KILAS BANTEN – Nahdlatul Ulama (NU) memasuki fase penting dalam perjalanan organisasinya. Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi digelar di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai 27 hingga 30 Agustus 2026. Forum tertinggi organisasi ini akan menentukan kepemimpinan baru sekaligus menetapkan arah kebijakan PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.
Sorotan utama Muktamar dipastikan tertuju pada proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Selain memilih pemimpin baru, forum lima tahunan tersebut juga akan membahas berbagai persoalan strategis, mulai dari isu keagamaan, penguatan organisasi, hingga penyusunan program kerja lima tahun mendatang.
Meski pembukaan resmi baru dilaksanakan pada Kamis malam, seluruh tahapan Muktamar sebenarnya telah dimulai sejak Rabu, 26 Agustus 2026. Pada hari pertama, panitia membuka registrasi bagi peserta yang berasal dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), hingga Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
Seluruh rangkaian agenda tersebut mengacu pada Surat PBNU Nomor 970/PB.02/A.I.01.47/99/08/2026 tertanggal 23 Agustus 2026. Dokumen itu ditandatangani oleh Rais Syuriyah PBNU Prof Mohammad Nuh bersama Katib Aam PBNU Akhmad Said Asrori.
Dalam surat tersebut dijelaskan secara rinci tahapan pelaksanaan Muktamar, mulai dari registrasi peserta, sidang pleno, pembahasan komisi, proses pemilihan pimpinan baru, hingga penutupan.
Registrasi Jadi Tahapan Awal
Panitia memulai registrasi peserta sejak Rabu pukul 10.00 WIB di kompleks Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum.
Setiap peserta diwajibkan membawa QR Code pendaftaran yang telah disesuaikan dengan Surat Keputusan PBNU. Selain itu, seluruh identitas peserta harus melewati proses verifikasi oleh Sekretariat Panitia Muktamar.
Verifikasi tersebut menjadi syarat penting karena hanya peserta yang telah dinyatakan sah yang berhak mengikuti seluruh persidangan, termasuk menggunakan hak suara dalam setiap pengambilan keputusan selama Muktamar berlangsung.
Presiden Dijadwalkan Membuka Muktamar
Pembukaan resmi Muktamar akan berlangsung pada Kamis malam di Lapangan Untung Suropati.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon. Setelah itu dilanjutkan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pembacaan sholawat, serta sambutan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Shohibul Bait juga dijadwalkan memberikan sambutan kepada seluruh peserta Muktamar. Berikutnya, Ketua Panitia akan menyampaikan laporan penyelenggaraan sekaligus menyerahkan draf materi Muktamar kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
KH Yahya Cholil Staquf kemudian dijadwalkan menyampaikan pidato sebelum Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar memberikan khutbah iftitah sebagai penanda dimulainya rangkaian persidangan.
Jadwal pembukaan semakin mendapat perhatian karena Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan hadir untuk memberikan amanat sekaligus membuka secara resmi Muktamar ke-35 PBNU. Seluruh rangkaian pembukaan akan ditutup dengan doa bersama.
Sidang Pleno dan Komisi Dimulai Hari Kedua
Memasuki Jumat, 28 Agustus 2026, peserta mulai mengikuti Sidang Pleno I yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB.
Forum tersebut akan mengesahkan jadwal pelaksanaan dan tata tertib Muktamar. Sidang dipimpin oleh KH Ahmad Said Asrori bersama Prof Mohammad Nuh.
Pada siang hari, Sidang Pleno II membahas laporan pertanggungjawaban PBNU masa khidmah 2021-2026. Peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan umum sebelum pengurus memberikan jawaban resmi atas berbagai masukan yang berkembang dalam forum.
Malam harinya, pembahasan berlanjut melalui enam komisi yang menangani bidang berbeda.
Komisi A membahas Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Waqi’iyyah. Komisi B mengkaji Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudlu’iyyah. Komisi C membahas Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Qonuniyyah. Komisi D fokus pada persoalan organisasi. Komisi E menyusun program kerja PBNU, sedangkan Komisi F merumuskan rekomendasi strategis yang nantinya menjadi keputusan resmi Muktamar.
Sabtu Jadi Hari Penentuan Ketua Umum PBNU
Hari ketiga atau Sabtu, 29 Agustus 2026, diperkirakan menjadi momen paling menentukan.
Sejak pagi hingga siang, seluruh komisi menuntaskan pembahasan masing-masing. Hasil kerja tersebut kemudian disahkan melalui Sidang Pleno III sebagai keputusan resmi Muktamar.
Agenda berikutnya berlanjut pada Sidang Pleno IV yang membahas tata tertib pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Dalam sidang ini juga dilakukan tabulasi usulan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Puncak Muktamar berlangsung pada malam hari melalui Sidang Pleno V.
Dalam forum tersebut, kepengurusan PBNU masa khidmah 2021-2026 akan dinyatakan demisioner. Selanjutnya peserta menetapkan anggota AHWA sebelum memasuki sidang tertutup untuk menentukan Rais Aam PBNU periode 2026-2031.
Setelah penetapan Rais Aam selesai, peserta melanjutkan agenda pemilihan Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026-2031. Forum juga akan menetapkan mede formatur sebagai bagian dari proses penyusunan kepengurusan baru.
Karena menentukan arah organisasi lima tahun ke depan, sidang pada Sabtu malam diperkirakan menjadi agenda yang paling menyita perhatian warga Nahdliyin maupun masyarakat luas.
Penutupan dan Konferensi Pers
Muktamar ke 35 NU dijadwalkan berakhir pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Acara penutupan diawali dengan pembukaan, menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pembacaan sholawat, laporan panitia, hingga penyerahan hasil Muktamar.
Shohibul Bait akan memberikan sambutan sebelum Ketua Umum PBNU terpilih periode 2026-2031 menyampaikan pidato perdananya. Setelah itu, Rais Aam PBNU terpilih dijadwalkan memberikan sambutan sekaligus menutup secara resmi Muktamar.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, panitia akan menggelar konferensi pers bersama Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih pada pukul 10.15 hingga 12.00 WIB.
Melalui Muktamar ke-35 ini, Nahdlatul Ulama tidak hanya memilih pemimpin baru, tetapi juga menetapkan berbagai keputusan strategis yang akan menjadi pedoman organisasi selama lima tahun mendatang. Dengan agenda yang telah tersusun secara rinci, forum di Jombang tersebut menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi sekaligus penentuan arah kebijakan PBNU menuju masa khidmah 2026-2031. Perhatian publik kini tertuju pada proses pemilihan yang akan melahirkan nahkoda baru organisasi Islam terbesar di Indonesia.***

