Serang

Santri Disebut ‘Jimat NKRI’, Rektor UIN SMH Banten Prof Ishom: Peran Besar Pesantren dalam Lahirnya Indonesia

×

Santri Disebut ‘Jimat NKRI’, Rektor UIN SMH Banten Prof Ishom: Peran Besar Pesantren dalam Lahirnya Indonesia

Sebarkan artikel ini
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menyampaikan orasi kesantrian pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar PCNU Kota Serang di Masjid Agung Ats Tsauroh, Jumat (23/10/2026).
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menyampaikan orasi kesantrian pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar PCNU Kota Serang di Masjid Agung Ats Tsauroh, Jumat (23/10/2026).

KILAS BANTEN – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kota Serang menjadi momentum untuk menegaskan kembali besarnya kontribusi santri dan pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Prof Muhammad Ishom, bahkan menyebut santri sebagai “Jimat NKRI” karena memiliki peran penting dalam lahir dan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Prof Muhammad Ishom saat memberikan Orasi Kesantrian dalam rangkaian kegiatan Santri Bersholawat yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang di Masjid Agung Ats Tsauroh, Jumat (23/10/2026).

Mengangkat tema “Santri: Jimat NKRI”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang peringatan Hari Santri, tetapi juga ruang refleksi mengenai sejarah panjang perjuangan pesantren sekaligus tantangan pengembangan pendidikan Islam pada masa mendatang.

Dalam orasinya, Prof Muhammad Ishom menegaskan bahwa Hari Santri kini telah berkembang menjadi bagian dari identitas nasional.

Menurutnya, peringatan tersebut tidak lagi hanya dimiliki kalangan pesantren maupun Kementerian Agama, melainkan telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Kehadiran unsur pemerintah, tokoh masyarakat, akademisi hingga masyarakat umum dalam peringatan tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa Hari Santri telah diterima sebagai bagian penting dari sejarah bangsa.

“Ini membuktikan bahwa Hari Santri tidak lagi hanya milik kaum santri. Hari Santri bukan hanya milik Kementerian Agama, tetapi sejatinya harus dirayakan oleh seluruh warga Indonesia,” ujar Prof Muhammad Ishom.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami makna Hari Santri. Padahal, sejarah mencatat bahwa kalangan santri dan ulama memiliki kontribusi besar dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

Prof Muhammad Ishom kemudian mengulas kembali perjalanan sejarah Sumpah Pemuda. Ia menilai para santri saat itu memperlihatkan sikap terbuka dengan mengutamakan kepentingan bangsa dibanding kepentingan golongan.

Menurutnya, semangat tersebut menjadi fondasi lahirnya Indonesia sebagai negara yang mampu menyatukan beragam suku, bahasa, budaya, dan tradisi dalam satu identitas kebangsaan.

Ia juga menyinggung penggunaan istilah “Jawi” yang pernah dikenal luas di kawasan Nusantara. Menurutnya, para santri sebenarnya memiliki peluang mempertahankan identitas tersebut. Namun mereka memilih mendukung penggunaan nama Indonesia sebagai simbol persatuan nasional.

Hal serupa juga terjadi dalam penggunaan bahasa. Meskipun tradisi intelektual pesantren telah lama berkembang melalui aksara pegon atau Jawi, para ulama dan santri menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan demi memperkuat persaudaraan antardaerah.

“Bukan karena tidak mampu mempertahankan tradisi sendiri, tetapi karena santri memiliki sikap legawa dan mengutamakan kepentingan bangsa,” katanya.

Ia menjelaskan, kemampuan pesantren menerjemahkan berbagai kitab berbahasa Arab ke dalam aksara pegon menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam telah memiliki tradisi keilmuan yang kuat sejak ratusan tahun lalu.

Baca Juga  Krisis Sampah Kabupaten Serang Disorot DPRD, Armada Minim dan TPST Belum Maksimal Jadi Penghambat

Karena itu, Prof Muhammad Ishom kembali menegaskan bahwa Hari Santri tidak boleh dipersempit sebagai agenda organisasi tertentu.

“Hari Santri bukan hanya milik Nahdlatul Ulama atau kaum santri. Hari Santri adalah milik negara Indonesia,” tegasnya.

Selain menyoroti sejarah perjuangan bangsa, Prof Muhammad Ishom juga mengingatkan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan asli Indonesia yang telah berkembang jauh sebelum hadirnya sekolah modern.

Menurutnya, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial melalui proses pendidikan yang berlangsung selama 24 jam.

Ia bahkan menilai nilai-nilai pendidikan pesantren sejalan dengan filosofi pendidikan nasional, termasuk semangat Tut Wuri Handayani, karena sama-sama menempatkan pembentukan karakter sebagai pondasi utama pendidikan.

Di sisi lain, Prof Muhammad Ishom menilai pemerintah masih perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan pesantren. Ia mengatakan banyak santri memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi, kewirausahaan, hingga pengembangan sumber daya manusia. Namun, potensi tersebut belum berkembang secara maksimal akibat keterbatasan akses pendidikan, pengakuan kompetensi, dan dukungan fasilitas.

“Saya berharap pemerintah memberikan akses yang lebih luas kepada pesantren. Santri memiliki potensi besar dan tidak akan tertinggal apabila memperoleh kesempatan yang sama,” ujarnya.

Menjelang akhir orasi, Prof Muhammad Ishom mengajak Pemerintah Kota Serang dan Pemerintah Provinsi Banten menjadikan sektor pendidikan sebagai motor utama pembangunan daerah. Ia mengutip pandangan sosiolog George Simmel yang menyebut kemajuan sebuah kota bertumpu pada pendidikan dan hiburan.

Menurutnya, Banten memiliki modal besar melalui keberadaan ribuan pesantren dan perguruan tinggi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Kabupaten Pandeglang, misalnya, dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia sehingga berpotensi menjadi pusat pendidikan Islam yang semakin maju.

Ia juga mengingatkan bahwa Banten sejak dahulu telah menjadi tujuan para ulama dari berbagai negara untuk menimba ilmu di pesantren-pesantren yang berdiri sejak ratusan tahun silam.

“Pemerintah terus memperkuat ekosistem pendidikan pesantren melalui kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan fasilitas pendidikan, serta perluasan akses pengembangan kompetensi santri,” tutupnya.

Menutup orasinya, Prof Muhammad Ishom menyampaikan sebuah pantun yang disambut antusias para peserta. Melalui pesan tersebut, ia mengajak para santri untuk terus menyeimbangkan ikhtiar menuntut ilmu dengan memperbanyak doa.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar PCNU Kota Serang pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Kegiatan itu menegaskan kembali bahwa santri dan pesantren merupakan bagian penting dalam sejarah berdirinya Indonesia sekaligus menjadi kekuatan strategis dalam membangun sumber daya manusia menuju Indonesia yang semakin maju, berkarakter, dan berdaya saing.***