Menurutnya, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap bahaya disinformasi dan deepfake, dua fenomena yang kini mendominasi ruang digital.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Kolaborasi dan literasi digital jadi kunci,” tambahnya.
Seminar Jurnalistik: Tantangan Deepfake dan Disinformasi
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu agenda paling dinanti dalam HES Festival 2025 adalah Seminar Jurnalistik bertema “Deepfake dan Disinformasi: Tantangan Media dalam Memverifikasi Fakta.”
Topik ini dinilai sangat relevan di tengah gempuran informasi palsu dan kemajuan kecerdasan buatan (AI).
Narasumber utama, Taufik Hidayat, S.H., M.H., Editor Media Distriknews.com, menjelaskan bahwa teknologi AI membawa dampak ganda bagi dunia informasi.
“Deepfake menjadi pedang bermata dua. Teknologi ini bisa menciptakan hiburan, tapi juga mengancam keamanan dan privasi digital,” ujar Taufik.
Ia mengingatkan, sejak muncul pada 2017, deepfake sering disalahgunakan untuk menyebar disinformasi, merusak reputasi publik, bahkan memicu kejahatan siber.
“Media massa kini berada di garis depan. Cek fakta yang ketat dan teknologi deteksi AI harus menjadi benteng pertama melawan hoaks,” tegasnya.
Suara Mahasiswa: Literasi Digital Jadi Tanggung Jawab Bersama
Diskusi menjadi lebih hidup ketika beberapa mahasiswa turut menyampaikan tanggapan mereka.
Mahasiswi Silkvia Margasana menyoroti maraknya video manipulatif berbasis AI yang sulit dibedakan dari video asli.
“Banyak masyarakat, terutama ibu rumah tangga, tidak sadar bahwa video yang mereka lihat adalah hasil manipulasi AI. Ini jadi tugas kita untuk memberi edukasi digital,” katanya.
Penulis : Dayat
Editor : Rizki
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















