KILAS BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang Selatan mencatat hasil menggembirakan dari uji coba budidaya bawang merah varietas Batu. Komoditas yang umumnya tumbuh optimal di wilayah dataran tinggi itu kini berhasil dipanen di kawasan dataran rendah berkat pemanfaatan pupuk bio organik berbasis mikroba.
Keberhasilan tersebut disambut langsung Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie saat menghadiri panen perdana bawang merah yang digelar bersamaan dengan Pasar Murah Hasil Bumi oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jombang.
Panen perdana ini menjadi bukti bahwa inovasi di sektor pertanian mampu membuka peluang baru bagi pengembangan pertanian perkotaan di Tangerang Selatan. Selain menghasilkan tanaman yang tumbuh sehat, ukuran umbi bawang merah yang dipanen juga dinilai lebih besar dibandingkan hasil budidaya biasa.
Benyamin mengaku terkesan dengan hasil uji coba tersebut. Menurutnya, keberhasilan membudidayakan bawang merah di wilayah yang selama ini dianggap kurang ideal menjadi pencapaian penting bagi sektor pertanian daerah.
“Yang paling menakjubkan adalah bawang yang semestinya tidak dapat tumbuh di daerah seperti kita karena ketinggiannya, namun dengan pupuk ini produksinya bagus sekali. Bawangnya lebih besar,” ujar Benyamin, Sabtu, 13 Juni 2026.
Ia menilai teknologi pertanian harus terus dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan lahan dan kondisi geografis di kawasan perkotaan. Inovasi seperti ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Melihat hasil yang menjanjikan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berencana melanjutkan kerja sama dengan PT BioArk Global Pte. Ltd. melalui DKP3. Langkah tersebut dilakukan untuk mengkaji penggunaan pupuk bio-organik secara lebih luas apabila hasil uji coba berikutnya tetap menunjukkan performa yang positif.
Benyamin menjelaskan, bawang merah merupakan salah satu kebutuhan pokok rumah tangga yang tingkat konsumsinya cukup tinggi. Karena itu, peningkatan produksi lokal dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
“Bawang itu konsumsi dapur yang cukup banyak, selain cabai dan sebagainya. Kalau berhasil nanti pupuk yang digunakan akan kita produksi cukup banyak dan disebarkan ke masyarakat, sehingga produksi rumah tangganya cukup besar di Tangsel,” katanya.
Saat ini, uji coba masih difokuskan pada komoditas bawang merah. Pemerintah daerah akan mengevaluasi hasilnya sebelum memperluas penerapan teknologi tersebut ke komoditas hortikultura lain, termasuk cabai.
Sementara itu, CEO PT BioArk Global Pte. Ltd., Edward, menjelaskan bahwa pupuk Arktivate dikembangkan dengan teknologi mikroba yang dirancang untuk meningkatkan kualitas tanah sekaligus membantu tanaman menghadapi dampak perubahan iklim.
Menurut Edward, media tanam yang menggunakan teknologi tersebut mampu mempertahankan kelembapan tanah hingga 20 persen lebih baik. Selain itu, kandungan nutrisi di dalam tanah juga dapat bertahan sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan media tanam organik konvensional.
“This soil has proven to retain moisture by 20 percent and it also can retain the nutrients by 10 percent, so it can perform much better than the usual organic soil,” ujar Edward.
Peningkatan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan nutrisi membuat tanaman memperoleh suplai unsur hara yang lebih stabil selama masa pertumbuhan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas sekaligus menghasilkan panen dengan kualitas yang lebih baik.
Keberhasilan panen perdana bawang merah varietas Batu ini diharapkan menjadi awal lahirnya inovasi pertanian perkotaan di Tangerang Selatan. Jika hasil pengembangan terus konsisten, teknologi pupuk bio-organik tersebut berpeluang diterapkan secara lebih luas untuk mendukung produksi pangan lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim.***

