Nasional

Bukan Sekadar Jualan, Stand Anak Muda Banten Ini Mendadak Jadi Magnet Ribuan Pengunjung di Muktamar NU ke-35

×

Bukan Sekadar Jualan, Stand Anak Muda Banten Ini Mendadak Jadi Magnet Ribuan Pengunjung di Muktamar NU ke-35

Sebarkan artikel ini
BUMP PMII Provinsi Banten di Bazar Expo Muktamar NU ke-35, Jombang. Beragam kaus dan merchandise bertema NU menjadi incaran peserta hingga mencatat penjualan ribuan produk.
BUMP PMII Provinsi Banten di Bazar Expo Muktamar NU ke-35, Jombang. Beragam kaus dan merchandise bertema NU menjadi incaran peserta hingga mencatat penjualan ribuan produk.

KILAS BANTEN – Di tengah riuhnya gelaran Bazar Expo Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ada satu sudut yang hampir tak pernah sepi. Sejak pagi hingga malam, pengunjung terus berdatangan. Sebagian penasaran melihat deretan desain kaus yang unik, sementara lainnya rela mengantre demi membawa pulang suvenir khas Muktamar.

Stand itu bukan milik perusahaan besar ataupun merek ternama. Pengelolanya justru berasal dari kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Usaha Milik PKC (BUMP) PMII Provinsi Banten.

Di antara puluhan peserta bazar, kehadiran mereka berhasil mencuri perhatian. Antusiasme pengunjung bahkan membuat angka penjualan terus meningkat sejak hari pertama penyelenggaraan Muktamar NU ke-35.

Bagi sebagian orang, kaus, kipas tangan, atau gantungan kunci yang dijual mungkin hanya sekadar cendera mata. Namun bagi kader PMII Banten, setiap produk memiliki makna lebih besar. Di balik transaksi yang terjadi, tersimpan semangat membangun kemandirian ekonomi organisasi melalui tangan-tangan anak muda.

Rohati, salah satu pengelola BUMP PMII Provinsi Banten, menuturkan bahwa keikutsertaan mereka dalam bazar nasional ini bukan semata-mata mengejar keuntungan.

“Momen Muktamar justru dijadikan sebagai ruang belajar untuk membuktikan bahwa kader muda mampu mengembangkan usaha secara profesional,” tuturnya, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurutnya, usia muda merupakan waktu yang paling tepat untuk memulai bisnis. Energi yang masih besar, keberanian mengambil risiko, dan kesempatan memperbaiki kesalahan menjadi modal yang tidak dimiliki semua orang ketika usia semakin matang.

Baginya, kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru pengalaman jatuh bangun dalam berwirausaha menjadi bekal berharga untuk membangun kemampuan mengelola keuangan, memimpin tim, hingga mengambil keputusan penting di masa depan.

Semangat itu terlihat dari capaian penjualan yang terus meningkat. Pada hari pertama Muktamar, sekitar 800 produk berhasil terjual. Memasuki hari kedua, jumlah tersebut melonjak hingga menembus sekitar 1.000 produk. Angka penjualan itu kembali bertahan pada hari ketiga, menunjukkan tingginya minat pengunjung terhadap produk yang mereka tawarkan.

Kesuksesan tersebut tidak datang begitu saja. Rohati menilai kuatnya jaringan kader PMII di berbagai daerah menjadi salah satu faktor penting. Dukungan para senior, kiai, dan tokoh organisasi yang hadir di Muktamar juga ikut mendorong ramainya stand mereka.

Selain itu, kreativitas dalam menghadirkan desain produk menjadi daya tarik tersendiri. Beragam ilustrasi tokoh nasional dan ulama terpampang pada koleksi kaus yang dijual. Mulai dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), logo resmi Muktamar NU ke-35, hingga Prof. Said Aqil Siradj.

Baca Juga  Ratusan Warga NU Padati Mubes 2026 di Jombang, Gelombang Aspirasi Menggema untuk Masa Depan Nahdlatul Ulama

Di antara seluruh koleksi tersebut, kaus bergambar Gus Dur menjadi produk yang paling banyak diburu pengunjung. Meski demikian, kaus dengan logo resmi Muktamar NU juga tidak kalah diminati karena dianggap sebagai suvenir eksklusif yang hanya tersedia selama acara berlangsung.

Banyak peserta sengaja membeli kaus edisi Muktamar sebagai kenang-kenangan. Produk itu menjadi simbol bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perhelatan akbar Nahdlatul Ulama yang hanya digelar dalam periode tertentu.

“Tidak berhenti pada pakaian, stand BUMP PMII Banten juga menghadirkan berbagai merchandise lain, mulai dari kipas tangan, gantungan kunci, hingga aksesori bertema Muktamar NU yang laris diburu pengunjung,” ujarnya.

Menariknya, aktivitas usaha ini juga membuka ruang kolaborasi antarkader PMII dari berbagai daerah. Mereka yang memiliki produk namun terkendala modal dapat memanfaatkan jaringan organisasi untuk memasarkan hasil usahanya.

Skema tersebut diyakini mampu memperkuat ekonomi kader sekaligus menciptakan ekosistem bisnis yang saling mendukung. Seluruh kegiatan usaha itu berada di bawah pengelolaan bidang ekonomi PKC PMII Provinsi Banten, dengan harapan hasilnya dapat menopang berbagai program organisasi secara berkelanjutan.

Rohati menjelaskan, budaya berwirausaha sebenarnya sudah menjadi bagian dari proses kaderisasi PMII. Bahkan sejak mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), para anggota dibiasakan menjalankan usaha sederhana sebagai latihan membangun kemandirian organisasi.

Pengalaman berjualan makanan ringan, minuman, maupun berbagai produk lainnya menjadi bekal sebelum mereka mengelola usaha dalam skala yang lebih besar seperti di Muktamar NU ke-35.

Meski momentum Muktamar menjadi puncak penjualan, BUMP PMII Banten memastikan roda usaha tidak akan berhenti setelah acara usai. Produk tetap tersedia dan melayani pemesanan dari masyarakat maupun kader PMII di berbagai daerah sesuai kebutuhan.

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, promosi juga dilakukan melalui platform digital. Siaran langsung di TikTok dan Instagram dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang tidak dapat hadir langsung di lokasi Muktamar. Cara ini terbukti mampu menghadirkan pesanan dari luar arena bazar.

Di penghujung perbincangan, Rohati mengajak generasi muda agar berani memulai usaha sejak dini. Ia mengingatkan bahwa rasa gengsi sebaiknya disingkirkan demi memperoleh pengalaman yang akan menjadi bekal berharga di masa depan.

Menurutnya, ketika seseorang sudah melewati proses belajar sejak muda, maka saat usia semakin matang.

“Fokusnya bukan lagi memulai usaha dari nol, melainkan mengembangkan bisnis yang telah dibangun dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang,” tutupnya.***