UIN Banten Cetak Dai Inklusif, Mahasiswa Belajar Bahasa Isyarat Demi Rangkul Penyandang Disabilitas

Kilas Banten
8 Mei 2026 08:00
Banten 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten terus mendorong lahirnya dai yang lebih inklusif dan peduli terhadap penyandang disabilitas. Upaya itu diwujudkan melalui Pelatihan Dakwah Inklusif bertema “Menjadi Dai yang Peka dan Peduli Disabilitas” yang digelar di aula Fakultas Dakwah.

 

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 100 mahasiswa KPI. Pelatihan menghadirkan Ketua Jurusan Pendidikan Khusus FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Reza Febri Abadi, serta dua mahasiswi penyandang disabilitas yang menjadi instruktur bahasa isyarat.

 

Pelatihan ini menjadi salah satu langkah konkret UIN Banten dalam membangun model dakwah yang lebih terbuka, humanis, dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok disabilitas yang selama ini masih menghadapi berbagai hambatan komunikasi.

 

Ketua Prodi KPI UIN Banten, Mubibuddin, mengatakan kegiatan tersebut dilandasi komitmen kampus untuk memberikan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas dalam memperoleh akses informasi dan dakwah keagamaan.

 

Menurut dia, program itu juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak-hak penyandang disabilitas, termasuk akses terhadap pendidikan dan layanan informasi keagamaan.

 

“Kegiatan ini sejatinya telah digagas sejak 2023, namun baru dapat direalisasikan tahun ini. Kami menyadari pelatihan satu hari tidak cukup, sehingga kami menjalin kerja sama dengan Jurusan Pendidikan Khusus FKIP Untirta untuk program lanjutan,” ujar Mubibuddin, Kamis, 7 Mei 2026.

 

Ia menjelaskan, pembelajaran bahasa isyarat bukan proses singkat. Peserta membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk memahami dasar komunikasi. Sementara untuk mencapai tingkat mahir, proses belajar dapat berlangsung hingga tujuh tahun.

 

Karena itu, pihak kampus menilai kerja sama lintas disiplin menjadi faktor penting agar pelatihan dakwah inklusif dapat terus berkembang dan berkelanjutan.

 

Mubibuddin menilai dai di era modern tidak cukup hanya memiliki kemampuan ceramah. Dai juga harus mampu memahami kebutuhan sosial masyarakat dan menjangkau kelompok rentan yang selama ini belum mendapatkan akses komunikasi secara maksimal.

 

“Dakwah harus bisa dirasakan semua kalangan tanpa terkecuali, termasuk saudara-saudara penyandang disabilitas,” katanya.

 

Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah UIN Banten, Prof. Endad Musaddad, menegaskan pelatihan tersebut bukan sekadar pembelajaran teknis bahasa isyarat. Menurut dia, kegiatan itu merupakan implementasi nyata nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dalam dakwah.

 

Ia mengatakan dakwah harus hadir dengan pendekatan yang merangkul dan memberdayakan masyarakat, terutama kelompok yang kerap terpinggirkan.

 

“Dakwah tidak hanya melalui lisan, tetapi juga tindakan yang menyentuh kelompok terpinggirkan. Bahasa isyarat menjadi jembatan komunikasi yang membuka ruang interaksi dan menghadirkan rasa dihargai. Ini adalah dakwah yang merangkul dan memberdayakan,” ujar Prof. Endad.

 

Ia menambahkan, Fakultas Dakwah UIN Banten berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada pengembangan akademik, tetapi juga penguatan nilai sosial dan kemanusiaan.

 

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung belajar bahasa isyarat dari instruktur penyandang disabilitas. Pengalaman itu dinilai mampu membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya komunikasi inklusif dalam kehidupan sosial maupun dakwah keagamaan.

 

Kegiatan ini juga mendapat respons positif dari peserta. Banyak mahasiswa mengaku memperoleh perspektif baru tentang pentingnya membangun dakwah yang lebih ramah terhadap kelompok disabilitas.

 

Pelatihan Dakwah Inklusif tersebut dinilai menjadi tonggak penting dalam transformasi pendidikan dakwah di UIN Banten. Kampus ingin melahirkan generasi dai yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki empati tinggi dan kepedulian sosial yang kuat.

 

Melalui kolaborasi bersama FKIP Untirta, program dakwah inklusif diharapkan terus berkembang dan mampu mencetak dai yang mampu menjadi jembatan komunikasi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan kondisi fisik maupun sosial.***