Opini

Bukan Sekadar Hari Santri, Ternyata Banten Punya Sejarah dan Cerita yang Jarang Masuk Timeline

×

Bukan Sekadar Hari Santri, Ternyata Banten Punya Sejarah dan Cerita yang Jarang Masuk Timeline

Sebarkan artikel ini
Resolusi Jihad merupakan dasar historis dan dasar hukum penetapan Hari Santri oleh negara. Sementara itu, Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah merupakan inisiatif yang lahir dari lingkungan pesantren di Banten dan oleh para pendukungnya dipandang sebagai bagian dari dinamika gagasan tentang penguatan dunia pesantren sebelum Hari Santri ditetapkan secara nasional.
Resolusi Jihad merupakan dasar historis dan dasar hukum penetapan Hari Santri oleh negara. Sementara itu, Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah merupakan inisiatif yang lahir dari lingkungan pesantren di Banten dan oleh para pendukungnya dipandang sebagai bagian dari dinamika gagasan tentang penguatan dunia pesantren sebelum Hari Santri ditetapkan secara nasional.

KILAS BANTEN – Kalau membuka media sosial setiap tanggal 22 Oktober, linimasa biasanya dipenuhi foto santri dengan sarung, peci, kitab kuning, hingga berbagai ucapan selamat Hari Santri Nasional.

Namun, di balik peringatan nasional itu, ternyata ada kisah dari Banten yang belum banyak diketahui publik. Cerita ini bukan untuk mengubah sejarah yang sudah ditetapkan negara, melainkan menjadi bagian dari perjalanan panjang dunia pesantren yang tumbuh di tanah para ulama.

Generasi sekarang mungkin melihat santri dengan wajah yang berbeda. Tidak sedikit santri yang aktif membuat podcast, mengelola bisnis online, menjadi penulis, desainer grafis, videografer, hingga kreator konten edukasi. Gaya berpakaiannya pun semakin beragam. Sarung, baju koko, gamis, hijab, dan sneakers bisa berpadu menjadi gaya modest fashion yang sederhana tetapi tetap kekinian. Tradisi tetap dijaga, sementara kreativitas terus berkembang mengikuti zaman.

Kalau berbicara tentang sejarah, Banten memang memiliki posisi yang istimewa. Sejak abad ke-16, Kesultanan Banten berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara. Letaknya yang strategis membuat Pelabuhan Banten menjadi pusat perdagangan internasional yang didatangi pedagang dari Arab, India, Tiongkok, Persia, hingga Eropa. Selain dikenal sebagai pusat perdagangan, Banten juga menjadi salah satu pusat penyebaran ilmu keislaman.

Dari daerah ini lahir banyak tokoh besar. Salah satunya Syekh Nawawi al-Bantani, ulama asal Tanara yang dikenal sebagai salah satu cendekiawan Muslim Indonesia paling berpengaruh. Karya-karyanya hingga kini masih dipelajari di berbagai pesantren di Indonesia maupun Timur Tengah. Selain itu, ada Brigjend KH Syam’un, ulama asal Banten yang dikenal sebagai tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa dunia pesantren di Banten telah tumbuh selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah daerah maupun nasional.

Memasuki era modern, muncul berbagai inisiatif dari kalangan pesantren untuk memperkuat eksistensi pendidikan Islam. Sekitar tahun 2011, sejumlah alim ulama yang tergabung dalam Forum Bintang Sembilan dan Majelis Pesantren Salafiyah Banten mulai menyampaikan aspirasi mengenai pentingnya pengakuan terhadap pesantren salafiyah atau yang akrab disebut masyarakat sebagai pesantren kobong. Salah satu tujuan yang mereka dorong adalah agar kompetensi lulusan pesantren memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan nasional.

Perjalanan gagasan tersebut berlanjut pada 5 Juli 2014 ketika KH Matin Syarkowi menggagas Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah di Tengkele, Kota Serang, Banten. Berdasarkan keterangan para penggagasnya, dokumen tersebut menjadi bagian dari komitmen yang juga ditandatangani oleh calon presiden saat itu, Joko Widodo, dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di Banten.

Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah, Cikal Bakal Hari Santri Nasional lahir dari Tengkele, Kota Serang, Banten
Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah, Cikal Bakal Hari Santri Nasional lahir dari Tengkele, Kota Serang, Banten

Menurut para penyusunnya, Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah memuat sejumlah gagasan mengenai penguatan pesantren, peningkatan kualitas pendidikan santri, pengembangan kemandirian masyarakat, serta penguatan semangat kebangsaan yang berakar pada tradisi pesantren.

Baca Juga  Heboh Lagi, Pandji Pragiwaksono Dilaporkan MPS Banten ke Polisi: Materi Stand Up “Mens Rea” Dinilai Lakukan Penistaan Agama

Pandangan tersebut menempatkan santri sebagai generasi yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pembangunan masyarakat.

Setahun setelah itu, pemerintah secara resmi menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut didasarkan pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang diprakarsai oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu tonggak sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, penting dipahami bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki kedudukan sejarah yang berbeda. Resolusi Jihad merupakan dasar historis dan dasar hukum penetapan Hari Santri oleh negara. Sementara itu, Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah merupakan inisiatif yang lahir dari lingkungan pesantren di Banten dan oleh para pendukungnya dipandang sebagai bagian dari dinamika gagasan tentang penguatan dunia pesantren sebelum Hari Santri ditetapkan secara nasional.

Bagi generasi muda, kisah seperti ini menunjukkan bahwa sejarah Indonesia dibangun dari banyak kontribusi daerah. Tidak semua gagasan berujung menjadi kebijakan negara, tetapi berbagai aspirasi masyarakat tetap menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

Hari ini, santri tidak hanya dikenal melalui aktivitas belajar di pondok. Banyak yang menjadi pendiri startup, pengusaha UMKM, kreator video edukasi, penulis buku, hingga pengembang aplikasi. Kehadiran teknologi justru membuka ruang baru agar nilai-nilai pesantren dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.

Tren modest lifestyle juga memperlihatkan bahwa identitas santri semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Busana muslim yang sederhana kini tampil lebih modern tanpa meninggalkan nilai kesopanan. Sarung, koko, gamis, dan hijab tidak hanya dipakai saat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang membanggakan.

Di Banten sendiri, kehidupan pesantren masih menjadi denyut utama masyarakat. Ratusan pondok pesantren tersebar di Serang, Pandeglang, Lebak, Cilegon, hingga Tangerang. Tradisi mengaji, musyawarah, gotong royong, dan pembentukan karakter terus diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan inilah yang membuat Banten dikenal sebagai salah satu daerah dengan akar keilmuan Islam yang kuat.

Pada akhirnya, Hari Santri bukan hanya menjadi momentum mengenang sejarah nasional, tetapi juga kesempatan untuk mengapresiasi kontribusi berbagai daerah dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Banten menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi pesantren terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan zaman. Dari jejak Kesultanan Banten, lahirnya ulama besar, hingga berbagai inisiatif dari kalangan pesantren pada era modern, semuanya menjadi bagian dari mozaik sejarah yang memperkaya perjalanan santri di Indonesia. Bagi generasi muda, memahami kisah-kisah seperti ini bukan sekadar mengenal masa lalu, tetapi juga belajar bahwa tradisi, kreativitas, dan semangat kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam menghadapi masa depan.

*) Opini ini ditulis oleh Taufik Hidayat, senior advisor GUSDURian Serang Raya, Ketua IKA PMII UIN SMH Banten dan Forum Alumni Santri Al-Fathaniyah (FALSAFAH).

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.