan baru, sekaligus memperkuat sistem kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai keislaman dan kemaslahatan bersama.

Agenda MUSANTRI XVII ORSAFAH di Gedung An-Nahdloh, menekankan pentingnya kepemimpinan santri yang berlandaskan akhlak Rasulullah SAW, Jumat-Sabtu, 7-8 Agustus 2026
Sebanyak 11 komplek wilayah mengirimkan masing-masing lima delegasi untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Para peserta terlibat dalam sidang pleno, pembahasan program kerja, penyusunan regulasi organisasi, hingga pengambilan keputusan strategis yang akan menjadi pedoman ORSAFAH pada periode berikutnya.
Dalam sambutannya, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al Fathaniyah, KH Saifun Nawasi, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi.
Menurutnya, seorang pemimpin juga harus memiliki akhlak yang baik serta menjadikan ajaran Islam sebagai dasar dalam setiap kebijakan dan tindakan.
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan teladan kepemimpinan melalui empat sifat utama, yakni Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Keempat sifat tersebut harus menjadi fondasi bagi setiap santri yang kelak mendapat amanah memimpin organisasi.
KH Saifun Nawasi menerangkan bahwa sifat Siddiq mengajarkan pentingnya kejujuran dalam setiap ucapan maupun tindakan. Amanah mengingatkan bahwa setiap jabatan merupakan kepercayaan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Tabligh mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran secara terbuka, sedangkan Fathanah menjadi simbol kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.
Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar memperoleh jabatan atau kedudukan. Seorang pemimpin memikul tanggung jawab besar untuk membawa organisasi berkembang, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi seluruh anggotanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin harus mampu membangun budaya organisasi yang sehat. Selain memiliki kemampuan manajerial, seorang pemimpin wajib menjunjung tinggi akhlak mulia, berpikir positif, dan mampu mengelola setiap program secara profesional agar memberikan hasil yang nyata.
KH Saifun Nawasi menambahkan, pemimpin yang baik tidak boleh membedakan anggotanya. Ia harus mampu merangkul seluruh pihak, mendengarkan berbagai aspirasi, menerima kritik dengan lapang dada, serta menghadirkan solusi yang adil bagi setiap persoalan organisasi.
“Pemimpin harus mampu mengayomi setiap anggotanya, mendengarkan setiap masukan, serta menghadirkan solusi yang bijaksana, adil, dan tepat sasaran dalam menyelesaikan setiap persoalan,” pesannya pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia berharap hasil MUSANTRI XVII mampu melahirkan kepemimpinan baru yang memperkuat persaudaraan antarsantri, meningkatkan kepercayaan dalam organisasi, serta membawa keberkahan bagi lingkungan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah.
Sementara itu, Lurah ‘Aam ORSAFAH PP Al-Fathaniyah, Mahfudz Sahari, menyampaikan refleksi atas perjalanan kepengurusan yang telah berjalan sejak periode 2022. Ia mengungkapkan bahwa berbagai program organisasi berhasil dilaksanakan melalui kerja sama seluruh pengurus, meskipun masih terdapat sejumlah kekurangan yang perlu diperbaiki.
Menurut Mahfudz, seluruh pengurus telah berupaya menjalankan amanah melalui program harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Setiap kegiatan dijalankan dengan semangat belajar dan komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh santri.
Ia mengakui masih terdapat berbagai tantangan selama masa kepemimpinan. Namun, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga yang diharapkan dapat menjadi bekal bagi pengurus selanjutnya untuk menghadirkan inovasi yang lebih baik.
Mahfudz berharap pemimpin baru ORSAFAH mampu membawa organisasi semakin berkembang sekaligus menjadi teladan bagi para santri. Ia juga berharap kepemimpinan yang lahir dari MUSANTRI XVII tidak hanya memberikan manfaat di lingkungan pesantren, tetapi juga ketika para santri nantinya mengabdi di tengah masyarakat.
“Kami berharap lahir pemimpin yang benar-benar dapat diandalkan masyarakat serta membawa manfaat dalam setiap amanah yang diembannya,” ujarnya.
Kendati demikian, Ketua Badan Panitia MUSANTRI XVII, Safiroh Febriani, menjelaskan bahwa Musyawarah Santri merupakan agenda strategis yang memiliki peran penting dalam menentukan arah perjalanan organisasi.
Menurut Safiroh, forum tersebut bukan hanya menjadi ruang evaluasi kepengurusan, tetapi juga tempat merumuskan berbagai produk hukum, peraturan, dan kebijakan yang akan menjadi acuan resmi bagi seluruh santri dalam menjalankan aktivitas organisasi.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan MUSANTRI XVII melalui tahapan yang cukup panjang. Proses tersebut dimulai dari penyusunan draf materi, pembahasan rancangan peraturan, hingga persiapan teknis agar seluruh sidang pleno dapat berlangsung secara efektif.
Seluruh rangkaian persiapan melibatkan berbagai unsur organisasi. Langkah tersebut dilakukan agar setiap keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kebutuhan santri sekaligus menjawab tantangan perkembangan organisasi di masa mendatang.
Safiroh menambahkan bahwa puncak MUSANTRI XVII adalah lahirnya berbagai keputusan strategis yang akan menjadi dasar arah kebijakan ORSAFAH pada periode berikutnya, termasuk menetapkan pemimpin baru yang akan mengemban amanah sebagai Lurah ‘Aam.
Ia berharap kepemimpinan yang terpilih mampu menjaga integritas, memperkuat budaya musyawarah, meningkatkan kualitas pelayanan kepada santri, serta menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai organisasi.
Melalui tema revitalisasi peran santri, MUSANTRI XVII diharapkan tidak hanya menghasilkan regenerasi kepemimpinan, tetapi juga melahirkan kebijakan yang mampu memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas pembinaan santri, serta memperluas manfaat ORSAFAH bagi kehidupan pesantren.
Forum ini menjadi tonggak penting dalam membangun organisasi santri yang semakin tangguh, profesional, berintegritas, dan berlandaskan akhlak Rasulullah SAW sehingga mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang siap mengabdi bagi umat, bangsa, dan masyarakat.***

