Gemuruh Cap Go Meh 2577/2026 di Vihara Metta Serang, FKUB Kota Serang Tancap Gas Perkuat Toleransi Banten

Kilas Banten
3 Mar 2026 22:56
Serang 0
5 menit membaca

KILAS BANTEN – Perayaan Cap Go Meh 2577/2026 di Vihara Metta Serang, Kota Serang, Selasa 3 Maret 2026, berlangsung semarak dan sarat makna. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang bersama perwakilan komunitas GUSDURian Serang Raya hadir langsung dalam perayaan tersebut. Kehadiran lintas agama ini menjadi simbol kuat penguatan toleransi di Ibukota Provinsi Banten.

 

Rangkaian acara dimulai dengan suasana khidmat. Umat Buddha dan masyarakat Tionghoa mengikuti puncak perayaan Tahun Baru Imlek dengan penuh sukacita. Pertunjukan barongsai menyedot perhatian tamu undangan. Tokoh agama dari berbagai latar belakang duduk berdampingan. Mereka menyaksikan setiap penampilan dengan antusias.

 

Sekretaris FKUB Kota Serang, Haji Ucu Syuhada, menegaskan bahwa kehadiran FKUB bukan sekadar formalitas. Ia menyebut partisipasi tersebut sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Serang.

 

“Atas nama Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Serang, saya selaku sekretaris mengucapkan gong xi fa cai,” ujarnya.

 

Haji Ucu mengaku mendapat pemahaman baru setelah menghadiri langsung perayaan Cap Go Meh. Ia merasakan suasana kebersamaan yang kuat di tengah perbedaan keyakinan.

 

“Secara pribadi saya baru memahami lebih dalam tentang Cap Go Meh ini. Tetapi luar biasa ketika kita hadir bersama-sama. Suasana toleransi dan moderasi antarumat beragama betul-betul terasa,” katanya.

 

Ia menambahkan, FKUB yang hadir tidak hanya diwakili unsur Islam. Perwakilan Katolik, Kristen, dan Hindu juga turut berpartisipasi. Menurutnya, kehadiran lengkap lintas agama tersebut menjadi pesan penting bahwa Kota Serang mampu merawat keberagaman secara dewasa.

 

Perwakilan FKUB dari unsur Kristen, Listen Finantius Sitorus, menilai perayaan Cap Go Meh tahun ini memberi ruang dialog yang sehat antarumat beragama. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai momentum membangun kebersamaan.

 

“Menurut saya, acara Cap Go Meh ini sangat membangun kebersamaan kita. Kegiatan yang disuguhkan cukup menarik dan membuat kita memahami bahwa perayaan ini bisa menjadi milik bersama, bukan hanya satu agama saja,” ujarnya.

 

Ia menyebut pengalaman itu sebagai momen membahagiakan. Ia berharap kegiatan lintas iman seperti ini terus digelar secara konsisten. Dengan begitu, toleransi di Kota Serang tidak hanya menjadi wacana, tetapi menjadi praktik nyata.

 

Delegasi FKUB dari Gereja Katolik Kristus Raja Serang, Thomas Budi Haryanto, juga menyampaikan pesan serupa. Ia mengucapkan selamat Cap Go Meh kepada umat Buddha yang merayakan.

 

“Kami mengucapkan selamat Cap Go Meh dan selamat toleransi untuk Kota Serang. Harapan kami, masyarakat semakin mengenal seni dan budaya setiap agama sehingga lahir kerukunan dan kedamaian, khususnya di Kota Serang dan Provinsi Banten,” katanya.

 

Thomas menegaskan bahwa Indonesia berdiri di atas dasar Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Nilai tersebut, kata dia, harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dengan saling menghadiri dan menghormati perayaan keagamaan.

 

Perwakilan umat Hindu di FKUB Kota Serang, Ketut Monjong, mengaku terkesan dengan suasana Cap Go Meh di Vihara Metta. Ia menilai partisipasi lintas agama memperlihatkan wajah Banten yang damai.

 

“Kami dari perwakilan Hindu merasa bangga bisa berpartisipasi dalam agenda yang dirayakan umat Buddha. Suasananya meriah dan berkesan. Kita bisa bersama-sama ikut memeriahkan hari penutup rangkaian Imlek ini,” ujarnya.

 

Sementara itu, Pemuka Agama Buddha Vihara Metta Serang, Romo Yurri Sugiharto, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran FKUB dan komunitas lintas agama. Ia menegaskan, baru kali ini FKUB Kota Serang hadir langsung dalam perayaan Cap Go Meh di vihara tersebut.

 

“Kami dari Vihara Metta hari ini mengadakan acara Cap Go Meh Imlek 2577/2026. Baru sekali ini FKUB Kota Serang menghadiri acara Cap Go Meh bersama. Kami merasa sangat senang. Terasa sekali persaudaraan dan kerukunan di Kota Serang ini,” ujar Romo Yurri.

 

Ia berharap kebersamaan tersebut terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Ia ingin perayaan Imlek dan Cap Go Meh berikutnya kembali menjadi ruang perjumpaan lintas agama.

 

“Semoga tahun-tahun berikutnya kita bisa kembali melaksanakan acara Imlek dan Cap Go Meh ini bersama-sama dengan FKUB Kota Serang. Dengan begitu hubungan kita semua semakin erat,” katanya.

 

Cap Go Meh sendiri merupakan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Perayaan ini menjadi puncak rangkaian Imlek dan identik dengan doa, refleksi, serta ungkapan syukur. Di berbagai daerah di Indonesia, Cap Go Meh diramaikan dengan pertunjukan budaya seperti barongsai dan atraksi seni tradisional.

 

Di Kota Serang, perayaan Cap Go Meh 2577/2026 memiliki makna lebih luas. Momentum ini memperlihatkan bahwa moderasi beragama dapat diwujudkan melalui kehadiran nyata, bukan hanya diskusi formal. FKUB dan GUSDURian Serang Raya menunjukkan bahwa ruang-ruang kebersamaan harus terus dibuka.

 

Kehadiran tokoh agama lintas iman dalam satu perayaan menjadi pesan kuat bagi masyarakat. Perbedaan tidak menjadi penghalang untuk bersatu. Justru keberagaman menjadi fondasi untuk membangun kedamaian dan stabilitas sosial.

 

Perayaan Cap Go Meh di Vihara Metta Serang tahun ini mencatat sejarah tersendiri. Kota Serang menunjukkan bahwa toleransi antarumat beragama dapat tumbuh melalui interaksi langsung, saling menghormati, dan komitmen bersama.

 

Semangat Cap Go Meh 2577/2026 diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Nilai persaudaraan yang terbangun diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan sosial masyarakat Banten. Dengan kolaborasi lintas agama yang terus dijaga, Kota Serang berpeluang menjadi contoh praktik toleransi dan kerukunan di tingkat daerah maupun nasional.