Nasional

Ratusan Warga NU Padati Mubes 2026 di Jombang, Gelombang Aspirasi Menggema untuk Masa Depan Nahdlatul Ulama

×

Ratusan Warga NU Padati Mubes 2026 di Jombang, Gelombang Aspirasi Menggema untuk Masa Depan Nahdlatul Ulama

Sebarkan artikel ini
Ratusan peserta mengikuti Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU 2026 di halaman Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyah (MASS) Seblak, Jombang, sebagai forum penyampaian aspirasi dan rekomendasi bagi masa depan Nahdlatul Ulama.
Ratusan peserta mengikuti Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU 2026 di halaman Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyah (MASS) Seblak, Jombang, sebagai forum penyampaian aspirasi dan rekomendasi bagi masa depan Nahdlatul Ulama.

KILAS BANTEN – Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang digelar di halaman Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Jumat kemarin menyedot perhatian ratusan kader dan warga NU dari berbagai daerah. Sekitar 400 hingga 500 peserta hadir untuk menyampaikan aspirasi, kritik, serta gagasan demi memperkuat arah organisasi Nahdlatul Ulama pada masa mendatang.

Panitia menegaskan bahwa Mubes Warga NU bukan merupakan bagian dari Muktamar NU ke 35. Forum ini bersifat kultural dan disiapkan sebagai ruang dialog terbuka bagi warga NU untuk menyampaikan berbagai pandangan yang nantinya dirumuskan menjadi rekomendasi kepada jajaran pengurus organisasi.

Ketua Pelaksana Mubes Warga NU, Ning Ema Rahmawati, mengatakan masih ada anggapan di masyarakat yang menyamakan kegiatan tersebut dengan Muktamar NU. Menurutnya, persepsi tersebut perlu diluruskan karena tujuan kedua forum berbeda.

“Ini kadang kala ada sebagian yang menganggap sebagai Muktamar. Ini khusus warga-warga NU yang ingin menyampaikan kegelisahan yang nantinya kita jadikan perjuangan, masukan di struktur untuk menampung kegelisahan kita. Jadi ini forum khusus kultural NU,” ujar Ning Ema, Sabtu (29/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa Mubes sengaja dibentuk agar warga NU memiliki ruang untuk berdialog secara terbuka, santun, dan damai. Berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat dapat dibahas bersama sebelum dirumuskan menjadi rekomendasi yang konstruktif.

Menurut Ning Ema, komunikasi yang sehat antara warga dan pengurus menjadi modal penting dalam menjaga dinamika organisasi. Karena itu, forum ini diharapkan mampu menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai pandangan dari kalangan warga NU.

“Ini menjadi ruang kita berbincang bersama apa yang ingin kita sampaikan untuk NU,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa seluruh hasil pembahasan dalam Mubes tidak dimaksudkan sebagai keputusan tandingan terhadap struktur resmi Nahdlatul Ulama. Seluruh aspirasi peserta akan dihimpun dan disusun menjadi rekomendasi yang nantinya disampaikan kepada pengurus sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan organisasi.

Baca Juga  MUBES XIII FKBM KIP-K Jadi Titik Balik Besar, Arah Baru Organisasi Mahasiswa KIP-K UIN Banten Ditetapkan

“Targetnya adalah agar aspirasi-aspirasi kita warga NU menjadi masukan atau rekomendasi untuk struktural NU,” tuturnya.

Panitia berharap seluruh gagasan yang muncul selama forum tidak berhenti sebagai diskusi semata. Setiap usulan akan didokumentasikan secara sistematis agar dapat menjadi bahan evaluasi dan referensi bagi kepengurusan NU dalam merumuskan langkah organisasi ke depan.

Selain menjadi wadah penyampaian aspirasi, Mubes Warga NU 2026 juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional dalam agenda rapat pleno. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya pembahasan mengenai tantangan, peluang, dan arah pengembangan Nahdlatul Ulama di tengah perubahan zaman.

Beberapa tokoh yang dijadwalkan hadir antara lain Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, H. Umar Wahid, Prof. Moh. Mahfudz MD, serta H. Lukman Hakim Saifudin. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi magnet yang menarik antusiasme peserta dari berbagai wilayah untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Panitia mencatat jumlah pendaftar mencapai sekitar 400 hingga 500 orang. Mereka datang dengan membawa beragam pandangan, mulai dari kritik, saran, hingga usulan mengenai penguatan kelembagaan, hubungan antara warga dan pengurus, serta upaya menjaga nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.

Melalui forum ini, penyelenggara berharap tradisi musyawarah tetap hidup sebagai budaya organisasi. Aspirasi yang disampaikan secara terbuka diharapkan mampu memperkuat komunikasi antara warga dan pengurus sehingga Nahdlatul Ulama semakin adaptif menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai persatuan, kebersamaan, dan tradisi yang selama ini menjadi fondasi organisasi.

Mubes Warga NU 2026 juga menunjukkan tingginya kepedulian warga terhadap perjalanan organisasi. Antusiasme ratusan peserta menjadi sinyal bahwa ruang dialog yang inklusif masih dibutuhkan agar berbagai aspirasi dapat tersalurkan secara konstruktif. Dengan demikian, rekomendasi yang lahir dari forum ini diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi penguatan Nahdlatul Ulama dalam menjawab kebutuhan umat dan menjaga perannya sebagai organisasi keagamaan yang terus berkembang.***