Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral di Tengah Zaman Bising, opini ini ditulis oleh Joko Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.
Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya lebih sibuk membangun citra dibandingkan membangun gagasan. Aktivitas sosial terkadang hanya dijadikan konten, sementara diskusi-diskusi kritis mulai kehilangan tempat. Padahal, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai jembatan antara idealisme dan realitas sosial.
Tanggung jawab moral mahasiswa bukan hanya soal turun ke jalan atau menyampaikan kritik kepada pemerintah. Lebih dari itu, tanggung jawab moral berarti keberanian menjaga nilai kejujuran, kepedulian, serta keberpihakan kepada kebenaran di tengah lingkungan yang sering kali permisif terhadap manipulasi informasi. Mahasiswa perlu menjadi kelompok yang mampu berpikir jernih ketika masyarakat mudah terprovokasi oleh potongan video, judul sensasional, ataupun opini yang belum tentu benar.
Hari ini, masyarakat membutuhkan suara yang menenangkan, bukan sekadar suara yang paling keras. Mahasiswa seharusnya mampu menghadirkan gagasan yang mencerdaskan, bukan ikut memperkeruh keadaan. Ketika media sosial dipenuhi hujatan dan polarisasi, mahasiswa justru perlu menunjukkan etika dalam berdiskusi dan kedewasaan dalam menyampaikan pendapat.
Tentu bukan hal mudah menjaga idealisme di tengah tekanan ekonomi, tuntutan akademik, dan pengaruh lingkungan digital yang begitu kuat. Namun justru dalam keadaan itulah integritas diuji. Sebab pendidikan tinggi pada dasarnya bukan hanya membentuk seseorang menjadi pintar, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab kemanusiaan.