Opini

Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi

Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi, opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi, opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

KILAS BANTEN – Plastik mulai langka. Gangguan pasokan, kenaikan harga bahan baku, dan tekanan industri membuat benda yang dulu mudah didapat ini kini menjadi barang berharga. Tidak lagi tersedia dalam jumlah yang melimpah, plastik kini menjadi simbol keterbatasan sumber daya yang tak terlihat oleh mata sehari-hari.

 

Respons masyarakat terhadap kelangkaan ini beragam. Ada yang menanggapi dengan panik karena terbiasa mengandalkan kemudahan plastik, dan ada pula yang melihat sisi positifnya. Tanggapan positif muncul karena limbah plastik tetap menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi daratan maupun lautan.

 

Menurut United Nations Environment Programme, produksi plastik global tetap mencapai ratusan juta ton per tahun. Namun distribusinya timpang: sebagian wilayah melimpah, sementara ekosistem alami menanggung beban limbah yang tidak terurai. Ketimpangan ini mencerminkan paradoks modern: kelangkaan fisik berbanding terbalik dengan kelimpahan kerusakan lingkungan.

Isbat Wakaf: Langkah Kecil Berdampak Besar bagi Umat

 

Kajian National Geographic bahkan menunjukkan, seluruh plastik yang pernah diproduksi bisa membungkus bumi berlapis-lapis. Gambaran ini dramatis, mengingatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kelangkaan fisik, melainkan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.

Kelangkaan plastik membuka ruang refleksi moral. Al-Qur’an mengingatkan: “Adapun buih (yang tidak bermanfaat) maka lenyap, sedang apa yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi” (QS. Al-Kahfi: 17). Ayat ini menjadi dasar ecoteologi, mengajarkan manusia untuk membedakan apa yang benar-benar berguna dan tidak merusak alam.

 

Dari perspektif ecoteologi, manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem yang harus dijaga. Plastik boleh digunakan, tetapi hanya bila memberi manfaat nyata tanpa menambah beban lingkungan. Prinsip ini menuntun pemikiran etis dalam memilih bahan sehari-hari.

Antara Kritik, Caci Maki dan Dugaan Kekerasan; Kedewasaan Dalam Demokrasi

 

Solusi teknis mulai muncul sebagai alternatif. Bioplastik dari pati jagung atau rumput laut, kemasan berbasis jamur (mycelium), dan serat bambu menunjukkan bahwa plastik konvensional bukan satu-satunya pilihan. Medium alternatif ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga praktis untuk kehidupan modern.

 

Perubahan konsumsi menjadi kunci. Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri, dan mendukung produk berkelanjutan merupakan langkah konkret. Tindakan ini bukan sekadar praktis, tetapi juga manifestasi tanggung jawab moral terhadap bumi.

 

66 Tahun PMII: Dari Rahim NU hingga Melahirkan Deretan Tokoh Nasional, Begini Jejak Perjuangannya Membangun Indonesia

Kelangkaan plastik memberi sinyal bahwa model konsumsi kita harus direvisi. Krisis pasokan bukan akhir dunia, tetapi panggilan untuk meninjau ulang gaya hidup yang selama ini mengabaikan batas ekologis.

Pandangan ecoteologi menekankan keseimbangan. Manusia perlu menyadari bahwa bumi memberi batas. Setiap penggunaan sumber daya harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem.

 

Mengadopsi bahan yang lebih ramah lingkungan menjadi bentuk kesadaran kolektif. Tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menumbuhkan pola hidup yang selaras dengan alam. Plastik bukan musuh, tetapi pilihan yang salah dapat menimbulkan kerusakan besar.

 

Kelangkaan plastik mendorong inovasi dan kreativitas. Produsen dan konsumen ditantang menemukan solusi baru, dari desain kemasan hingga sistem daur ulang, yang menjaga manfaat bagi manusia tanpa mengorbankan bumi.

 

Akhirnya, krisis ini menjadi refleksi etis. Manusia dituntut memilih bahan yang memberi manfaat nyata dan meninggalkan jejak minimal bagi planet. Kelangkaan plastik bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan momentum untuk hidup lebih bijak, selaras dengan prinsip ecoteologi yang menegaskan tanggung jawab manusia terhadap alam.

 

*) Opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri  Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

 

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.

× Advertisement
× Advertisement