KILAS BANTEN – Dinamika kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memasuki fase krusial. Perbedaan pandangan antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah berkembang menjadi perdebatan terbuka soal arah organisasi dan tata kelola jam’iyyah. Situasi ini tidak lagi terbatas di lingkaran elite PBNU, tetapi meluas ke basis warga nahdliyin di berbagai daerah.
Di tengah ketegangan tersebut, pesan simbolik dari ulama Banten, Abuya Muhtadi bin Dimyati, menguat dan menjadi sorotan. Pesan itu disampaikan melalui syair singkat yang diarahkan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Banyak pihak menilai syair tersebut sarat makna dan relevan dengan kondisi internal PBNU saat ini.
Informasi itu disampaikan Zaenal Abidin, tokoh Banser senior NU Banten, yang mengikuti langsung rangkaian pertemuan antara pimpinan PBNU dan Abuya Muhtadi di Cidahu, Kabupaten Pandeglang. Menurut Zaenal, pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa, 14 Oktober 2025, dengan suasana sederhana dan tanpa agenda seremonial.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Pertemuannya singkat. Abuya tidak memberi sambutan panjang. Beliau langsung menyampaikan syair,” kata Zaenal Abidin kepada wartawan, Kamis, 15 Desember 2025.
Syair Wathwath yang dibacakan Abuya Muhtadi berbunyi, Nahnu Banu Dimyath, lana sa‘run tsabat. Nahnu ahlur ribath, fina baitul wathwath. Zaenal menjelaskan, dalam tradisi pesantren, syair bukan sekadar rangkaian kata indah. Syair sering digunakan sebagai sarana nasihat, peringatan, sekaligus isyarat moral.
Ia menegaskan, syair tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk pujian atau pengagungan diri. Istilah wathwath, yang berarti kelelawar, kerap dimaknai sebagai simbol ruang gelap atau wilayah abu-abu yang berada di antara terang dan gelap.
Penulis : Dayat
Editor : Rizki
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















