GEDUNG KAMPUS 2 UIN SMH BANTENKILAS BANTEN – Dinamika kepemimpinan Ikatan Alumni (IKA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali membuka ruang dialektika. Sejumlah alumni mulai secara terbuka menyampaikan sikap terkait polemik kepengurusan organisasi alumni tersebut. Salah satunya datang dari Mohamad Zidni Assalam yang menilai Husni Mubarok sangat layak memimpin IKA UIN Banten.
Menurut Zidni, kepemimpinan Husni Mubarok, selain legal, dinilai lebih memiliki legitimasi moral dan arah organisasi yang jelas untuk kepentingan alumni secara luas. Sementara itu, langkah-langkah yang dilakukan Bahrul Ulum belakangan ini dianggap justru memicu polemik karena dinilai mencoba mengganggu keputusan organisasi yang sudah berjalan.
“Saya melihat Husni Mubarok hadir dengan gagasan yang konkret dan fokus membangun alumni. Sedangkan manuver yang dilakukan Bahrul Ulum justru terkesan ingin mendongkel keputusan yang ada secara the jure dan the facto,” ujar Zidni, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menilai, organisasi alumni membutuhkan stabilitas dan kepemimpinan yang mampu menyatukan alumni, bukan membuka kembali konflik internal yang dapat menghambat program-program organisasi.
Menurut Zidni, berbagai langkah yang dilakukan Husni Mubarok menunjukkan keseriusan membangun ekosistem alumni yang produktif dan bermanfaat. Mulai dari rencana pengukuhan kepengurusan yang terintegrasi dengan job fair, bazar UMKM alumni, hingga konsolidasi nasional antarlulusan dinilai sebagai bentuk langkah awal yang baik dalam menyusun langkah yang dibutuhkan alumni saat ini.
“IKA jangan hanya jadi panggung politik atau ruang perebutan pengaruh. Alumni hari ini butuh akses saluran produktif, pengembangan SDM, jaringan profesional, dan kolaborasi nyata. Saya melihat Husni memahami kebutuhan itu,” katanya.
Di sisi lain, Zidni tetap mengakui kapasitas Bahrul Ulum sebagai tokoh politik dan Ketua DPRD Kabupaten Serang. Namun, ia menilai pendekatan yang dibangun Bahrul lebih dominan pada pencitraan politik dibanding penguatan sistem organisasi alumni secara substantif.
Bahkan, menurut sebagian alumni, langkah-langkah yang dilakukan Bahrul Ulum dinilai tidak memiliki dasar organisatoris yang kuat dan berpotensi menimbulkan kesan adanya upaya ilegal untuk mengambil alih atau membatalkan keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya di internal IKA.
“Kalau keputusan organisasi sudah ada dan sudah berjalan, seharusnya semua pihak menghormati mekanisme itu. Jangan sampai muncul kesan ada kepentingan politik yang memaksakan perubahan di luar kesepakatan organisasi,” tegas Zidni.
Menurut Zidni, alumni muda berharap IKA UIN SMH Banten dipimpin oleh figur yang fokus bekerja membangun solidaritas alumni, bukan memperpanjang konflik internal.
“Menurut saya, kepemimpinan IKA bukan soal siapa yang paling kuat secara politik, tetapi siapa yang paling mampu menghadirkan manfaat nyata dan menjaga marwah organisasi. Dalam konteks itu, Husni Mubarok, kami nilai sangat representatif memimpin IKA UIN SMH Banten ke depan,” pungkasnya.***
