Direktur Utama PT Solusindo Sampah Energi, Mahathir, menjelaskan pihaknya menggunakan teknologi Kanadevia dari Jepang. Teknologi tersebut telah diterapkan di berbagai negara seperti Jepang, Uni Emirat Arab, India, dan Singapura.
Menurut Mahathir, sistem itu mampu meningkatkan efisiensi pengolahan sampah karena tidak membutuhkan lahan penimbunan dalam jumlah besar.
“Teknologi ini tidak perlu pemilahan,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebut residu hasil pembakaran sangat kecil. Selain itu, emisi asap juga dapat diolah kembali menjadi gas metan maupun bahan bakar berbasis plastik.
“Asap pembakaran bisa ditangkap untuk diolah menjadi gas metan atau bahan bakar dari plastik,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Head of System Innovation Section Social System Division National Institute for Environmental Studies (NIES), Profesor Minoru Fujii, turut memaparkan keunggulan teknologi tersebut. Ia menilai pengolahan sampah menjadi energi uap lebih efisien dibanding penggunaan batu bara maupun gas bumi.
Selain menekan biaya energi, teknologi itu juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi timbunan sampah dan emisi karbon.
Pengembangan PSEL di Banten diharapkan menjadi langkah strategis untuk menjawab persoalan sampah perkotaan sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia.***
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
















