Polemik Ucapan Selamat Natal, Tokoh Agama Taktakan KH Achmad Moenifi: Bukan Soal Akidah, Ini Wilayah Sosial

Kilas Banten
30 Des 2025 10:00
Serang 0
3 menit membaca

Ia menilai ucapan Selamat Natal sebagai bagian dari etika sosial. Ucapan tersebut tidak mengandung pengakuan atas keyakinan agama lain, melainkan sebatas ekspresi penghormatan dan hubungan kemanusiaan.

“Ucapan itu bukan pengakuan iman. Itu hanya bentuk sopan santun dan adab dalam pergaulan sosial,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ajaran Islam menekankan pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia. Prinsip tersebut bersifat universal dan tidak dibatasi oleh perbedaan agama.

“Dalam Al-Qur’an, khususnya Surat An-Nisa, dijelaskan pentingnya menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. Konsep lita’arafu atau saling mengenal dan berinteraksi itu tidak masuk wilayah akidah,” kata KH Achmad Moenifi.

Ia juga menyinggung teladan Nabi Muhammad SAW dalam membangun kehidupan sosial yang inklusif. Saat hijrah ke Madinah, Nabi hidup di tengah masyarakat yang beragam latar belakang agama dan kepercayaan.

“Di Madinah tidak semuanya Muslim. Ada Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya. Namun Nabi tidak membangun masyarakat yang eksklusif. Beliau justru memimpin seluruh penduduk Madinah,” tuturnya.

Baca Juga  Optimalkan Pendapatan Daerah, Wali Kota Serang Jamin Keamanan Investor dari Pungutan Liar

Menurutnya, fakta sejarah tersebut menjadi bukti bahwa Islam sejak awal mengajarkan toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk membangun tatanan sosial yang harmonis.

KH Achmad Moenifi juga mengutip pandangan ulama besar asal Banten, Syekh Nawawi Tanara. Ia merujuk penafsiran Syekh Nawawi dalam kitab Qhami’ Thugyan yang mengulas nadzam Syu’abul Iman terkait konsep kasih sayang terhadap sesama.