DPAD Kota Tangerang menggelar pelatihan hand bucket di Kampung Jimpitan KB2, Batuceper. Program perpustakaan inklusi sosial ini mendorong warga lebih kreatif dan membuka peluang usaha rumahanKILAS BANTEN – Perpustakaan kini tidak lagi sekadar tempat membaca buku. Di Kota Tangerang, perpustakaan mulai bertransformasi menjadi ruang kreativitas dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Hal itu terlihat dalam kegiatan Pelatihan Hand Bucket yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tangerang di Kampung Jimpitan KB2, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini bertujuan menghadirkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang lebih modern, kreatif, dan produktif.
Sejak pagi, suasana lokasi pelatihan tampak ramai. Warga dari berbagai usia terlihat antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan hand bucket. Mereka belajar menyusun rangkaian hiasan, memilih bahan, hingga membuat desain menarik yang memiliki nilai jual.
Kepala DPAD Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi, mengatakan pelatihan tersebut menjadi salah satu langkah nyata pemerintah dalam meningkatkan keterampilan masyarakat melalui kegiatan yang aplikatif.
Menurutnya, hand bucket saat ini menjadi produk kerajinan yang cukup diminati. Selain digunakan sebagai hadiah, produk tersebut juga memiliki peluang pasar yang terus berkembang.
“Peserta belajar membuat hand bucket menggunakan berbagai bahan dan dekorasi kreatif. Keterampilan ini bisa menjadi peluang usaha mandiri bagi masyarakat,” ujar Engkos, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan, perpustakaan saat ini harus mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Karena itu, konsep perpustakaan tidak lagi hanya fokus pada aktivitas membaca, tetapi juga menjadi ruang pengembangan kreativitas dan keterampilan warga.
Program TPBIS sendiri dinilai mampu mendekatkan perpustakaan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Melalui berbagai pelatihan kreatif, warga mendapatkan akses pengetahuan sekaligus peluang untuk meningkatkan produktivitas ekonomi keluarga.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pelatihan terlihat hangat dan interaktif. Para peserta saling bertukar ide dan berbagi pengalaman saat menyusun hand bucket. Beberapa peserta bahkan mengaku tertarik mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha rumahan.
DPAD Kota Tangerang menilai pelatihan seperti ini penting untuk mendorong lahirnya masyarakat yang kreatif dan mandiri. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendekatan yang sederhana dan dekat dengan kebutuhan warga.
Engkos menambahkan, program pelatihan kreatif akan terus digelar secara bergilir di berbagai wilayah Kota Tangerang. Tidak hanya hand bucket, DPAD juga menghadirkan pelatihan lain seperti ecoprint dan keterampilan kreatif lainnya.
“DPAD Kota Tangerang rutin mendatangi perpustakaan di berbagai wilayah untuk menghadirkan pelatihan kreatif. Harapannya, masyarakat memiliki keterampilan baru yang bisa dimanfaatkan menjadi peluang penghasilan tambahan,” katanya.
Program perpustakaan berbasis inklusi sosial kini mulai mendapat respons positif dari masyarakat. Banyak warga berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas karena dinilai memberikan manfaat nyata, terutama bagi ibu rumah tangga dan generasi muda yang ingin memiliki keterampilan produktif.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa perpustakaan mampu berkembang menjadi pusat aktivitas sosial yang lebih luas. Tidak hanya menghadirkan pengetahuan, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan menciptakan peluang ekonomi baru.***