KILAS BANTEN – Dindikbud Kota Serang mengungkap tabir sebuah luka sosial yang dalam, di balik data anak putus sekolah di Kota Serang.
Bukan sekadar tak mampu membayar SPP, banyak anak terpaksa berhenti menuntut ilmu karena tak kuat menanggung malu dan perundungan (bullying) dari teman-temannya, hanya karena tak punya uang untuk sekadar jajan di kantin.
Fakta memilukan ini menjadi pukulan telak yang dijawab langsung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Serang dengan gebrakan kebijakan masif.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Tak tanggung-tanggung, Pemkot menyiapkan dua jurus andalan yakni uang saku bulanan sebesar Rp500.000 per siswa dan alokasi anggaran fantastis Rp16 miliar untuk pengadaan seragam gratis.
Langkah ini menegaskan keseriusan Pemkot dalam memerangi akar kemiskinan yang menghalangi hak anak untuk belajar, sekaligus menjadi bagian dari realisasi visi Kota Serang Madani yang dicanangkan pemerintah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, TB Suherman, menyebut langkah awal telah membuahkan hasil dengan kembalinya 153 anak ke bangku sekolah.
“Ketika mereka putus sekolah karena tidak punya uang jajan, kita usahakan melalui BJB dikasih dana tabungan Rp500.000 per siswa,” kata Suherman, Senin 11 Agustus 2025.
Menurut Suherman, intervensi ini dirancang setelah timnya turun langsung ke lapangan dan menemukan tiga lapisan masalah yang saling terkait.
Pertama adalah kemiskinan struktural, di mana orang tua benar-benar tidak sanggup memberikan uang saku. Kedua, yang lebih menyakitkan, adalah dampak sosial dari kemiskinan itu.
Halaman : 1 2 Selanjutnya















