Aplikasi CISADANE Diluncurkan, Pemkot Tangerang Gaspol Digitalisasi Pendidikan Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Kilas Banten
27 Mei 2026 05:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang terus mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan. Terbaru, Pemkot Tangerang resmi meluncurkan aplikasi CISADANE atau Central Informasi Sistem Administrasi Data Edukasi Inklusif dalam ajang O2SN dan FLS3N 2026 di Stadion Benteng Reborn.

 

Peluncuran aplikasi tersebut menjadi langkah serius pemerintah daerah dalam memperkuat layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Pemkot Tangerang ingin memastikan seluruh peserta didik mendapat akses pendidikan yang setara, mudah dijangkau, dan terintegrasi dengan teknologi digital.

 

Wali Kota Tangerang, Sachrudin menegaskan, aplikasi CISADANE hadir untuk mempermudah pelayanan pendidikan sekaligus memperkuat komunikasi antara sekolah, pemerintah, dan orang tua.

 

Menurutnya, pendidikan inklusif membutuhkan sistem yang cepat, tepat, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik secara menyeluruh. Karena itu, digitalisasi menjadi solusi yang dinilai paling efektif untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Kota Tangerang.

 

“Ini untuk memudahkan proses layanan pendidikan, termasuk memperkuat komunikasi antara sekolah, pemerintah dan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Sachrudin, Rabu, 27 Mei 2026.

 

Pemkot Tangerang menilai penggunaan teknologi digital kini menjadi kebutuhan utama dalam pelayanan publik. Tidak terkecuali di sektor pendidikan inklusif yang membutuhkan sistem administrasi dan koordinasi yang terintegrasi.

 

Melalui aplikasi CISADANE, pemerintah berharap proses pendataan siswa berkebutuhan khusus menjadi lebih cepat dan akurat. Selain itu, monitoring layanan pendidikan inklusif juga dapat dilakukan secara lebih efektif.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar menjelaskan, CISADANE dikembangkan sebagai platform digital terpusat untuk mendukung pengelolaan pendidikan inklusif di seluruh sekolah.

 

Menurut Wahyudi, aplikasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media administrasi. Sistem itu juga dirancang untuk mendukung pendataan peserta didik berkebutuhan khusus, monitoring layanan pendidikan, hingga penguatan koordinasi antar sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan.

 

“Sistem ini berfungsi sebagai media administrasi, pendataan peserta didik berkebutuhan khusus, monitoring layanan pendidikan inklusif, hingga penguatan koordinasi antarsatuan pendidikan dan pemangku kepentingan pendidikan,” kata Wahyudi.

 

Ia menambahkan, aplikasi CISADANE juga menjadi bagian dari penguatan Unit Layanan Disabilitas atau ULD yang telah dibentuk Pemkot Tangerang. Pemerintah daerah bahkan melibatkan tenaga psikolog guna membantu layanan konsultasi pendidikan inklusif.

 

Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan dukungan yang lebih maksimal kepada sekolah maupun orang tua siswa. Sebab, pendidikan inklusif tidak hanya berbicara soal akses pendidikan, tetapi juga pendampingan dan perhatian terhadap perkembangan anak.

 

“Melalui aplikasi ini, kami ingin memperkuat sekolah inklusif. Sehingga bukan hanya sekadar pendataan anak berkebutuhan khusus, tetapi juga menghadirkan layanan konseling dan pendampingan,” jelasnya.

 

Keberadaan aplikasi CISADANE diharapkan mampu menjadi solusi atas berbagai tantangan pendidikan inklusif yang selama ini dihadapi sekolah dan pemerintah daerah. Salah satu tantangan terbesar ialah koordinasi antar lembaga yang dinilai masih belum berjalan optimal.

 

Dengan sistem digital yang terintegrasi, proses komunikasi antara sekolah, pemerintah, dan keluarga kini diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien. Pemkot Tangerang juga optimistis layanan pendidikan inklusif dapat semakin berkembang seiring pemanfaatan teknologi digital.

 

Selain meluncurkan CISADANE, Pemkot Tangerang turut memperkenalkan aplikasi SIP PAUD PNF. Platform tersebut digunakan untuk mendukung pengawasan, monitoring, dan pendampingan layanan Pendidikan Anak Usia Dini serta Pendidikan Nonformal.

 

Digitalisasi pendidikan yang dilakukan Pemkot Tangerang menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun sistem pendidikan modern yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

 

Di tengah era teknologi saat ini, pelayanan pendidikan tidak lagi cukup mengandalkan sistem manual. Pemerintah daerah ingin memastikan seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, memperoleh hak pendidikan yang layak tanpa hambatan.

 

Langkah ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa pendidikan inklusif bukan lagi sekadar program pelengkap. Di era digital, layanan pendidikan yang cepat, terintegrasi, dan ramah bagi semua anak sudah menjadi kebutuhan utama.***