Syair Abuya Muhtadi Menggema, Kepemimpinan PBNU Masuk Fase Penentuan

Kilas Banten
18 Des 2025 13:04
Banten 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Dinamika kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memasuki fase krusial. Perbedaan pandangan antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah berkembang menjadi perdebatan terbuka soal arah organisasi dan tata kelola jam’iyyah. Situasi ini tidak lagi terbatas di lingkaran elite PBNU, tetapi meluas ke basis warga nahdliyin di berbagai daerah.

Di tengah ketegangan tersebut, pesan simbolik dari ulama Banten, Abuya Muhtadi bin Dimyati, menguat dan menjadi sorotan. Pesan itu disampaikan melalui syair singkat yang diarahkan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Banyak pihak menilai syair tersebut sarat makna dan relevan dengan kondisi internal PBNU saat ini.

Informasi itu disampaikan Zaenal Abidin, tokoh Banser senior NU Banten, yang mengikuti langsung rangkaian pertemuan antara pimpinan PBNU dan Abuya Muhtadi di Cidahu, Kabupaten Pandeglang. Menurut Zaenal, pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa, 14 Oktober 2025, dengan suasana sederhana dan tanpa agenda seremonial.

“Pertemuannya singkat. Abuya tidak memberi sambutan panjang. Beliau langsung menyampaikan syair,” kata Zaenal Abidin kepada wartawan, Kamis, 15 Desember 2025.

Syair Wathwath yang dibacakan Abuya Muhtadi berbunyi, Nahnu Banu Dimyath, lana sa‘run tsabat. Nahnu ahlur ribath, fina baitul wathwath. Zaenal menjelaskan, dalam tradisi pesantren, syair bukan sekadar rangkaian kata indah. Syair sering digunakan sebagai sarana nasihat, peringatan, sekaligus isyarat moral.

Ia menegaskan, syair tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk pujian atau pengagungan diri. Istilah wathwath, yang berarti kelelawar, kerap dimaknai sebagai simbol ruang gelap atau wilayah abu-abu yang berada di antara terang dan gelap.

“Abuya tidak menyebut nama siapa pun. Tetapi isyaratnya jelas. Dalam jam’iyyah bisa saja ada ruang gelap yang harus diterangi dan dibenahi,” ujar Zaenal.

Di akhir pertemuan, Abuya Muhtadi hanya menyampaikan satu pesan singkat kepada Gus Yahya. Pesan itu disampaikan lugas dan tanpa penjelasan panjang. “Laksanakan sesuai AD/ART NU,” ucap Zaenal menirukan pesan Abuya.

Tak lama setelah pertemuan tersebut, Syuriyah PBNU menerbitkan Risalah Rapat Harian. Rais Aam PBNU bersama para Wakil Rais Aam mengambil sejumlah keputusan strategis yang berdampak langsung pada kepemimpinan PBNU. Salah satu sorotan utama adalah pelaksanaan Akademi Kader Nasional NU yang dinilai menghadirkan narasumber dengan afiliasi jaringan Zionisme.

Syuriyah menilai kegiatan tersebut bertentangan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta Muqaddimah Qanun Asasi NU. Selain itu, Syuriyah juga menyoroti tata kelola keuangan PBNU. Mereka menilai terdapat indikasi pelanggaran syariat, pelanggaran AD/ART, serta potensi risiko terhadap status badan hukum organisasi.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam meminta Ketua Umum PBNU mengundurkan diri dalam batas waktu tiga hari. Jika permintaan itu tidak dipenuhi, Syuriyah menyatakan akan memberhentikan Ketua Umum PBNU dari jabatannya.

Zaenal Abidin menekankan, polemik ini tidak bisa dipersempit sebagai konflik personal antarfigur. Menurutnya, persoalan tersebut menyentuh prinsip dasar organisasi dan marwah NU sebagai jam’iyyah diniyah ijtima’iyah.

“Ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal perbedaan tafsir tentang bagaimana NU dijalankan sesuai khittah dan konstitusinya,” ujar Zaenal.

Ia juga membandingkan suasana berbeda ketika Abuya Muhtadi menerima silaturahim KH Zulfa Musthofa, sehari setelah ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU pada Kamis, 11 Desember 2025. Pertemuan itu berlangsung hangat dan penuh canda, tanpa syair bernada sindiran.

Dalam kesempatan tersebut, KH Zulfa membuka silaturahim dengan syair penghormatan kepada Bani Dimyath dan NU. Abuya Muhtadi kemudian menyampaikan pesan kebangsaan yang tegas.

“Pesannya sederhana. Jangan cekcok. Amankan negara. Amankan negara. Amankan negara,” kata Zaenal.

Pesan itu ditujukan kepada seluruh warga NU agar dinamika internal tidak melemahkan peran strategis NU dalam menjaga stabilitas umat dan bangsa. Dinamika kepemimpinan PBNU ini berlangsung menjelang peringatan satu abad Masehi NU pada 31 Januari 2026. Banyak pihak berharap polemik ini dapat diselesaikan secara arif, konstitusional, dan bermartabat demi menjaga persatuan jam’iyyah dan keutuhan bangsa.