CISADANE Resmi Diluncurkan, Pemkot Tangerang Targetkan Bangun Pendidikan Inklusif Berbasis Digital

Kilas Banten
28 Mei 2026 20:45
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang terus memperkuat layanan pendidikan inklusif dengan menghadirkan inovasi digital terbaru bernama Aplikasi CISADANE atau Central Informasi Sistem Administrasi Data Edukasi Inklusif. Aplikasi tersebut kini menjadi salah satu langkah strategis Pemkot Tangerang dalam membangun sistem pendidikan yang lebih ramah bagi siswa penyandang disabilitas.

 

Melalui Dinas Pendidikan, Pemkot Tangerang ingin memastikan seluruh anak mendapatkan akses pendidikan yang setara dan mudah dijangkau. Kehadiran CISADANE sekaligus mempertegas komitmen pemerintah daerah dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar mengatakan, aplikasi CISADANE dirancang sebagai platform terpadu yang menghubungkan seluruh pihak dalam layanan pendidikan inklusif.

 

“Melalui aplikasi ini, sekolah, dinas, Unit Layanan Disabilitas Pendidikan, guru, tenaga ahli hingga orang tua dapat terhubung dalam satu platform layanan pendidikan inklusif,” ujar Wahyudi, Kamis 28 Mei 2026.

 

Ia menjelaskan, sistem tersebut dibuat untuk mempermudah pengelolaan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus. Aplikasi itu memungkinkan proses pendataan, pendampingan hingga komunikasi antara sekolah dan keluarga berjalan lebih cepat dan efektif.

 

Dalam sistem CISADANE, data siswa penyandang disabilitas tersimpan secara terintegrasi mulai dari jenjang PAUD, SD hingga SMP. Informasi yang tersedia mencakup identitas siswa, jenis kebutuhan khusus, hasil asesmen, riwayat pendidikan sampai kebutuhan layanan belajar di sekolah.

 

Dengan sistem berbasis digital itu, proses pengelolaan data dinilai lebih akurat dan mudah diperbarui. Pemerintah daerah juga dapat memetakan kebutuhan pendidikan inklusif secara lebih tepat sasaran.

 

Tidak hanya fokus pada data siswa, aplikasi CISADANE juga memuat informasi Guru Pendidikan Khusus atau GPK yang bertugas mendampingi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Fitur tersebut dinilai penting untuk membantu monitoring layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.

 

“Dengan sistem tersebut, proses monitoring, koordinasi dan distribusi layanan dapat dilakukan lebih efektif dan tepat sasaran,” kata Wahyudi.

 

Pemkot Tangerang juga membuka ruang kolaborasi lebih luas antara sekolah dan orang tua melalui aplikasi tersebut. Salah satu fitur unggulannya ialah laporan perkembangan murid yang dapat dipantau langsung oleh wali murid secara berkala.

 

Lewat fitur itu, orang tua dapat mengetahui perkembangan belajar anak tanpa harus menunggu laporan manual dari sekolah. Di sisi lain, sekolah juga lebih mudah menyampaikan hasil evaluasi maupun kebutuhan pendampingan kepada keluarga siswa.

 

“Tidak hanya sekolah, orang tua juga bisa memantau perkembangan anak melalui fitur laporan perkembangan murid. Jadi, kolaborasi antara sekolah dan keluarga dapat berjalan lebih baik dalam mendukung tumbuh kembang anak,” jelasnya.

 

Selain mendukung sistem pendataan dan monitoring, CISADANE juga terkoneksi dengan layanan Unit Layanan Disabilitas Pendidikan. Layanan tersebut menyediakan konseling online dan offline, asesmen psikologis, asesmen klinis hingga konsultasi pendidikan bagi sekolah maupun orang tua.

 

Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan berpihak kepada kebutuhan siswa disabilitas. Pemanfaatan teknologi juga dinilai mampu mempercepat pelayanan sekaligus memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kota Tangerang.

 

Pemkot Tangerang berharap aplikasi CISADANE dapat menjadi solusi jangka panjang dalam memperkuat layanan pendidikan inklusif. Selain meningkatkan efektivitas pelayanan, sistem digital tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah, kolaboratif dan berpusat pada kebutuhan murid.

 

“Diharapkan, lewat CISADANE, layanan pendidikan inklusif dapat semakin mudah diakses masyarakat, sekaligus menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih ramah, kolaboratif dan berpusat pada kebutuhan murid,” tutup Wahyudi.***