Ia menjelaskan, pembelajaran bahasa isyarat bukan proses singkat. Peserta membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk memahami dasar komunikasi. Sementara untuk mencapai tingkat mahir, proses belajar dapat berlangsung hingga tujuh tahun.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, pihak kampus menilai kerja sama lintas disiplin menjadi faktor penting agar pelatihan dakwah inklusif dapat terus berkembang dan berkelanjutan.
Mubibuddin menilai dai di era modern tidak cukup hanya memiliki kemampuan ceramah. Dai juga harus mampu memahami kebutuhan sosial masyarakat dan menjangkau kelompok rentan yang selama ini belum mendapatkan akses komunikasi secara maksimal.
“Dakwah harus bisa dirasakan semua kalangan tanpa terkecuali, termasuk saudara-saudara penyandang disabilitas,” katanya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah UIN Banten, Prof. Endad Musaddad, menegaskan pelatihan tersebut bukan sekadar pembelajaran teknis bahasa isyarat. Menurut dia, kegiatan itu merupakan implementasi nyata nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dalam dakwah.
Ia mengatakan dakwah harus hadir dengan pendekatan yang merangkul dan memberdayakan masyarakat, terutama kelompok yang kerap terpinggirkan.
“Dakwah tidak hanya melalui lisan, tetapi juga tindakan yang menyentuh kelompok terpinggirkan. Bahasa isyarat menjadi jembatan komunikasi yang membuka ruang interaksi dan menghadirkan rasa dihargai. Ini adalah dakwah yang merangkul dan memberdayakan,” ujar Prof. Endad.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















