Serang

Tragis! 9 Jiwa di Pabuaran Bertahan di Rumah Nyaris Ambruk, Lansia Sakit Terlantar Tanpa Perawatan

Kondisi rumah milik Kusnadi di Pabuaran, Serang, yang nyaris roboh dan dihuni sembilan anggota keluarga dalam keterbatasan, Sabtu, 4 April 2026
Kondisi rumah milik Kusnadi di Pabuaran, Serang, yang nyaris roboh dan dihuni sembilan anggota keluarga dalam keterbatasan, Sabtu, 4 April 2026

KILAS BANTEN – Potret kemiskinan ekstrem kembali mencuat di Kabupaten Serang, Banten. Sebuah keluarga yang terdiri dari sembilan jiwa di Kampung Jelupang Wetan, Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, hidup dalam kondisi memprihatinkan di rumah yang nyaris ambruk.

 

Bangunan yang mereka tempati sudah tidak layak huni. Dinding rumah terlihat lapuk dan rapuh. Atapnya bocor di banyak titik. Saat hujan turun, air langsung masuk ke dalam rumah tanpa hambatan. Penghuni harus meletakkan ember dan wadah di berbagai sudut untuk menampung air agar tidak menggenangi lantai.

 

Seluruh anggota keluarga tinggal dalam ruang sempit yang terasa pengap dan lembap. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena dua orang lanjut usia juga tinggal di dalam rumah tersebut. Salah satu lansia kini dalam kondisi sakit parah dan hanya bisa terbaring lemah tanpa mendapatkan perawatan medis yang memadai.

Perubahan APBD Kota Serang 2026, Budi Rustandi Dorong Belanja Lebih Tepat Sasaran

 

Keterbatasan ekonomi menjadi penyebab utama kondisi tersebut. Keluarga ini tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumah atau mengakses layanan kesehatan. Mereka hanya bisa bertahan dengan kondisi seadanya di tengah keterbatasan.

 

Warga sekitar mengaku prihatin dengan kondisi keluarga tersebut. Mereka berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait. “Kami berharap ada bantuan segera. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan, apalagi ada lansia yang sakit,” ujar salah satu warga.

 

Revisi Perda PUK Kota Serang Belum Dibahas, Pansus Siapkan Konsultasi ke Dua Kementerian

Rumah tersebut diketahui milik Kusnadi yang beralamat di RT 05/02 Kampung Jelupang Wetan. Kondisi bangunan semakin memburuk setelah diterpa hujan deras disertai angin kencang. Peristiwa itu menyebabkan sebagian struktur rumah roboh dan memperparah kerusakan yang sudah ada.

 

Pemerintah daerah melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Serang telah melakukan peninjauan ke lokasi. Kepala Bidang Perumahan Perkim, Aang Khahar Mujakir, menyatakan pihaknya sudah melakukan asesmen terhadap kondisi rumah tersebut.

 

“Kami sudah melakukan asesmen dan melaporkan hasilnya kepada pimpinan. Perlu diketahui bahwa bantuan pemerintah bersifat stimulan,” ujar Aang, Sabtu, 4 April 2026.

ASN Pemkab Serang Tumpah Ruah, Lomba HUT ke-81 RI Berlangsung Meriah, Perkuat Kekompakan dan Sinergi Antar-OPD

 

Ia menjelaskan, bantuan dari pemerintah umumnya hanya berupa stimulan atau dorongan awal. Bantuan tersebut tidak menanggung seluruh biaya perbaikan. Karena itu, penerima bantuan diharapkan dapat melakukan swadaya. Namun dalam kasus ini, keluarga Kusnadi tidak memiliki kemampuan finansial untuk melakukan hal tersebut.

 

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan jiwa penghuni. Rumah yang nyaris roboh berpotensi membahayakan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

 

Peristiwa ini juga mencerminkan masih adanya kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat. Program bantuan rumah tidak layak huni dinilai perlu diprioritaskan bagi keluarga dengan kondisi serupa agar risiko yang lebih besar dapat dicegah.

 

Selain itu, akses layanan kesehatan juga menjadi kebutuhan mendesak. Lansia yang sakit membutuhkan penanganan medis segera agar kondisinya tidak semakin memburuk.

 

Warga berharap pemerintah daerah tidak hanya memberikan bantuan stimulan, tetapi juga menghadirkan solusi yang lebih komprehensif. Skema bantuan penuh dinilai penting bagi keluarga yang benar-benar tidak mampu.

 

Hingga kini, keluarga tersebut masih bertahan di rumah yang rawan roboh. Mereka menjalani hari-hari dalam keterbatasan, sambil menunggu kepedulian dan bantuan nyata dari berbagai pihak. Kisah ini menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan ekstrem dan membutuhkan perhatian segera.***

× Advertisement
× Advertisement