KILAS BANTEN – Polemik yang mengiringi pelaksanaan Muktamar ke 35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, kembali memunculkan berbagai tanggapan dari sejumlah tokoh. Di tengah dinamika yang berkembang, Demisioner Ketua Korps PMII Putri PB PMII (KOPRI PB PMII) masa khidmat 2021–2023, Maya Muizatil Lutfillah, mengingatkan agar NU tidak dijadikan alat untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pernyataan Maya muncul setelah mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI periode 2013–2015, M. Arief Rosyid Hasan, menyampaikan pernyataan bahwa “NU bukan milik Muhaimin Iskandar.” Respons tersebut kemudian memicu diskusi yang lebih luas mengenai posisi organisasi dan nilai-nilai yang selama ini dijunjung Nahdlatul Ulama.
Menurut Maya, NU merupakan organisasi besar yang dibangun melalui perjuangan panjang para ulama, tradisi pesantren, dan pengabdian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, setiap kader maupun warga Nahdliyin memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai tersebut.
“Kalau masih ada orang yang berpandangan bahwa NU dapat diperlakukan seperti milik pribadi atau kelompok tertentu, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya cara pandangnya terhadap NU, tetapi juga niatnya ketika mengabdi untuk NU,” ujar Maya, Senin (31/8/2026).
Ia menilai cara pandang yang menganggap NU sebagai milik seseorang bertentangan dengan semangat organisasi. Baginya, Nahdlatul Ulama hadir untuk melayani kepentingan umat, bukan menjadi simbol yang digunakan demi kepentingan individu ataupun kelompok tertentu.
Dalam keterangannya, Maya juga mengingatkan nilai yang dikenal di lingkungan pesantren, yakni Al-Mar’u Ma’a Man Ahabah.
Menurutnya, kaidah tersebut mengajarkan bahwa seseorang akan dikenal dari siapa yang dicintai dan nilai yang terus diperjuangkannya dalam kehidupan.
Berangkat dari pemahaman itu, Maya mengajak seluruh kader serta warga Nahdlatul Ulama menunjukkan kecintaan kepada organisasi melalui tindakan nyata. Ia menilai menjaga persatuan, mengedepankan akhlak, dan menghormati tradisi organisasi jauh lebih penting daripada sekadar menyampaikan klaim atau pernyataan di ruang publik.
Maya juga menegaskan bahwa setiap orang yang berbicara atas nama NU memikul tanggung jawab moral. Organisasi, menurutnya, tidak boleh dijadikan kendaraan untuk mengedepankan kepentingan pribadi di atas kepentingan umat.
“NU bukan milik personal. NU juga bukan milik satu kelompok saja. NU bukan panggung yang bisa diklaim sebagai milik siapa pun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Maya membedakan antara mencintai organisasi dengan merasa memiliki organisasi. Ia mengatakan bahwa orang yang benar-benar mencintai NU akan berusaha menjaga kehormatan, marwah, dan persatuan organisasi dalam setiap keadaan.
Sebaliknya, orang yang merasa memiliki organisasi berpotensi memaksakan kepentingannya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kritik terhadap organisasi bisa saja dipandang sebagai ancaman terhadap kepentingan pribadi, bukan sebagai masukan untuk perbaikan.
Maya juga mengajukan pertanyaan reflektif kepada seluruh pihak yang terlibat dalam diskusi mengenai NU, termasuk Arief Rosyid. Ia mengajak semua pihak mengevaluasi kembali tujuan ketika berbicara atas nama organisasi.
“Ketika kita berbicara tentang NU, apakah yang sedang kita bela benar-benar NU dan kepentingan umat? Atau jangan-jangan kita sedang membela kepentingan diri sendiri dengan meminjam nama besar NU,” ujarnya.
Menurut Maya, nama besar Nahdlatul Ulama harus tetap dijaga sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Ia mengingatkan agar NU tidak dimanfaatkan untuk membangun citra pribadi maupun kepentingan politik tertentu.
Ia menambahkan bahwa ukuran kecintaan kepada organisasi tidak ditentukan oleh seberapa keras seseorang mengaku mencintai NU. Sebaliknya, kecintaan tersebut tercermin dari kesediaan menjaga persatuan, merawat marwah organisasi, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para ulama.
Pernyataan Maya disampaikan ketika pelaksanaan Muktamar ke-35 NU masih menjadi perhatian publik. Berbagai pandangan dari sejumlah tokoh terus mewarnai jalannya forum tersebut. Di tengah perbedaan pendapat yang muncul, Maya berharap seluruh elemen Nahdlatul Ulama tetap mengedepankan etika organisasi, menghormati tradisi para ulama, serta menempatkan kepentingan umat sebagai prioritas utama.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh warga Nahdliyin menjaga persatuan dan bersama-sama merawat marwah Nahdlatul Ulama agar tetap menjadi organisasi yang mengabdi kepada umat, bukan menjadi alat untuk kepentingan individu maupun kelompok.***






