Perpustakaan Kampung di Tangerang Raih Penghargaan Nasional, Bukti Literasi Warga Makin Berkibar

Kilas Banten
18 Mei 2026 23:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Perpustakaan berbasis masyarakat di Kota Tangerang kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Perpustakaan Si Atang yang berada di Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, berhasil meraih penghargaan “Mitra Jempolan” dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

 

Penghargaan tersebut diberikan dalam program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Perpustakaan Si Atang dinilai berhasil menghadirkan program literasi yang aktif, inovatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.

 

Capaian itu menjadi semakin istimewa karena Perpustakaan Si Atang berhasil memperoleh nilai sempurna dalam penilaian Key Performance Indicator (KPI), yakni 100 poin. Penilaian tersebut diberikan kepada perpustakaan mitra yang dinilai konsisten menjalankan program serta aktif melaporkan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

 

Ketua Perpustakaan Si Atang, Maryono, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa perpustakaan kampung mampu berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi warga.

 

“Penghargaan ini menjadi apresiasi atas kerja keras seluruh relawan dan masyarakat yang selama ini ikut membangun budaya literasi di lingkungan kami,” ujar Maryono, Senin, 18 Mei 2026.

 

Menurutnya, Perpustakaan Si Atang tidak hanya difungsikan sebagai tempat membaca buku. Pengelola juga aktif menjalankan berbagai program sosial dan edukasi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

 

Salah satu program unggulan yang rutin dijalankan adalah pojok baca untuk anak-anak dan warga sekitar. Program tersebut dibuat untuk meningkatkan minat baca sejak usia dini sekaligus membangun budaya literasi di lingkungan masyarakat.

 

Selain itu, pengelola juga mengadakan kegiatan mendongeng bersama maskot Si Atang. Program itu dinilai efektif menarik perhatian anak-anak agar lebih dekat dengan buku dan kegiatan membaca.

 

“Anak-anak biasanya lebih antusias saat ada kegiatan mendongeng. Dari situ kami mencoba menanamkan kebiasaan membaca secara menyenangkan,” katanya.

 

Tidak hanya fokus pada dunia literasi, Perpustakaan Si Atang juga aktif melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di lingkungan sekitar. Melalui program tersebut, warga mendapatkan pendampingan dan motivasi agar usaha mereka dapat berkembang.

 

Maryono menjelaskan, perpustakaan saat ini harus mampu menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan hanya tempat menyimpan buku. Karena itu, pihaknya berupaya menghadirkan program yang bermanfaat secara langsung bagi warga.

 

“Selain literasi, kami juga melakukan pembinaan UMKM agar usaha warga bisa berkembang dan memiliki daya saing,” ujarnya.

 

Program lain yang juga rutin dilakukan adalah bimbingan mengaji bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan karakter dan nilai sosial di tengah masyarakat.

 

Konsistensi menjalankan berbagai program membuat Perpustakaan Si Atang dikenal sebagai ruang pemberdayaan masyarakat berbasis inklusi sosial. Kehadiran perpustakaan tersebut dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih terbuka dan bermanfaat bagi warga sekitar.

 

Sebelumnya, Perpustakaan Si Atang juga pernah menerima Penghargaan Nasional Menulis Cerita Dampak Terbaik dari Perpusnas. Prestasi tersebut semakin memperkuat posisi perpustakaan itu sebagai salah satu perpustakaan masyarakat yang aktif dan inovatif di Indonesia.

 

Maryono berharap penghargaan terbaru ini dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ia juga berharap keberadaan Perpustakaan Si Atang mampu membawa nama baik Kota Tangerang di tingkat nasional.

 

“Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” ucapnya.

 

Meski telah meraih penghargaan nasional, pengelola mengaku masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Saat ini, mereka berharap adanya dukungan pembangunan gedung permanen agar kegiatan literasi dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan lebih maksimal.

 

Keberhasilan Perpustakaan Si Atang menjadi bukti bahwa gerakan literasi berbasis masyarakat masih memiliki peran penting di tengah perkembangan era digital. Melalui program yang kreatif dan menyentuh kebutuhan warga, perpustakaan kampung mampu tumbuh menjadi pusat edukasi sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.***