Dalam workshop tersebut, dosen Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA), Ahmad Muchlishon, memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Ia menyebutkan bahwa 87 persen mahasiswa mengaku salah jurusan. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen mengalami penurunan motivasi belajar.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Muchlishon menegaskan bahwa data ini harus menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan. Ia menilai salah satu penyebab utama adalah minimnya asesmen minat dan bakat sejak dini. Selain itu, faktor eksternal seperti tekanan keluarga, pengaruh teman sebaya, dan tren sosial juga turut memengaruhi keputusan siswa.
Untuk menjawab persoalan tersebut, ia memperkenalkan metode RIASEC. Pendekatan ini membantu siswa memahami minat berdasarkan enam tipe kepribadian, yaitu Realistic, Investigative, Artistic, Social, Enterprising, dan Conventional. Dengan metode ini, siswa diharapkan dapat lebih mengenali potensi diri sebelum menentukan jurusan.
Selain isu salah jurusan, workshop ini juga membahas pentingnya daya saing. Muchlishon menekankan bahwa persaingan masuk perguruan tinggi semakin ketat. Oleh karena itu, siswa perlu mempersiapkan diri dengan baik, baik dari sisi akademik maupun non-akademik.
Ia mendorong Guru BK untuk aktif membimbing siswa dalam mengembangkan kompetensi sejak dini. Menurutnya, kesiapan ini menjadi kunci agar siswa mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Pada kesempatan yang sama, UIN SMH Banten turut memperkenalkan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) sebagai salah satu fakultas unggulan. Fakultas ini memiliki visi menjadi pusat integrasi keilmuan Ushuluddin dan Adab di Asia Tenggara pada 2029.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















