Opini Ketika Negara Sibuk Menghitung Angka, Rakyat Menghitung Sisa Uang ditulis oleh Taufik Hidayat, senior advisor GUSDURian Serang Raya, Presidium Forum Komunikasi Pemuda Lintas Iman (FOKAPELA) Banten, dan IKA PMII UIN SMH Banten
Secara akademik, fenomena ini dikenal sebagai cost push inflation, yaitu inflasi yang muncul akibat kenaikan biaya produksi. Ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun. Pendapatan yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan menjadi semakin terbatas.
Ironisnya, kenaikan BBM sering kali dibenarkan dengan alasan menjaga kesehatan fiskal negara. Namun masyarakat akan mempertanyakan keputusan tersebut ketika di saat yang sama masih ditemukan kebocoran anggaran akibat korupsi.
Rupiah Melemah dan Ketergantungan Ekonomi yang Belum Tuntas
Pelemahan rupiah juga memberikan tekanan tambahan. Ketika nilai tukar melemah terhadap dolar Amerika Serikat, harga barang impor menjadi lebih mahal. Indonesia masih bergantung pada berbagai komoditas dan bahan baku impor untuk sektor industri.
Akibatnya, biaya produksi dalam negeri ikut meningkat. Dunia usaha menghadapi tekanan yang lebih besar. Investor menjadi lebih berhati-hati. Pada akhirnya masyarakat kembali menjadi pihak yang menanggung konsekuensi melalui kenaikan harga barang.
Dalam perspektif ekonomi makro, pelemahan rupiah menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional masih menghadapi tantangan struktural. Ketergantungan terhadap impor energi, bahan baku industri, dan pembiayaan luar negeri membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap gejolak global.
Karena itu, solusi jangka panjang tidak cukup hanya melalui intervensi pasar atau kebijakan moneter. Negara perlu memperkuat sektor manufaktur, meningkatkan hilirisasi industri, serta mendorong kemandirian energi nasional.